
Bimo memesankan makanan untuk Dina, ia masih ingat betul apa yang disukai Dina. Semua yang menjadi kesukaan Dina ia masih ingat. Setelah memesankan makanan untuknya dan untuk Dina ia kembali ke tempat duduknya.
Dina hanya diam menatap sekeliling, menikmati suasana yang tidak pernah ia tahu selama ini. Menikmati suasana jauh dari rumah dengan segala keunikan tempat dan orang-orangnya.
Hal yang seperti inilah yang Dina inginkan, bisa bebas keluar rumah, menikmati segala sesuatu yang ingin ia lihat. Dina bagai burung yang lepas dari sangkarnya.
Menikmati kebebasan, bebas melakukan apa saja tanpa meminta ijin, bebas pergi kemana saja tanpa ada yang bertanya mau kemana dan dengan siapa.
Bimo hanya memperhatikan Dina yang sedang menatap sekeliling dengan binar matanya. Ia tahu bagaimana Dina selama ini. Dina yang jarang keluar rumah, Dina yang tidak tahu dunia luar seperti apa.
Dina yang selalu patuh pada kedua orang tuanya. Dina yang hanya menghabiskan waktunya dengan belajar. Sungguh membosankan hidup Dina.
Pesanan Bimo datang, pelayan meletakkan pesanan Bimo di meja.
"memangnya selain nasi tidak ada mas?" tanya Dina setelah melihat makanan yang diantar oleh pelayan tadi.
"memangnya mau makan apa? Bakso?" tanya Bimo tersenyum teduh
"sebenarnya iya mas...tapi sudah terlanjur ada ayam bakar ya sudah tidak apa-apa" ucap Dina dengan senyum cerianya
"kalau kamu mau makan bakso, nanti ya...sekarang makan nasi dulu, aku takut kamu sakit kalau tidak makan nasi Din..." ucap Bimo lembut
Bimo berusaha menahan rasa bahagianya karena Dina mulai berbicara lebih santai dari sebelum-sebelumnya. Ia sadar jika ia terlalu memaksa Dina, maka Dina akan berusaha membuat batas dengannya.
Hari ini membuktikan bahwa, dengan dia membiarkan Dina melakukan apa yang ia suka membuat Dina bersikap lebih baik kepadanya. Ia akan berusaha lebih mengalah lagi dan mengikuti apa kemauan Dina.
Mereka berdua makan dalam diam. Tidak seperti biasanya, Bimo berusaha makan lebih cepat agar bisa mengimbangi Dina yang selalu mekan cepat.
"kamu mau pulang kapan Din?" tanya Bimo memecah keheningan
"entah...mungkin sore ini atau besok pagi..." ucap Dina sambil meminum es jeruknya
"hmmm....mungkin kamu mau pulang bareng aku? Aku bawa motor" ucap Bimo berharap Dina akan mengiyakan tawarannya.
"lihat nanti sajalah mas..." ucap Dina santai
Bimo tidak berani bertanya lebih jauh lagi, karena jika ia bertanya lebih maka Dina akan menjauh darinya.
__ADS_1
"habis ini mau kemana lagi?" tanya Bimo
"aku mau berkeliling sebentar mas...tapi kok panas ya.." ucap Dina melihat sekeliling
"nanti sore saja bagaimana?" tanya Bimo berharap agar Dina mau ia ajak jalan-jalan menikmati kota J di malam hari
"hmmm...lihat nanti ya mas..." ucap Dina santai tidak melihat raut wajah Bimo yang berubah
Bimo menghela nafasnya "baiklah...kamu istirahat saja dulu, nanti sore aku ke kosmu lagi" ucap Bimo berusaha menutupi rasa kecewanya.
Mereka berdua 'pun pulang, Bimo melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia ingin berlama-lama berboncengan dengan Dina. Dina hanya diam tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Sesampainya di depan kos Dina, Dina turun dari boncengannya Bimo.
"terima kasih mas..." ucap Dina tulus
"iya...nanti sore aku ke sini lagi, kamu istirahat dulu" ucap Bimo dengan tatapan teduhnya
Dina masuk ke kosnya tanpa menoleh lagi ke Bimo. Bimo mengehela nafasnya, melihat sikap Dina yang kembali lagi acuh terhadapnya. Setelah memastikan Dina masuk ke dalam kosnya, Bimo pulang ke kosnya.
Setelah memastikan Bimo pergi dari kosnya, Dina merebahkan tubuhnya di kasurnya.
Dina mencoba untuk memejamkan matanya, setengah jam berlalu tapi ia tak kunjung bisa tertidur. Pikiran dan hatinya tidak tenang, ia merindukan Dendy.
Akhirnya Dina memutuskan untuk pulang ke kota K. Dina merapikan kamar kosnya, kemudian ia mengemasi barang-barang yang hendak ia bawa pulang.
Setelah selesai, dan memastikan kamarnya telah rapi dan bersih Dina keluar kamarnya. Kos tampak sepi, ia tidak bisa pamit kepada siapapun. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari rumah kosnya.
Dina berjalan ke arah jalan raya yang berjarak hanya seratus meter dari kosnya. Sesampainya di jalan raya ia menunggu bis tujuan kotanya. Tak sampai lima menit menunggu, bis yang ia tunggu telah datang.
Selama perjalanan hatinya campur aduk. Ia merindukan Dendy tapi ia juga mengingat Bimo. Apapun yang terjadi ia akan berusaha mempertahankan Dendy karena ia sudah telanjur nyaman dengannya, terlepas dari semua yang telah terjadi di antara mereka berdua.
Setiap kesalahan yang telah Dendy lakukan, ia bisa memperbaikinya. Terlebih keluarga Dendy yang begitu baik dan menerimanya. Ia seperti menemukan keluarga kedua.
Ia juga menyadari Dendy seperti itu mungkin karena ia memang masih labil, dan juga Dina yang terlalu sibuk dengan belajarnya sehingga sedikit mengabaikan Dendy yang tidak bisa sedikitpun jauh darinya.
Dua jam perjalanan, Dina telah sampai di terminal. Untuk sampai di rumahnya ia masih harus naik bis umum satu kali lagi. Lima belas menit perjalanan ia telah sampai di rumahnya. Ia disambut oleh adik-adiknya.
__ADS_1
Sebenarnya ia ingin langsung ke rumah Dendy, tapi hari sudah sore pasti ia tidak akan diijinkan oleh papanya.
.
Keesokan harinya, setelah membantu mamanya membereskan rumah dan memasak, Dina berpamitan ke mamanya, ia beralasan ingin ke studio.
Dina sampai di studio, di sana hanya ada Alex. Ia tak tega meninggalkan Alex sendirian. Ia pun menemani Alex siaran, karena sejak semua kuliah hanya Alex sendiri lah yang mengurus studio.
"Lex...aku tidak bisa lama ya...aku ada janji..." pamit Dina
"aku tahu...pasti mau ke rumah camer kan? " Alex terkekeh
"aku usahakan setiap sabtu pagi ke sini..." ucap Dina tak enak hati
"iya...iya...tidak apa-apa..." Alex tersenyum
Setelah meninggalkan studio, Dina bergegas ke rumah Dendy. Ia tahu Dendy pasti belum pulang. Ia sudah berjanji akan memberikan kejutan untuk Dendy.
"siang tante..." sapa Dina waktu sampai di depan rumah Dendy
"eh...Dina...kapan kamu pulang?" tante Tari bergegas membukakan pintu untuk Dina
"kemarin sore tante..." ucap Dina tersenyum ceria
"ah...kebetulan kamu datang, ayo temani tante memasak..." mamanya Dendy menarik Dina masuk ke dalam rumah.
"Rio belum pulang tante?" tanya Dina mengikuti mamanya Dendy yang berjalan ke dapur
"Rio sedang main...biasa anak-anak" mamanya Dendy mengambil bahan masakan yang akan ia masak.
Dina dengan senang hati membantu mamanya Dendy memasak. Ia senang dianggap seperti anak sendiri oleh mamanya Dendy.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g