
Mereka berlima telah selesai makan, Gilang Krisna dan Adi mengucapkan terima kasih kepada Dendy, tak lupa mereka juga mendoakan agar hubungan mereka bisa bertahan lama.
Sekonyol-konyolnya tingkah laku mereka, tapi mereka masih punya sisi serius terbukti mereka mendoakan Dendy dan Dina. Mereka bertiga keluar restoran mendahului Dendy dan Dina yang masih duduk berdua di dalam restoran.
"Din, aku masih enggak percaya kamu mau menerimaku"
"memangnya kenapa?" Dina mengerutkan dahinya
"aku pernah melihat mantanmu yang tempo hari boncengin kamu, dia begitu sempurna bahkan kalian terlihat serasi" ucap Dendy menunduk ada sedikit rasa sesak di dadanya ketika dia mengucapkan hal itu
"Dia masa lalu Den, yang tidak perlu kita bahas sekarang" ucap Dina agak sedikit kesal karena Dendy membahas masalah Toni
"aku hanya penasaran Din, enggak boleh aku bertanya seperti itu? Jujur aku minder" ucap Dendy masih belum berani menatap Dina
"kenapa harus minder Den, aku sudah bilang kita jalani saja dulu, aku bukan tipe cewek yang melihat seseorang dari fisik, selama aku nyaman ya sudah aku jalani, tapi ketika aku tidak nyaman ya aku tinggalkan" terang Dina
"aku boleh tanya sesuatu?" Dendy menoleh ke arah Dina
"apa Den?"
"kalau boleh tahu kenapa kamu putus dengannya?" tanya Dendy hati-hati takut menyinggung Dina
Dina menghela nafasnya, sebenarnya dia enggan menjawab pertanyaan Dendy. Tapi kalau dia tidak menjawabnya, dia takut akan menjadi masalah kedepannya.
"dia lebih mementingkan teman-temannya, lebih mendengarkan apa yang dikatakan teman-temannya itu intinya" Dina kembali menghela nafasnya "suatu saat aku akan bercerita tentang semuanya, tentang masa laluku kenapa aku sampai trauma berpacaran"
"terima kasih telah jujur kepadaku Din" ucap Dendy menggenggam tangan kiri Dina
"aku hanya tidak ingin masa laluku menjadi masalah dalam hubungan kita kelak" Dina tersenyum membelai tangan Dendy yang menggenggam tangan kirinya
"sepertinya kamu bakal terlambat masuk kelas Din" ucap Dendy sambil memperlihatkan jam yang ada di pergelangan tangan kirinya
"sebenarnya aku sedang malas, jenuh, capek makanya aku tadi memilih jalan kaki, tapi kalau bolos takut malah jadi masalah" Dina menghela nafasnya kemudian terkekeh
"aku antar kamu sekarang saja ya, takut kena marah gurumu nanti" ucap Dendy bangkit berdiri dan memakai jaketnya
"iya Den, sekarang juga aku sudah telat lima menit masuk kelas" Dina terkekeh mengikuti Dendy bangkit berdiri.
Mereka keluar dari resto bergandengan tangan. Senyum bahagia terpancar dari mereka berdua. Meski Dina masih belum yakin akan perasaannya kepada Dendy, tapi beberapa hari jadi pacarnya Dendy, Dina diperlakukan lembut oleh Dendy. Hal yang belum pernah dia rasakan dengan pacar-pacarnya terdahulu.
.
__ADS_1
.
Di sekolah, Yuni mendadak cemas karena Dina masih belum masuk kelas. Meski gurunya belum datang tapi dia sudah bingung mencari keberadaan Dina. Yuni keluar kelas melongok ke arah pintu gerbang kemudian masuk kelas lagi. Sudah berkali-kali dia begitu.
Putra yang dari tadi melihat mondar-mandir keluar masuk kelas jadi heran. Tumben sekali Yuni cemas saat Dina belum juga datang, padahal tempo hari waktu Dina sakit saja dia terlihat santai.
"kamu dari tadi mondar-mandir ada apa sih Yun?" tanya Putra
"Dina belum datang, enggak biasa dia telat lama begini" jawab Yuni sedikit cemas
"tadi aku lihat dia boncengan sama cowok" ucap Putra
"siapa Put? Toni?" tanya Yuni penasaran
"bukan...aku enggak tahu siapa, sepertinya bukan anak sekolah kita" ucap Putra memberitahu apa yang tadi dia lihat waktu istirahat "tapi dia kenal sama Gilang" lanjutnya
"kira-kira siapa ya?" Yuni mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuknya, berpikir siapa yang dimaksud oleh Putra
Setelah mendengar perkataan Putra, Yuni kembali ke bangkunya. Merasa capek dari tadi mondar-mandir mencari keberadaan Dina.
"Yun, itu Dina sudah masuk" ucap Putra yang duduk dua bangku di depan Dina dan Yuni duduk.
"Din, dari tadi ditungguin tuh sama Yuni" ucap Putra waktu Dina melewati tempat duduk Putra.
"oke Put" ucap Dina tersenyum ke Putra
Dina duduk di tempat duduknya kemudian mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya. Yuni yang berada di sebelahnya hanya menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"kenapa Yun?" tanya Dina
"eh...kamu dari mana? tumben telat" Yuni terkesiap ketika tiba-tiba Dina bertanya kepadanya
"habis makan di luar"ucap Dina dengan senyuman "gurunya belum masuk Yun?" tanya Dina sambil menatap pintu masuk kelas
"belum... Enggak ada kabar juga kosong apa tidak" jawab Yuni masih memperhatikan Dina yang menurutnya sedikit aneh tidak seperti biasanya yang selalu datar kepadanya
"tahu begitu aku enggak buru-buru tadi" Dina mencebik
"memangnya kamu....." ucapan Yuni menggantung di udara ketika melihat gurunya masuk kelas
Tiga jam pelajaran telah mereka lalui, bel tanda pelajaran usai telah berbunyi. Dina membereskan buku-buku dan alat tulisnya memasukkan ke tasnya.
__ADS_1
"Din, ada titipan dari Toni" Yuni menyodorkan sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado berwarna kuning.
"oh...terima kasih Yun" ucap Dina tersenyum dan memasukkannya ke dalam tasnya
Dina bergegas pulang, langkah kakinya terasa lebih ringan. Jalan ke parkiran motor, menyalakan motornya dan melajukannya untuk pulang. Meski Dina sempat melihat Toni juga keluar lewat gerbang yang sama dengannya tapi dia abaikan. Dina tidak mau terlalu memberi Toni harapan. Biarlah dia intropeksi dirinya sendiri, menyadari semua kesalahannya.
Tidak semua perkataan teman kita ikuti. Ambil yang baik buang yang buruk. Yang tahu apa yang terbaik buat diri kita ya kita sendiri bukan teman atau pacar.
Lima belas menit kemudian Dina telah sampai di rumahnya, bertepatan hujan turun sangat lebat. Dina merasa bersyukur kalau dia tadi telat lima menit saja pasti dia akan kehujanan.
Dina masuk kamarnya meletakkan tasnya di kursi. Dia teringat bungkusan yang tadi diberikan oleh Yuni. Dina mengeluarkannya dari tasnya. Dia membukanya isinya sama seperti biasa. Toni memberinya coklat kesukaannya lengkap dibungkus dengan warna kesukaannya.
Di balik kertas yang dipakai membungkus coklat itu ada tulisan tangan Toni.
Dina, maafkan aku
Tolong beri aku kesempatan sekali lagi.
Aku sayang kamu
Dina memang sedikit tersentuh, tapi dia tidak mau kecewa lagi apalagi sekarang dia sudah resmi berpacaran dengan Dendy. Dina membuang kertas itu ke tempat sampah. Seperti dia membuang perasaannya kepada Toni waktu tahu dia dijadikan bahan taruhan teman-teman Toni.
Dina ingin membuka lembaran baru, mencoba membuka hatinya untuk Dendy. Dia yakin seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh semakin besar di hatinya. Dina berharap semoga menerima Dendy adalah keputusan yang tepat baginya.
.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya bestie...
Kirim-kirim bunga dan kopi juga ya
Terima kasih sekebon bestie...
__ADS_1