Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 192 Pertemuan Bimo dan Toni


__ADS_3

Jarak kos Dina dan kos Vanya tak begitu jauh, hanya lima sampai sepuluh menit perjalanan jika tidak sedang ramai. Di dalam mobil lagi-lagi Dina hanya diam, ia tak tak memiliki bahan obrolan dengan Toni.


"hmm...tadi kamu kenapa tiba-tiba terlihat seperti ketakutan?" Toni memecah keheningan di dalam mobil


Dina menghela nafasnya "aku hanya trauma Ton..." ucap Dina lirih


"trauma...?" Toni benar-benar terkejut


"beberapa hari yang lalu, aku dituduh merebut tunangan orang, dan aku dipermalukan di kampus" ucap Dina lirih kepalanya tertunduk


Toni meremas stir yang ia pegang "siapa Din?!" Toni begitu marah tidak menyangka Dina mengalami hal yang buruk di kampus barunya.


Dina menoleh menatap Toni "tidak perlu dibahas, masalahnya sudah selesai, lagipula aku sudah memiliki pacar buat apa aku merebut milik orang lain" Dina berusaha tersenyum


"tapi tetap saja itu keterlaluan Din...katakan siapa? Dimana dia tinggal aku akan menghancurkannya!" ucap Toni terbawa emosi


"sudah Ton...kalau kamu marah-marah seperti itu lebih baik aku turun di sini saja" ucap Dina datar


"baik...baik...maaf Din...aku benar-benar emosi mendengar ceritamu" Toni mengalah ia tak mau Dina kembali menghindarinya lagi "sekarang kosmu sebelah mana? Ini sudah sampai depan kampusmu"


"di depan kamu belok saja ke kiri terus belok ke kiri lagi" ucap Dina datar


Toni mengikuti petunjuk Dina ia menyetir dengan sangat hati-hati agar tidak terlewat rumah kos Dina.


Dina memperhatikan jalan di depannya dari jauh terlihat mobil yang ia kenali sudah terparkir di depan kosnya. Dina menghela nafasnya, ia pikir tak akan lagi berurusan dengan pemilik mobil itu, tapi kini orang itu sudah berada di depan kosnya.


Toni menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di seberang kos Dina. Belum juga ia membukakan pintu mobil untuk Dina, Dina sudah turun dari mobilnya.


Toni membantu mengambil barang-barang Dina yang terletak di kursi belakang. Dina mengambilnya dari tangan Toni "aku bisa membawanya sendiri Ton"


"kamu sedang sakit Din, aku bantu ya..." ucap Toni lembut dan mengambil kembali tas Dina dan memanggul ransel Dina. Dina berjalan santai melewati Bimo yang berdiri di depan mobilnya menatap nyalang pada Toni yang juga menatapnya tak suka.


Dina membuka pintu kosnya kemudian ia masuk dan membuka pintu kamarnya. Toni pun juga masuk mengikuti Dina "ini aku letakkan dimana?"

__ADS_1


"letakkan saja di dekat meja itu" Dina menunjuk ke arah meja belajarnya. Toni masuk ke dalam kamar Dina dan meletakkan tas yang ia bawa ke tempat yang ditunjuk oleh Dina.


"Din...aku mau tanya sesuatu" Toni ragu mengatakannya


"apa?"


"itu yang di depan, mantan kamu yang dulu itu kan?" tanya Toni menahan rasa sesak di dadanya


"iya...sebelum kamu tanya apa aku kembali dengannya aku jawab dulu, aku tidak bersamanya, dia kakak tingkatku satu jurusan denganku" terang Dina yang tau kemana arah pertanyaan Toni.


"oh...begitu...aku ke mobil dulu sebentar" ucap Toni kemudian ia meninggalkan Dina dalam kamarnya.


Dina menghela nafasnya "situasi macam apa ini? Kenapa mereka harus bertemu" batin Dina


Dina memutuskan keluar dari kamarnya, ia tak mau ada adegan adu jotos di depan kosnya.


"Din...." Bimo menghampiri Dina, Dina hanya menatap datar ini pertama kalinya sejak pembicaraan Dina dengan papanya Bimo mereka berdua bertemu di luar kampus.


"Dina sedang sakit, biarkan dia istirahat" ucap Toni datar mendekat ke arah Dina. Tatapan mereka berdua beradu seolah-olah mereka berdua adalah musuh bebuyutan.


"Toni benar mas, lain kali saja, aku mau istirahat" ucap Dina menengahi ketegangan di antara mereka berdua


"ini ada titipan dari mbok Nah...." Toni menyerahkan tas yang berisi beberapa kotak makanan "dan ini dari papa, katanya ini vitamin agar kamu tidak mudah sakit" Toni menyerahkan paperbag kecil


"memangnya om Yanuar tahu kalau kamu pergi denganku?" Dina mengerutkan dahinya sambil menerima barang-barang yang diberikan oleh Toni.


"iya....karena harusnya aku sudah berangkat dari tadi pagi makanya papa bertanya-tanya" Toni terkekeh


"sampaikan terima kasihku untuk om Yanuar dan mbok Nah" Dina mengembangkan senyumnya


"kata mbok Nah...itu isinya makanan kesukaan kamu semua dan ada juga sup obat, oh...iya...di dalam paperbag itu ada obat demam jangan lupa diminum kalau masih merasa tidak enak badan" ucap Toni sudah seperti mamanya Dina.


"iya...iya...kamu seperti mamaku" Dina terkekeh "terima kasih sudah memberiku tumpangan" Dina tersenyum tulus.

__ADS_1


"aku pulang dulu, sebaiknya kamu makan terus istirahat, badan kamu masih demam" ucap Toni lembut


"iya...seklai lagi terima kasih..." Dina mengembangkan senyumnya. Toni pun berbalik berjalan ke mobilnya. Bimo menatap tidak suka pada Toni, ia begitu marah tapi ia tak mau menunjukkannya di depan Dina.


"Din..." ucap Bimo


"aku mau istirahat mas..." ucap Dina lirih


"baiklah..."


Dina masuk ke kosnya dan mengunci pintu kos, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Dari celah gorden kamarnya ia mengintip keluar apa yang terjadi dengan Toni dan Bimo. Dina melihat mobil Toni sudah tidak ada, tapi Bimo masih berada di depan kosnya.


Dina tak mau ambil pusing ia membiarkan Bimo melakukan apa yang ia inginkan. Dina membuka satu per satu kotak yang dibawakan oleh mbok Nah.


"sepertinya mbok Nah sudah memperhitungkan kalau aku ini anak kos, ini semua cukup untuk aku makan malam ini saja" gumam Dina kemudian ia mulai memakan sambil mengecek ponselnya.


Tak ada satupun pesan singkat atau panggilan tak terjawab dari Dendy. Dina hanya bisa menghela nafasnya, di saat dirinya sakit Dendy jarang ada untuknya.


Setelah selesai makan, Dina meminum obat dan vitamin yang tadi diberikan oleh Toni. Kemudian ia mematikan lampu kamar dan mencoba untuk tidur agar besok pagi dia sudah pulih dan bisa masuk kuliah.


Dina masih menunggu telepon dari Dendy, biasanya minggu malam Dendy menelponnya sebentar hanya memastikan Dina sudah sampai kosnya dengan selamat.


Tapi kali ini sampai jam sepuluh malam, tak ada telepon dari Dendy. Dina memutuskan untuk tidur, dan mematikan ponselnya, ia tak mau diganggu.


Sejak tadi ada banyak pesan singkat dari Bimo, tapi ia mengabaikannya dan juga ada pesan singkat dari Toni juga ia abaikan. Ia hanya ingin beristirahat dan tak mau diganggu dengan suara-suara berisik dari ponselnya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2