
Dendy merasa beruntung, Dina tak pernah menuntutnya untuk menjadi orang lain. Dina selalu mengatakan padanya untuk menjadi diri sendiri. Bahkan meski mereka terpisah jarak, Dina tetap setia padanya.
Dina tak malu memajang foto mereka berdua di kamar kosnya. Dina tak pernah malu mengakui dirinya sebagai orang yang ia sayangi. Dina jugalah yang membuat dirinya percaya diri.
Sekarang ia tak lagi takut atau minder ketika bersama Dina. Yang paling membuatnya menjadi cowok paling beruntung adalah Dina tidak melihat segala sesuatu dari apa yang terlihat.
Dina selalu melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dan juga ia pandai menempatkan dirinya di manapun ia berada.
Dina juga telah merebut hati mamanya yang terkenal susah untuk didekati. Mamanya Dendy tidak mudah ramah pada teman-teman cewek Dendy. Tapi dengan Dina, mamanya mudah sekali akrab.
Dendy telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona seorang Dina. Tak ada lagi keraguan dalam hatinya kepada Dina. Ia juga sama seperti Dina telah memantapkan hatinya jika Dina adalah cewek yang tepat untuk menjadi pendampingnya kelak.
Dendy larut dalam kebahagiaan. Satu tahun sudah, ia mampu melewati segala ujian dalam hubungannya. Bahkan jarak membuat mereka semakin dekat dan semakin mesra.
Setiap menit pertemuan sangat berharga untuk mereka berdua. Hal yang tidak bisa mereka nikmati setiap hari.
Dendy begitu menikmati kebersamaan mereka berdua, ia memeluk Dina seperti tak ada hari esok lagi.
"sayang...." Dendy membelai bahu Dina lembut
"hmmm..." Dina semakin mengeratkan pelukannya
"Den..."
"iya sayang...kenapa?" tanya Dendy lembut
"aku merasa...kamu adalah jodohku " ucap Dina lembut
__ADS_1
"begitukah?" dua sudut bibir Dendy terangkat ke atas
"iya...semua yang aku inginkan ada pada dirimu" ucap Dina lembut
"aku juga merasakan hal yang sama" ucap Dendy lembut mengurai pelukannya
Mereka berdua saling bertatapan, sorot mata mereka memancarkan cinta dan kebahagiaan. Mereka bedua saling mendekatkan wajah mereka. Semakin dekat, bibir mereka menyatu dalam ciuman lembut nan mesra.
Saling mengecap, *******, menyalurkan semua rasa yang mereka rasakan saat ini. Lama mereka berciuman sampai keduanya terengah-engah seakan kehabisan nafas mereka.
Dendy melepaskan ciumannya dan menatap Dina dengan tatapan teduh. Dina seakan tidak rela ciuman itu terlepas. Lama mereka saling bertatapan, mereka melanjutkan ciuman mereka lagi, kali ini lebih liar.
Dendy melesakkan lidahnya, mengabsen setiap inci rongga mulut Dina. Dina tak mau kalah, ia pun juga memainkan lidahnya. Semakin lama semakin liar dan panas. Tangan mereka berdua mulai bergerak, saling mengusap, saling meraba.
Dendy melepas ciumannya, berpindah ke leher Dina. Dina merasakan sensasi yang luar biasa. Tangan Dendy tak tinggal diam, ia membelai, mengusap punggung Dina.
Tangan Dendy mulai meremas bukit kembar Dina, hingga suara ******* Dina meluncur begitu saja. Dendy kembali mencium bibir Dina sambil menyingkap kaos yang dipakai Dina. Tangannya membelai perut Dina menciptakan sensasi yang bereda bagi Dina.
Tangan Dendy mulai naik, masuk ke dalam penutup bukit kembar Dina, membelainya perlahan. Dina semakin tak karuan, ia menggeliat, mendesah, tangannya pun kini tak tinggal diam ia memegang tengkuk Dendy memperdalam ciuman mereka.
Dendy menarik penutup bukit kembar Dina sehingga tampak pemandangan indah yang belum pernah ia lihat selama ini. Dendy mulai memainkan puncak bukit kembar Dina, mengusap meremas. Dina semakin tak karuan.
Ia merasakan ada sesuatu desakan yang harus ia keluarkan, ia mulai menggesekkan tubuh bagian bawahnya, Dendy pun juga sama ia juga menggesekkan tubuh bawahnya ke bagian tubuh bawah Dina.
Ciuman mereka semakin liar, semakin panas. Dendy dan Dina sama-sama merasakan ada yang kurang. Dengan jari-jari lentiknya Dina melepaskan ikat pinggang Dendy, kemudian melepaskan kancing celana Dendy.
Dina memasukkan tangannya, dan mulai meraba membelai benda tumpul milik Dendy yang sudah sangat mengeras. Gairah mereka sama-sama tak tertahankan. Dendy melepaskan ciuman mereka, ia berpiindah menciumi bukit kembar Dina, menjilat, menyesap salah satu puncaknya, tangannya pun tak tinggal diam, memainkan puncak yang satunya.
__ADS_1
Dina tak kuasa menahan gejolak hasrat yang luar biasa, bagaikan tersengat listrik beribu-ribu volt, Dina merasakan sebuah kelegaan, ia mendapatkan pelepasannya. Nafas Dina terengah-engah, Dendy menatap Dina dengan mata sayunya.
"peganglah...ini milikmu..." Dendy mengarahkan tangan Dina ke dalam celananya dan menuntunnya memegang benda tumpul miliknya
"belailah...mainkan dia sesukamu..." ucap Dendy kemudian ia mencium Dina dengan penuh nafsu
Dina membelai sesekali meremas, tangannya semakin liar memainkan milik Dendy. Tangan kanan Dendy juga tak tinggal diam, tangannya kini telah masuk ke dalam celana milik Dina. Ia mulai membelai daerah paling intim dan sensitif milik Dina.
Ciuman mereka semakin liar, tangan mereka juga tak kalah liarnya. Dan tiba-tiba... "Dina aku sayang kamu....!" Dendy mengejang mengerang, menghentakkan miliknya, ia merasaka pelepasannya. Dina merasakan ada cairan hangat yang membanjiri tangannya.
Dina pun juga merasakan hal yang sama, untuk kedua kalinya, ia merasakan puncak kenikmatan.
Nafas mereka terengah-engah saling menatap dan tiba-tiba mereka tertawa "kita sudah ketagihan" ucap Dina sambil tertawa
Dendy memeluk erat Dina "maaf...aku mengulanginya lagi..." ucap Dendy dengan nafas yang masih terengah-engah
"iya...aku juga terbawa suasana" Dina terkekeh
"berjanjilah kamu hanya melakukannya denganku" ucap Dendy, Dina menjawabnya dengan anggukan.
Dendy memeluk Dina dengan erat, ia menyesal sekaligus bahagia. Menyesal karena tidak bisa menahan hawa nafsunya, bahagia karena ia melakukannya dengan orang yang ia sayangi.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g