
"memangnya ada yang kasih kamu coklat?" tanya Dendy sedikit merasa cemburu. Dina hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"siapa Din?" Dendy masih berusaha untuk menahan rasa cemburunya.
"Putra dan Widi" ucap Dina lirih takut Dendy marah.
Mendengar nama Widi disebut, hatinya terasa panas. Seolah-olah ada yang membakar hatinya. Tapi sebisa mungkin Dendy tahan karena dia tadi sudah mengucapkan tidak masalah jika Dina menerima pemberian orang lain.
"Putra itu siapa Din?" tanya Dendy menahan perasaannya, takut kalau orang yang dia tanyakan juga pengagum Dina.
"teman sebangku aku Den" Dina menatap Dendy, tampak sorot mata yang mengatakan kalau ia tidak menyukai Dina menerima pemberian orang lain
"bukannya teman sebangku kamu itu Yuni?"
"iya...itu dulu....sejak masalah tempo hari dia menjauhiku, dan akhirnya Putra yang pindah duduk di sebelahku" ucap Dina tanpa ada yang ditutup-tutupi
"kamu nyaman duduk sebangku sama dia?" tanya Dendy, emosinya mulai mereda mendengaar ucapan Dina
"nyaman...dia teman yang asyik...lucu dan pandai menghibur, ya...meski dia sedikit pemalas" Dina terkekeh
"hmmm... Nyaman ya...hmmm" Dendy melipat kedua tangannya di dada sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
Dina menyadari perubahan sikap Dendy yang sepertinya tidak suka dengan apa yang dia ceritakan.
"eh...tapi bukan berarti aku suka sama dia Den" ucap Dina sambil menggoyangkan kedua telapak tangannya di depan dadanya
"yakin?? Kamu tidak suka sama dia? Dari caramu menceritakannya sepertinya kamu suka sama dia" Dendy pura-pura marah
"yakin... Aku benar-benar hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih" Dina berusaha menjelaskan agar Dendy tidak marah
Melihat Dina yang sepertinya bingung bagaimana harus menjelaskan kepadanya, akhirnya dia tidak tega, niatnya dia mengerjai Dina malah dia yang tidak tega.
'Kalau dibiarkan lama-lama dia akan marah, tadi saja sudah merajuk, kalau aku tidak segera menghentikan keusilanku bisa-bisa makin lama merajuknya' batin Dendy
"iya...iya aku percaya" Dendy tergelak
Melihat Dendy tertawa Dina hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Ia merasa dibohongi, ia pikir Dendy marah karena dia duduk sebangku dengan cowok bahkan menberinya coklat di hari valentine.
"ihhh...jangan marah donk...nanti cantiknya hilang" Dendy mencoba merayu Dina yang kembali merajuk
"tidak mau.... Kamu jahat... Aku sudah berpikiran kamu marah besar..ternyata kamu hanya mengerjai aku" Dina mencebik membuang mukanya
__ADS_1
"ayo...donk jangan marah lagi, sekarang kamu mau apa, kalau aku bisa aku lakukan" ucap Dendy membelai tangan Dina yang masih belum mau menatap wajahnya.
Dina sebenarnya hanya merasa kesal, bukan marah seperti yang ditakutkan oleh Dendy. Dia hanya ingin balik mengerjai Dendy.
"pikir saja sendiri, bagaimana cara merayu pacar yang sedang marah" Dina masih membuang mukanya
Dendy menarik tangan Dina, perlahan mereka turun dari ayunan. Dendy menarik Dina agar berdiri di hadapannya. Jarak mereka mungkin tidak lebih dari sepuluh sentimeter. Dendy menggengam tangan kiri Dina dengan tangan kanannya, tangan kirinya bebas membelai rambut Dina yang masih memalingkan wajahnya.
Dendy tidak tahu lagi harus merayu dengan cara apa, takut salah dan malah akan membuat Dina semakin marah.
"Dina sayang....sudah dong...Marahnya" Dendy membelai rambut Dina "iya aku percaya sama kamu, aku sayang kamu Din" Dendy mwmalingkan wajah Dina perlahan sehingga menatapnya dan mengecup kening Dina dengan penuh perasaan seolah-olah menyalurkan perasaannya lewat kecupan itu. Berharap Dina bisa merasakan apa yang dia rasakan saat ini.
Dina memejamkan matanya terbuai dengan kecupan mesra itu. Merasakan tulusnya perasaan Dendy kepadanya. Perlahan Dina membuka matanya dan menatap Dendy. Dendy melihat tidak ada penolakan dari Dina melanjutkan mengecup bibir Dina sekilas.
Dendy tersenyum dan mengusap bibir Dina dengan lembut. Dina tersadar akan perlakuan Dendy
"curang....hari ini kamu sudah menciumku berkali-kali" Dina memukul-mukul dada Dendy
"awhh....sakit Din" Dendy mengaduh tapi tetap tersenyum "makanya jangan sering marah...kalau kamu sering marah maka sering juga aku mencium kamu bahkan tidak cuma mengecup sekilas bibir kamu" Dendy tersenyum menarik salah satu sudut bibirnya
"kamu itu menyebalkan" Dina memukul-mukul dada Dendy
Dendy tidak membalasnya dia malah menarik Dina dalam pelukannya. Dendy memeluk erat cewek yang berumur satu tahun lebih tua dari dirinya.
"jangan ulangi lagi ya Den... Aku hanya butuh kamu percaya aku, aku bukan tipe cewek yang suka mempermainkan perasaan cowok" ucap Dina lirih dan membalas pelukan Dendy
"masih mau dipeluk? Malu kalau sampai dilihat orang Din" ucap Dendy lirih
Seketika Dina tersadar mereka sedang berpelukam di tempat umum. Dina melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari Dendy.
"lain kali kalau mau peluk atau cium lihat tempat, kalau sampai dilihat orang aku kan malu, untung sepi dan kita ada di balik pohon besar" ucap Dina
"berarti sekarang sudah mau sering-sering aku cium nih...?" goda Dendy
"tidak...!" ucap Dina tegas
Dendy menggandeng Dina berjalan ke arah sebuah kursi taman agar mereka bisa duduk. Menghabiskan sisa hari yang menurut mereka spesial. Hari kasih sayang untuk orang-orang yang sedang kasmaran.
"hari minggu kamu ada acara tidak?" tanya Dendy lembut
"hmm....sepertinya tidak, memangnya ada apa?" Dina menatap Dendy yang duduk di samapingnya
__ADS_1
"aku jemput kamu, kita nonton film mau tidak?" tanya Dendy
"jangan jemput aku, aku saja yang ke rumahmu, tapi aku ajak teman ya" ucap Dina
"memangnya mau mengajak siapa? Putra?" ledek Dendy
"mulai lagi...." Dina mencebik "mau mengajak Ani, biar aku ada alasan keluar rumah"
"iya tidak apa-apa, besok aku juga ajak Krisna sama Adi" ucap Dendy dengan tatapan teduh.
"memangnya mau nonton film apa? Jangan film horor ya..." tanya Dina
"film 'ada apa denganmu' " jawab Dendy
"baiklah..." ucap Dina mengembangkan senyumannya
"tapi besok jadi jemput aku pulang sekolah 'kan?" tanya Dina
"kalau kamu mau aku jemput kamu berangkat dan pulangnya aku antar kamu" ucap Dendy menatap Dina dengan serius
"tidak usah, jauh Den.... Kalau kamu terlambat sekolah bagaimana?" Dina kawatir Dendy akan terlambat masuk sekolahnya kalau harus menjemput dia dulu.
"besok sekolahku diliburkan, ada rapat yayasan katanya" ucap Dendy
"oh...kalau tidak merepotkan kamu, aku mau" Dina mengembangkan senyumannya "tapi kamu jemput aku pakai seragam ya, takutnya mamaku tanya macam-macam"
"beres...aku jemput jam setengah tujuh kira-kira kamu terlambat tidak?"
"terlambat!" ucap Dina ketus sambil memperhatikan ekspresi Dendy "aku terlambat kalau kamu bawa motornya seperti siput "Dina tergelak
Dina tidak tega melihat raut wajah Dendy yang berubah jadi tidak enak dipandang. Dia tahu kalau Dendy itu tidak bisa bangun pagi, paling pagi dia bangun jam enam setiap harinya. Dina tahu kalau Dendy tidak bisa bangun pagi itu dari Gilang.
.
.
.
B E R S A M B U N G
yuk...bestie...jangan lupa tinggalkan jejaknya, please like..komen...dan votenya ya....
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie...