
Beberapa hari berlalu, Dendy dan Dina semakin dekat. Jika Dendy tidak bisa menemuinya dia selalu menyempatkan untuk menelpon walau hanya sebentar.
Sejak kejadian di restoran 'S' Toni pun menjaga jarak tehadap Dina. Meski beberapa kali mereka tidak sengaja bertemu tapi mereka tidak saling menyapa. Dina tidak terlalu mempedulikannya yang terpenting semua kembali berjalan normal sesuai keinginannya.
Widi 'pun juga menjaga jarak dengannya, Dina juga tak mau ambil pusing. Selama dia ke studio tidak ada yang membuatnya marah atau kesal, Dina tidak terlalu peduli.
Yang Dina pedulikan sekarang hanya Dendy. Sekarang dia jadi prioritas Dina selain sekolah. Sejak hubungan Dendy dan Dina membaik semangat belajarnya juga lebih baik. Dina berusaha menyelesaikan semua tugas-tugasnya sebaik dan sesegera mungkin agar ia punya waktu luang dengan Dendy
.
.
Bel tanda jam istirahat pertama telah berbunyi. Dina memilih untuk duduk-duduk di kursi taman depan kelasnya. Yuni menyusulnya dan ikut duduk di samping Dina.
"Din, kamu pacaran sama adiknya Gilang?" tanya Yuni
Dina menoleh ke arah Yuni, dia heran tahu dari mana Yuni kalau Dina berpacaran dengan Dendy.
"memangnya kenapa Yun?" Dina mengernyit
"Dendy itu enggak baik Din" ucap Yuni
"maksud kamu?"
"dia itu sudah punya pacar, pacarnya satu sekolah sama dia"
"dari mana kamu tahu aku pacaran sama dia?"
Dina makin dibuat bingung dengan ucapan Yuni. Sebenarnya apa mau Yuni kenapa dia berbicara seperti itu kepadanya.
"temanku bercerita, pacarnya memutuskannya karena suka sama anak sekolah kita namanya Dina" ucap Yuni
"terus apa hubungannya sama aku Yun?" Dina mengerutkan dahinya
"pacarnya itu namanya Dendy, dan Dina yang dia maksud itu kamu"
"hah..." Dina terkejut setahu dia Dendy tidak punya pacar waktu itu apakah yang dimaksud Yuni adalah Nana yang mengaku sebagai pacar Dendy.
"temanmu namanya Nana?"
"kok kamu tahu?" Yuni kaget Dina mengetahui nama temannya
"aku pernah ketemu dia, dia bilang Dendy calon pacarnya belum jadi pacarnya" jawab Dina dengam senyuman
"tetap saja kamu merebut Dendy dari dia"
"terserah apa anggapanmu Yun, yang jelas aku tidak merebut siapapun dari pacarnya" ucap Dina kesal meninggalkan Yuni yang masih duduk terdiam menerima kenyataan orang yang dia bela ternyata berbohong. Niat hati membantu teman dekatnya waktu SMP malah dia mendapat malu.
Dina berjalan ke kelasnya Ani meninggalkan Yuni dengan semua rasa malu dan marah. Sayangnya yang dia cari tidak ada di kelasnya. Karena malas kembali ke kelas Dina memutuskan untuk ke perpustakaan saja. Dia berharap di perpustakaan bisa lebih tenang.
__ADS_1
Tapi yang dia harapkan tak terwujud, dia lupa jika perpustakaan di saat jam istirahat itu juga seperti kantin, banyak siswa yang berada di perpustakaan untuk sekedar membaca koran, majalah atau menonton televisi. Televisi di perpustakaan hanya dinyalakan oleh penjaga perpustakaan ketika jam istirahat saja.
Dina berbalik arah, dia memutuskan kembali ke kelasnya saja karena jam istirahat akan segera selesai. Ketika kembali ke kelas dia tidak sengaja bertemu dengan Toni. Tapi mereka tidak saling menyapa. Bahkan hanya sebuah senyuman pun tidak.
Dina tidak mau ambil pusing, karena memang itu yang dia harapkan. Dina masuk ke kelasnya di sana tidak ada Yuni entah dia kemana. Dina duduk di bangkunya dan memilih untuk mengobrol dengan Putra.
Bel jam istirahat selesai sudah berbunyi tapi Yuni belum masuk ke kelas biasanya dia selalu masuk bertepatan dengan bel berbunyi. Ternyata Yuni masuk ke kelas berbarengan dengan guru yang akan mengajar masuk kelas.
Sepanjang pelajaran mereka hanya diam tidak ada yang mereka bicarakan. Dina yang masih kesal memilih untuk mengacuhkan teman sebangkunya itu.
.
.
Jam istirahat pergantian jam sore pun tiba. Dina bergegas keluar kelas dia ingin ke tempat budenya karena sudah lama tidak ke sana. Waktu berjalan ke arah gerbang sekolah Dina bertemu lagi dengan Toni. mereka masih tidak saling menyapa.
Dina berjalan keluar dari gerbang sekolahnya, dia menengok ke kiri dan ke kanan memastikan apakah Dendy sudah menunggunya, tapi tidak ada Dendy di situ. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk kembali ke tempat parkir untuk mengambil motornya.
Ternyata motor Dina terparkir tidak jauh dari motor Toni.
"mau kemana Din?" tanya Toni sambil menyalakan motornya
"mau ke tempat budeku" jawab Dina singkat
"bareng sama aku saja, aku juga mau pulang"
"Din, aku minta maaf soal tempo hari, kalau kamu memang tidak bisa menerimaku lagi seenggaknya kita masih bisa berteman 'kan?" ucap Toni kembali mematikan mesi motornya
"aku sudah melupakannya Ton"
"enggak apa-apa 'kan kalau seorang teman mau mengantar kamu pulang?" ucap Toni lembut
"ayo, naik aku antar kamu"
Dina tampak berpikir, sebenarnya dia malas naik motor sendiri ke tempat budenya tapi dia juga memikirkan perasaan Dendy kalau tahu dia berboncengan dengan Toni.
"tidak Ton, terima kasih" Dina naik ke atas motornya dan mulai menyalakan mesinnya
"ya sudah hati-hati di jalan kalau begitu, kalau kamu mau...mampir ke rumahku ya, pintu rumahku selalu terbuka lebar untuk kamu" ucap Toni dengan senyum mengembang kemudian dia melajukan motornya keluar gerbang
Dina juga melajukan motornya keluar gerbang, ketika sampai di depan gerbang dia bertemu dengan Dendy
"maaf Din, aku terlambat" ucap Dendy turun dari motornya dan menghampiri Dina
"tidak apa-apa Den" ucap Dina dengan nada tak bersemangat
"kamu mau kemana Din?" tanya Dendy lembut
"aku antar ya"
__ADS_1
"motor kamu gimana?" tanya Dina turun dari motornya
"biar di depan warung sebentar, kamu lama tidak?"
"sebenarnya aku malas sih Den, tapi aku pengen istirahat kalau bisa tidur sebentar biar seger pikiranku"
"ke rumahku saja mau?"
"jauh Den, nanti baliknya aku telat, lain kali saja ya"
"kamu sudah makan belum?"
Dina hanya menggelengkan kepala memang hari ini dia tidak begitu berselera makan. Mungkin karena pagi-pagi sudah dihadapkan dengan masalah Yuni yang menuduhnya merebut pacar orang
"ya sudah, ayo aku temani makan.... Di tempat saudaranya Krisna kemarin mau? Biar tidak terlalu jauh "
"iya baiklah" ucap Dina agak lesu
"kok enggak semangat Din?" tanya Dendy yang dari tadi memperhatikan Dina yang tampak tidak bersemangat seperti biasanya.
"lagi banyak pikiran aku Den" ucap Dina lirih "sudah...ayo... Jadi enggak?"
"eh...iya..." Dendy naik ke motornya Dina dan menyalakan mesinnya "ayo naik"
Dendy dan Dina pergi ke rumah makan saudara Krisna, tempat dimana dia pernah ditraktir makan bakso sepuasnya oleh Gilang dan Krisna tempo hari. Tidak perlu waktu lama hanya lima menit mereka telah sampai di rumah makan itu.
Dina memesan semangkok mie ayam untuknya dan dua gelas es jeruk untuknya dan Dendy. Dina sengaja memesan mie ayam satu mangkok atas saran Dendy agar mereka bisa makan satu mangkok berdua. Selain itu karena Dina yang memang sedang tidak berselera makan.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
Maaf part ini agak membosankan, karena lagi buntu enggak tahu mau nulis apa selain itu mata tiap liat layar hp pusing.
dukung terus ya bestie... Kirim kopi atau bunga biar semangat nulis lagi
Jangan lupa like komen dan vote nya ya...
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1