Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 95


__ADS_3

Dendy masih memeluk Dina, mengusap-usap lengannya dan sesekali mencium puncak kepala Dina. Dina merasa nyaman dan sedikit lega karena bisa menceritakan apa yang menjadi pikirannya selama ini.


Dendy juga merasa kasihan terhadap Dina, cewek yang ia lihat selalu tegar dan selalu tersenyum, bahkan lebih sering memikirkan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri ternyata menyimpan beban yang cukup berat.


Ia harus bisa membantu kedua orang tuanya mematahkan segala cibiran dari keluarga besarnya. Dina yang menurutnya pintar dan selalu mendapat peringkat di kelasnya masih belum bisa membungkam cibiran-cibiran dari keluarga papanya.


Dina merasakan nyaman yang teramat sangat di dalam pelukan Dendy. Hingga ia tak menyadari jika ternyata mulai turun hujan.


"yah...hujan...." keluh Dendy


"hah...! Ini bulan apa kenapa masih ada hujan" Dina tersentak dan menegakkan duduknya "mendadak jadi dingin ya Den" Dina mengusap-usap kedua lengannya


"jaketnya dipakai Din" Dendy megambil jaket Dina yang tadi Dina lepas dan memakaikannya


"iya...begini enaknya minum atau makan yang hangat-hangat" ucap dina membenahi jaket yang tadi dipakaikan oleh Dendy


"tadi di sebelah kita beli es kelapa muda sepertinya ada yang jual nasi soto atau bakso" ucap Dendy


"nanti saja 'lah Den... kalau kita ke sana sekarang pasti basah" ucap dina menyeruput es kelapa muda yang es nya sudah mencair.


Tadi mereka memesan es kelapa muda bukan dalam bentuk gelas melainkan masih utuh berbentuk kelapa.


"sudah merasa lebih baik?" tanya Dendy


"hah...?" Dina menoleh ke arah Dendy


Dendy tersenyum melihat Dina yang tampak bingung dengan pertanyaannya. Dendy merasa beruntung menjadikan Dina pacarnya, begitu baik dan pemaaf, meski ia telah mengecewakan Dina tapi dengan besar hati Dina memaafkannya.


Dia tahu pasti Dina merasakan sakit dalam hatinya mendapati orang yang sangat ia sayangi pergi berdua dengan mantan pacarnya. Dendy bertekat untuk bisa memperbaiki semua kesalahannya.


"kamu tidak dicari mantanmu itu?" tanya Dina melirik Dendy melihat respon Dendy bagaimana


"sudahlah...tidak perlu bahas dia lagi?!" ucap Dendy ketus "sekarang hanya ada aku dan kamu Din, tidak ada yang lain" ucap Dendy tersenyum


"kemarin-kemarin aku diabaikan sekarang bicara seperti itu" ucap Dina mengerucutkan bibirnya


"kalau bibirmu seperti itu terus, aku cium kamu.." ucap Dendy dengan sorot mata yang berkilat-kilat jahil


Dina yang mendengar ucapan Dendy seperti itu langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya sedang Dendy tergelak.


"Din...aku benar-benar sayang kamu, aku harap kita bisa seperti ini terus" ucap Dendy merapatkan duduknya dengan Dina kembali.


"aku juga sayang kamu Den, aku juga mau seperti ini terus dengan kamu, asal kamu tidak lagi mengecewakan aku, jika kelak kamu mengecewakan aku sekali lagi aku akan meninggalkan kamu" ucap Dina dengan sorot mata serius

__ADS_1


Dendy yang melihat keseriusan Dina, hanya bisa menelan ludahnya. Mulai sekarang dia harus berusaha menjadi lebih baik lagi.


"eh...hujannya sudah reda, ayo kita ke warung yang ada di depan" ucap Dendy


"bisa tidak kalau kita pesan, minta diantar ke sini pesanan kita?" tanya Dina


"sepertinya bisa, itu ada orang yang membawa nampan yang ada mangkok-mangkok, sepertinya sedang mengantar pesanan" ucap Dendy mengamati sekitar.


"ya sudah aku pesan dulu ya Den" Dina hendak beranjak turun dari gazebo


"sebaiknya kita tanya dulu sama ibu-ibu yang membawa nampan menuju ke arah kita itu Din" ucap Dendy.


Dendy turun dari gazebo, dan berjalan menghampiri ibu-ibu yang membawa nampan berisi beberapa mangkok bakso. Dendy menanyakan apakah bisa memesan lewat ibu itu.


Ternyata memang bisa memesan lewat ibu itu, karena beliau yang punya warung bakso yang berada di sebelah penjual es kelapa muda tadi. Untuk pembayarannya nanti waktu ibu itu mengantarkan pesanannya.


Dendy memesan tiga mangkok bakso dan dua jeruk hangat kepada ibu itu. Kemudian Dendy kembali ke gazebo yang mereka tempati tadi.


"bagaimana? Bisa?" tanya Dina


"bisa...bisa....aku sudah pesankan untuk kamu" ucap Dendy


Mereka berdua menikmati kebersamaan mereka, melepas rindu karena sudah dua minggu lebih mereka tidak bertemu. Bahkan mereka sedikit sempat bertengkar kecil.


Setelah menunggu lima belas menit, pesanan mereka diantar oleh ibu pemilik warung bakso tadi. Ibu tersebut meletakkan pesanan Dendy di lantai gazebo tersebut. Setelah selesai, Dendy membayar makanan mereka, dan ibu itu meninggalkan gazebo Dendy dan Dina.


"baksonya kenapa ada tiga mangkok? Yang satu buat siapa Den?" Dina menoleh ke arah Dendy yang hanya senyum-senyum saja


"buat pacarku tersayang, memangnya buat siapa lagi?" ucap Dendy


"hah...tapi ini terlalu banyak Den..." protes Dina


"katanya kamu kalau makan bakso bisa habis bermangkok-mangkok, ya sudah aku pesankan buat kamu " ucap Dendy dengan senyum merekah


"ya sudah terima kasih ya sayang..." ucap Dina dengan senyuman yang membuat hati Dendy semakin berbunga-bunga


Mereka berdua makan bakso dengan sesekali saling menyuapi. Mereka benar-benar berusaha melupakan kejadian yang kurang mengenakkan dalam hubungan mereka. Mereka berusaha memperbaiki hubungan mereka yang sempat merenggang karena kurangnya komunikasi di antara mereka.


Setelah selesai makan, Dina menumpuk mangkok bakso yang tadi ia pakai dan menaruhnya di pinggir agar memudahkan ibu penjualnya mengambilnya.


"kamu mau jalan-jalan kemana lagi Din? Mumpung hari minggu dan masih siang" tanya Dendy sambil meminum jeruk hangatnya.


"tidak tahu Den...aku tidak pernah keluar rumah jadi tidak tahu mau kemana lagi" ucap Dina sambil meminum jeruk hangatnya

__ADS_1


"mau di sini saja atau kita keliling kota? aku juga belum pernah menjelajah kota ini" tanya Dendy meletakkan gelasnya yang sudah kosong


"di sini saja Den...duduk-duduk saja takutnya nanti tiba-tiba turun hujan lagi" ucap dina sambil menyingkirkan gelas-gelas mereka tadi ke pinggir


"oh...ya sudah... Tapi sayangnya di sini tidak ada gitar ya..."


"iya...ya...harusnya tadi kamu bawa gitar kamu Den"


"ya...mana kepikiran Din, tadi yang kupikirkan hanya meminta maaf kepadamu "


"iya...ya...hahaha...padahal di rumah juga ada gitar aku juga tidak kepikiran bawa, mana kutahu kalau diajak ke sini" Dina tergelak


"kamu punya gitar Din?" tanya Dendy menatap Dina yang sudah mulai kembali ceria


"punya, hadiah ulang tahunku yang ke lima belas" ucap Dina ceria


"dari siapa?" tanya Dendy penasaran.


Dendy berpikir siapa yang sudah memberinya kado ulang tahun sebuah gitar. Apakah mantannya, atau temannya, ataulah Widi bukankah mereka sudah dekat sejak lama.


.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.


Kira-kira siapa yang memberi Dina kado sebuah gitar ya? Hmm.... Toni, Bimo ataukah Widi?


Dukung terus karya ini ya bestie....


Tolong komen, like dan votenya ya...


Terima kasih sekebon bestie...

__ADS_1


__ADS_2