Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 132 Menghindar


__ADS_3

Setelah melewati perdebatan alot, dan banyak ide-ide yang diungkapkan rapat kelompok Dina akhirnya menemukan kesepakatan demi menjaga kekompakan mereka.


Karena dalam masa pengenalan kampus ini kekompakan kelompok sangat penting. Jika satu anggota salah maka satu kelompok dihukum semua. Ardi tidak mau kelompoknya mendapatkan hukuman.


Pembagian tugas juga sudah diberikan. Yang berdomisili di kota J bertugas untuk membeli segala keperluan. Dan yang statusnya anak kos mereka yang mengerjakan tugas-tugas dari panitia.


Bimo memperhatikan kelompok yang menjadi tanggung jawabnya. Lebih tepatnya ia memperhatikan Dina, perasaannya ke Dina masih sama seperti dulu.


"oh...jadi cewek itu yang membuat kamu menolak aku?" ucap Riri duduk di sebelah Bimo


"kamu sudah tahu, waktu papamu memaksa aku menjagamu saat itu aku sudah punya pacar, sekarang...aku bebas melakukan apapun" ucap Bimo tersenyum getir mengingat dulu ia terpaksa memutuskan Dina karena permintaan mamanya.


Mamanya Bimo memaksa agar ia mau dijodohkan dengan anak teman dekatnya. Riri lah cewek yang dimaksud mamanya Bimo. Kala itu Bimo menyetujui dengan satu syarat, perjodohan itu akan ia terima jika kakaknya merelakan Riri untuknya.


Karena Bimo tahu jika kakaknya sangat menyukai Riri, ia tidak mungkin mengorbankan perasaan kakaknya. Dan ia juga tahu Riri sebenarnya juga menaruh hati pada kakaknya.


Tapi papanya Riri memaksa agar Bimo lah yang dijodohkan dengan putri semata wayangnya. Riri bimbang memutuskan apa yang harus ia pilih, akhirnya ia menyetujui perjodohan dengan Bimo meski Bimo sudah mengatakan tidak menyetujuinya.


Bimo hanya bisa pasrah kesepakatan dengan mamanya berubah semua ketika pertemuan keluarga dilakukan. Papanya Riri tetap memaksakan apa yang menjadi keinginannya. Tapi ternyata perjodohan itu tidak bertahan lama.


Tidak lama setelah pertemuan kedua keluarga itu papanya Riri meninggal dan mamanya Riri membebaskan Bimo memutuskan perjodohan antara dirinya dengan Riri. Tapi Riri masih belum bisa menerima kalau Bimo memutuskan perjodohan mereka.


Ia tetap mengikuti Bimo, sampai kuliah pun Riri mengambil jurusan yang sama dengan Bimo. Bimo tidak tahu apa yang membuat Riri berbuat seperti itu. Karena yang ia tahu Riri menyukai kakaknya.


"Bim...Bimo...kamu melamun?" tanya Riri menepuk bahu Bimo


"eh...tidak...tidak..." Bimo terkesiap


"itu...mereka sudah selesai rapat kelompoknya, cepat juga ya mereka..." Riri terkekeh


Dalam hatinya Bimo bangga dengan Dina, yang ia lihat dari tadi Dina cukup aktif dalam memberikan ide-ide dan menengahi setiap perdebatan yang muncul.


"Dia memang cerdas..." gumam Bimo kemudian ia beranjak menghampiri kelompok yang ia dampingi


"sebegitu hebatnya dia di matamu Bim...aku tidak pernah kamu anggap" gumam Riri dengan nada sendu kemudian ia menyusul Bimo


"bagaimana....sudah selesai?" tanya Bimo mendekati kelompok Dina


"sudah kak..." jawab Ardi sebagai ketua kelompok

__ADS_1


"bagus...kalau sudah ada kesepakatan, sekarang kalian boleh pulang, hari senin jangan sampai terlambat, ingat juga siapkan yel-yel kelompok kalian" ucap Bimo tegas


"baik kak..." jawab Ardi "kawan-kawan ingat besok pagi kita berkumpul di depan lobi kampus ya...kita selesaikan apa yang harus kita kerjakan untuk hari senin" lanjut Ardi


"baik bos....!" jawab Berta


"sekarang mari kita pulang...." ucap Caca dengan polosnya "eh....Din...kamu pulang sama siapa, kita searah kan?" ucap Berta


"iya Ta...boleh...boleh...tapi kita jalan kaki kan?" ucap Dina sambil merapikan kertas-kertas catatannya


"iya...kita...." ucapan Berta melayang di udara ketika Bimo mendekati mereka bertiga


"Dina pulang denganku" ucap Bimo datar


"bb...baik..kak" ucap Berta dan Caca bersamaan


"aku pulang bareng kalian aja...kan ada yang perlu kita beli" ucap Dina sambil mengedipkan matanya kepada kedua temannya


Kedua teman Dina bingung, apa maksud Dina mengedipkan matanya. Mereka hanya diam memperhatika Dina, menunggu kata-kata yang diucapkan Dina selanjutnya.


"aku antar kamu" ucap Bimo menggandeng tangan Dina dan berjalan keluar auditorium. Teman-teman Dina menatap mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya.


"mas....! Apa-apaan ini?!" Dina menghentakkan tangannya.


"aku bisa pulang sendiri" ucap Dina berlari menuruni tangga. Bimo 'pun mengejar Dina. Langkah kaki Dina tak selebar Bimo, dengan mudah Bimo meraih tangan Dina lagi.


"mas...lepaskan...!" ucap Dina berusaha melepaskan genggaman tangan Bimo


"aku akan melepaskan genggamanku jika kamu bisa tenang dan mau aku antar pulang" ucap Bimo penuh permohonan.


Mau tidak mau Dina mulai berhenti berlari dan menurut apa yang diucapkan oleh Bimo. Bimo mensejajari langkah Dina, Bimo benar-benar tidak menyangka jika Dina akan kuliah di kampusnya. Sebab yang ia tahu Dina ingin kuliah di kedokteran.


Sesampainya di lantai dasar, Dina berjalan keluar dari gedung kampusnya.


"Dina...tunggu aku ambil motor dulu...!" ucap Bimo penuh penekanan tapi Dina hanya diam mengacuhkan Bimo


"aarghhh...." Bimo kesal karena Dina sama sekali tidak menengok ke arahnya. Dengan langkah lebar ia berjalan ke arah tempat parkir motor. Mengambil motornya, dan berniat mengikuti Dina.


Dina berjalan cepat meninggalkan area kampusnya. Ia buru-buru pulang ke kosnya, ia sedang tidak ingin bertemu siapapun. Tiba-tiba moodnya hilang karena bertemu Bimo. Bukan karena ia masih menyayanginya, tapi karena ia masih kecewa dan sakit hati.

__ADS_1


"Din...ayo aku antar" Bimo mengiringi langkah Dina dengan menaiki motornya. Dina hanya diam tidak ingin menanggapi Bimo.


Bukan Bimo namanya kalau ia menyerah, ia terus mengikuti Dina.


"mas...! sudah...! sebenarnya apa yang kamu mau?!" Dina mulai jengah


"aku hanya ingin mengantarmu!" ucap Bimo dengan tatapan memohon


"aku bisa sendiri!" ucap Dina berlalu


Tiba-tiba dari arah depan ada yang menghampirinya. Dina terperangah ia kira Bimo nekat untuk memotong jalannya, ternyata Wilson kakak sepupunya yang menghampirinya.


"Din, mau kembali ke kos?" tanya Wilson


"iya kak...kakak sendiri mau kemana?" Dina menghentikan langkahnya sesaat menoleh ke arah Bimo dan kembali menatap kakak sepupunya itu.


"aku mau ke kampusmu..." ucap Wilson santai yang belum menyadari jika di belakang Dina ada Bimo yang berhenti memperhatikan mereka.


"ada perlu apa hari sabtu begini ke kampus aku?" tanya Dina heran


"cuci mata..." Wilson tergelak


"antar aku kak...aku capek jalan kaki" Dina merengek


"ya sudah ayo naik...tapi ganti kamu yang traktir makan ya..." ucap Wilson menaik turunkan matanya


"beres..." Dina naik ke boncengan Wilson tanpa menoleh ke arah Bimo


"Dina...!" teriak Bimo, tapi Dina tidak menoleh sama sekali. Sedangkan Wilson menghentikan motornya karena ia merasa ada yang memanggil adik sepupunya itu.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan votenya ya


Ditunggu kiriman bunga dan kopinya ya terima kasih 😘😘


__ADS_2