Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 154 Libur ujian


__ADS_3

Karena sudah terlalu sore, Dendy mengantarkan Dina pulang. Masih banyak waktu untuk bisa pergi bersama. Masih ada empat hari lagi sebelum Dina kembali ke kota J.


Setelah mengantar Dina, Dendy pulang ke rumahnya. Sejak Dina kuliah di luar kota Dendy tak lagi keluar malam. Paling malam jam delapan ia sudah sampai rumahnya.


Biasa di jam sembilan malam ia akan menelpon Dina. Karena di jam segitu biasanya Dina sudah berada di kosnya. Mamanya Dendy begitu senang, Dendy sekarang menjadi anak yang lebih menurut padanya.


"dari mana? Sekolah jam segini baru sampai rumah?!" tanya mamanya dengan nada tinggi


"dari terminal!" jawab Dendy


"sekolah kamu sudah pindah terminal?!" papanya Dendy juga ikut-ikutan marah


"jemput Dina..." jawab Dendy kemudian masuk ke dalam kamarnya


Dendy meletakkan tas dan jaketnya, kemudian ia turun lagi untuk mandi.


"jangan bohong, jangan Dina kamu jadikan alasan!" ucap mamanya Dendy


"terserah mama, kalau mama tidak percaya telepon saja Dina" jawab Dendy acuh sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Mamanya Dendy kehabisan kata-kata, baru saja ia merasa lega karena Dendy tak lagi pergi tanpa ijin, tapi kali ini ia pergi langsung dari sekolahnya tanpa memberi kabar mama atau papanya terlebih dahulu.


Setelah membersihkan dirinya, Dendy ke dapur untuk minum.


"kak...tadi ada kak Nana ke sini" ucap Rio adik Dendy


"buat apa ke sini?" tanya Dendy ketus


"mana kutahu kak..." Rio mengedikkan bahunya dan pergi meninggalkan Dendy.


Dendy pun kembali ke atas ke kamarnya. Ia merebahkan badannya, ia merasa letih sekali. Tak lama ia pun terlelap.


.


Keesokan harinya Dina bangun siang, mamanya membiarkannya untuk bangun sesuka hatinya. Mumpung Dina libur pikirnya.


"hari ini kamu keluar tidak Din?" tanya mamanya Dina


"belum tahu ma, ada apa?"

__ADS_1


"mama mau pergi nanti siang, kamu jaga adik-adik di rumah ya.." ucap mamanya Dina


"baik ma..."


Dina menurut dengan perintah mamanya. Ia seharian hanya di tidur dan menonton tv. Sungguh membosankan, ia berpikir jika ia berada di kosnya, ia bebas pergi kemana saja.


Karena merasa bosan, seperti biasa ia mendengarkan radio. Adik-adiknya pun sudah pulang dari sekolah ia merasa lebih lega karena biasanya jika ia bosan pasti akan tertidur. Dina sudah berpesan kepada adik-adiknya agar tidak keluar rumah.


Benar saja Dina tertidur, ia terbangun saat ada yang mengetuk pintu samping rumahnya. Dengan mata yang masih setengah terpejam ia keluar dan membuka pintu.


Terlihat Dendy masih memaikai seragam sekolahnya berdiri di depan pintu dengan senyum menawannya.


"lagi tidur?" tanya Dendy lembut


"iya..." jawab Dina sambil mengucek matanya


"pulang sekolah langsung ke sini? Mamamu tidak marah?" tanya Dina


"iya...tidak apa-apa sayang..." ucap Dendy menenangkan


"kamu duduk dulu, aku mau cuci muka" ucap Dina kemudian ia berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka


Tak berselang lama, Dina keluar lagi dengan wajah yang lebih segar.


"rencana hari ini mau ke studio terus mampir ke rumah, tapi mama pergi ya sudah aku jadi bosan akhirnya ketiduran" Dina mengerucutkan bibirnya


Dendy tersenyum teduh, sejak Dina berkuliah di luar kota lebih terlihat manja. Sisi kekanak-kanakannya kadan keluar begitu saja ketika bersamanya.


Dendy tidak mempermasalahkan itu semua. Ia bahagia Dina manja dengannya, ia merasa Dina membutuhkannya, dan bergantung padanya. Memang sejatinya cowok suka cewek yang tidak terlalu mandiri dan terlalu manja.


Manjanya Dina tidak berlebihan, ada kalanya sisi mandirinya yang lebih dominan. Ada kalanya juga sisi manjanya lebih dominan. Jika Dendy bertanya kenapa Dina manja jawabannya hanya satu, kangen. Jawaban paling ampuh yang membuat Dendy tidak bisa berkata-kata lagi.


"mungkin besok aku main ke rumah, aku rindu masakan mama Tari" Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas.


"iya...pasti mama tidak akan marah-marah, karena calon menantu kesayangannya datang" ucap Dendy dengan senyum mengembang


"memangnya mama marah kenapa?" tanya Dina menegrutkan dahinya


"kemarin marah-marah waktu aku jemput kamu dan pulang kemalaman, dikira aku berbohong" Dendy menceritakan semuanya

__ADS_1


"oh....maaaf gara-gara aku kamu dimarahi mama" Dina tak enak hati


"tidak apa-apa, aku yang salah tidak pamit mama kalau mau pergi" Dendy membelai rambut Dina


"lain kali aku tidak akan menyusahkanmu, aku akan pulang sendiri saja" ucap Dina lirih


"jangan...lebih baik aku jemput, nanti kalau ada yang menggangu kamu di terminal bagaimana?" Dendy tersenyum teduh


Dendy menenangkan Dina, ia berusaha agar Dina tidak jadi cewek yang mandiri ketika bersamanya. Sejak Dina kuliah, Dendy yang lebih sering menenangkan segala kekawatiran Dina.


Entah kenapa setiap Dina merasa pikirannya sedang banyak masalah, bersama Dendy seolah masalah itu bisa selesai dengan sendirinya. Bahkan sejak terkahir pertengkaran mereka tempo hari yang mengakibatkan dirinya masuk rumah sakit, mereka tidak lagi terlibat perdebatan yang berarti.


Jarak membuat mereka lebih saling mengerti dan memahami. Jarak yang membuat kedewasaan mereka bertumbuh. Jaraklah yang akhirnya membuat mereka menyadari jika mereka terikat satu sama lain.


Meski ada Bimo yang selalu dekat dan selalu memenuhi apa yang Dina butuhkan, tapi Dina tetap membutuhkan Dendy. Dendy lah yang selalu ia ingat setiap saat.


Keesokan harinya, sesuai janji Dina, ia pergi ke studio untuk membantu Alex. Karena hanya Alexlah yang kuliah di sore hari maka studio dia yang mengurus.


Dina menemani Alex siaran hingga menjelang makan siang. Menjelang makan siang ia pergi ke rumah Dendy. Sebenarnya tidak ada kewajiban bagi dirinya untuk datang, ia hanya tidak ingin mamanya Dendy marah kepada Dendy.


"Dina...kamu benar pulang?!" mama Tari kaget melihat Dina sudah berdiri di depan pintu rumahnya


"iya tante, kebetulan sedang ujian tengah semester dan sudah selesai makanya Dina pulang" ucap Dina dengan senyum tipisnya


"tante kira Dendy hanya beralasan saja, ayo...masuk...masuk..." mama Tari seperti biasa ia selalu senang jika Dina datang


"kalau tahu kamu ke sini tante akan memasak makanan kesukaanmu, hari ini tante tidak belanja" ucap mama Tari dengan raut wajah sedihnya


"tidak apa-apa tante..." Dina tersenyum merasa tidak enak hati


"nanti tante telepon warung bakso langganan kalian saja, biar diantar" ucap mamanya Dendy


Dina hanya tersenyum menanggapi kehebohan mamanya Dendy ketika ia datang. Terbesit rasa bersalah dalam hati Dina, ia tidak tahu bagaimana reaksi mamanya Dendy kalau sampai tahu ia dekat dengan mantannya tanpa status apapun.


Rasa bersalah Dina seringkali muncul begitu saja ketika bertemu orang-orang yang sangat menyayanginya. Ia hanya berharap semoga Bimo bisa segera menyadari jika hati Dina tak mungkin lagi ia rebut.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2