
Bel tanda masuk pelajaran jam sore telah berbunyi. Dina masih enggan untuk masuk ke kelasnya. Dia masih duduk-duduk di taman depan kelasnya sambil memikirkan perkataan Toni barusan. Gilang dan Krisna juga berjalan masuk ke ke kelasnya, mereka melewati kelas Dina dan mendapati Dina sedang duduk sendirian di depan kelasnya.
Mereka bertanya-tanya, sedang apa Dina duduk sendiri di bawah pohon di depan kelasnya. Gilang menyuruh Krisna menghampiri Dina karena dia harus segera masuk karena ada ulangan harian.
"Din...kamu melamun?" ucap Krisna menghampiri Dina
"tidak Na..." jawab Dina
"kamu kenapa sendirian?"
"biasa juga sendiri Na..." ucap Dina terkekeh
"tadi habis dari mana, sama temannya mas Gilang?"
"eh..." Dina terkesiap tidak menyangka jika ada yang memperhatikannya waktu pergi dengan Toni
"iya tadi kamu kemana boncengan berdua, mesra lagi" Krisna mencebik
"oh...tadi...makan bakso sama Toni" ucap Dina datar
"kalian pacaran?"
"tidak cuma dekat saja" Dina beranjak dari tempat duduknya
"oh...syukurlah..." ucap Krisna
"apa Na?" Dina menatap Krisna penuh tanda tanya
"ah....tidak...." Krisna menjadi salah tingkah "bisa minta nomor telepon rumahmu Din?"
"nomor rumahku XXXXXX sudah ya...aku masuk kelas dulu, guruku sudah datang" ucap Dina sambil berjalan terburu-buru masuk kelas
"Dina...Dina...sebenarnya kamu sudah punya pacar belum sih, aku jadi bingung" Krisna menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan ke kelasnya.
Keesokan harinya, Dina yang biasa datang pagi-pagi sekali datang lebih siang dari biasanya. Dina sampai sekolah sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Berbarengan dengan Toni dan Gilang masuk ke gerbang sekolah.
"Din....telepon Dendy ya..." ucap gilang memberikan selembar kertas kecil bertuliskan nomor telepon
"maksudnya Lang...?" Dina menatap Gilang yang berjalan meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya
"pagi princess..." sapa Toni dari arah belakang
"eh..." Dina menoleh ke arah belakang
__ADS_1
"tumben baru datang.." ucap Toni lembut
"iya...akhir-akhir ini lagi jenuh di kelas, sering kesepian..." terang Dina "kamu sendiri tumben lewat depan, bukannya lebih enak kalau lewat belakang?" ucap Dinaa berjalan beriringan dengan Toni
"sengaja... mau ketemu cewek cantik penghuni kelas depan " ucap Toni dengan mata berbinar
"oh... begitu..." ucap Dina biasa-biasa saja karena tidak mau merasa percaya diri kalau cewek yang dimaksud Toni adalah dia
"ya sudah aku ke kelas dulu...belajar yang rajin ya... " pamit Toni berjalan menuju kelasnya
"iya..." balas Dina berjalan belok ke arah kelasnya
Sepanjang pelajaran berlangsung Dina memikirkan perkataan Gilang, ada apakah sebenarnya. Kenapa dia disuruh telepon Dendy, kenapa juga bukan Dendy yang meneleponnya. Sampai tidak terasa bel istirahat pertama berbunyi. Dina enggan ke kantin pak Jo, dia lebih memilih pergi ke perpustakaan.
Dina memilih ke perpustakaan untuk menghindari orang-orang yang akhir-akhir ini sedang mencoba dekat dengannya. Dina juga enggan ke studio, karena dia tidak ingin memberikan harapan kepada Widi. Dina memilih menyendiri dan menyibukkan diri dengan membaca buku-buku.
Di dalam perpustakaan dia merasa lebih tenang, tidak ada yang berani berbincang-bincang terlalu lama karena sudah pasti akan ditegur oleh petuga perpustakaan yang terkenal disiplin apalagi kalau ada jam pelajaran kosong.
Waktu istirahat selama lima belas menit terasa sangat singkat, bel pun telah berbunyi. Dina bergegas kembali ke kelasnya, Dina heran kenapa teman-temannya masih berada di luar kelas. Setelah bertanya pada Anto ketua kelasnya akhirnya Dina memutuskan kembali ke perpustakaan karena satu jam pelajaran ke depan kosong dan tidak ada tugas sama sekali.
Toni yang belum masuk ke kelasnya memperhatikan Dina yang berjalan melewati seberang kelasnya. Toni berlari ke arah Dina dan mengahmpirinya.
"Mau kemana Din?" tanya Toni sambil meraih pergelangan Dina.
"mau ke..." ucapan Dina seakan melayang di udara
"suit...suit...."
"Toni balikan lagì...."
"Dina ....Toni Love you" dari arah kelas Toni suara riuh ramai terdengar
Toni melepaskan genggamannya karena melihat Dina menundukkan kepalanya menahan malu
"aku mau ke perpustakaan, sudah ya...." ucap Dina sambil berlari ke arah perpustakaan meninggalkan Toni dengan menutup wajahnya menahan rasa malunya
Di perpustakaan Dina sengaja duduk di pojok belakang, meja yang sedikit tertutup karena terhalang oleh rak-rak buku. Dina memilih tempat tersebut karena ingin menyendiri dan menghilangkan rasa malunya. Dina duduk menghadap dinding membelakangi rak-rak buku yang berjejer rapi .
"Din..." ucap seseorang pelan setengah berbisik berdiri di sebelah Dina
Dina menoleh ke arah datangnya suara, dan mendapati Gilang berdiri tepat di sebelah kanannya.
"kamu kenapa sendirian di perpustakan?" tanya Gilang setengah berbisik agar tidak terdengar oleh petugas perpustakaan
__ADS_1
"jam kosong Lang..." ucap Dina kembali menghadap buku yang dia baca
"aku duduk di sini boleh?" duduk menarik kursi dan duduk di sebelah kanan Dina
"hmm..."
"kamu balikan sama Toni?" tanya Gilang sambil membolak-balik buku yang dia pegang
"kata siapa?" ucap Dina menoleh ke arah Gilang
"kata mataku Din..."
"matamu salah mungkin perlu beli kacamata kuda" ucap Dina kembali membaca buku yang dia pegang
Gilang menghela nafas kasar, bingung harus bicara apa sama Dina. Sebenarnya bukan urusan dia juga bertanya seperti itu. Tapi melihat Dendy adik sepupunya yang terlihat terpuruk tak bersemangat Gilang memberanikan diri untuk bertanya kepada Dina
"kemarin aku , Dendy dan Krisna melihat kamu sama Toni berboncengan mesra, terus waktu aku ke sini tadi aku lihat kamu juga sedang sama Toni. " terang Gilang
"aku cuma berteman dengan Toni Lang" ucap dina tanpa melihat ke arah Gilang
"kalau begitu kamu telepon Dendy Din...dia dari kemarin tidak keluar sama sekali, pagi ini aku berangkat ke sekolah dia juga belum keluar kamar" terang Gilang
"memangnya dia kenapa? "ucap Dina datar masih sambil membaca bukunya.
"setelah melihat kalian mesra-mesraan di depan gerbang kemarin dia diam saja" ucap Gilang
"kenapa aku yang telepon, kenapa bukan dia saja, yang punya masalah kan dia, kenapa aku yang mesti repot-repot menelpon dia" ucap Dina ketus menutup bukunya dan berjalan meninggalkan Gilang
Dina merasa semakin rumit saja masalah dia dengan Dendy dan Toni. Tidak merasa punya hubungan apapun tapi dia yang merasa seolah-olah semua masalah itu dia penyebabnya. Dendy yang tiba-tiba murung kenapa dia yang harus menelponnya. Toni yang secara terang-terangan menunjukkan perasaannya ke dia tapi entah mengapa Dina belum bisa membuka hatinya lagi untuk Toni.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1