Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 82


__ADS_3

Mendengar cerita Dina, Dendy merasa geram tega-teganya orang baru sudah menuduh Dina tidak peduli dengan kondisi studio. Padahal jauh sebelum mereka bergabung Dina dan teman-temannya sudah lebih dulu bekerja keras demi mewujudkan rencana yang telah lama diinginkan beberapa guru dan kepala sekolah.


Dina turut ambil bagian meskipun jarang terlibat langsung. Ide-ide untuk mencari dana yang bisa menambah untuk biaya membangun studio itu juga tidak luput dari andil Dina. Ya meskipun tidak terlalu besar jumlahnya tapi sebagai siswa SMA ide-ide tersebut cukup membantu.


"aku kira kamu berantem beneran Din, sampai pukul-pukulan" Dendy terkekeh


"ih...kok gitu... Rela kalau aku sampai dipukul orang?" Dina mencebik


"ya enggaklah...masak aku tega pacarku yang cantik ini terluka" Dendy tersenyum jahil.


Dina hanya mengerucutkan bibirnya, dia kesal kenapa Dendy malah bisa berpikiran kalau dia adu jotos dengan teman-temannya apalagi dengan cowok.


"jangan begitu, kalau bibirmu seperti itu, aku akan mencium bibirmu" bisik Dendy dengan nada menggoda.


Dina yang mendengar itu membulatkan matanya dan menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya. Bukan Dina tidak mau hanya saja masih takut jika ciuman itu akan menjadi kebiasaan dan akhirnya kebablasan.


Melihat tingkah laku Dina yang seperti itu Dendy malah tergelak, mudah sekali mengerjai Dina. Hanya dengan diancam akan dicium Dina sudah panik.


"sudah lama Din?" seseorang masuk ke dalam studio dan menutup kembali pintunya


"sudah, sudah dari tadi" jawab Dina


"semua sudah aku catat tinggal diketik kalau mau dilaporkan ke pak Har" lanjutnya


"tidak perlu, yang penting semua sudah kamu susun dan catat dengan teliti, tulisan tangan tidak masalah yang penting semua pengeluaran sudah kamu tulis di situ" ucap seseorang yang baru masuk studio


"iya kamu saja yang kasih ke pak Har ya... Aku sedang malas meladeni sindiran-sindirannya" Dina menyerahkan buku yang biasa untuk pembukuan beserta catatan-catatan lainnya.


"kita berdua saja bagaimana Din?"


Dina melirik ke arah Dendy, yang dari tadi hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan. Dina tahu pasti Dendy sedang menahan rasa cemburunya.


"kenapa kita berdua Wid? Kamu saja ya..." ucap Dina merayu Widi agar Widi saja yang menyerahkan laporan ke pak Har.


Yang baru datang tadi adalah Widi. Widi sempat terkejut melihat Dendy yang ada di studio bersama Dina. Tapi sebisa mungkin Widi menahan perasaan marah dan cemburunya di hadapan Dina. Widi tahu itu salah dia sendiri karena selalu menyia-nyiakan kesempatan.


"kamu yang menulis semuanya, ya harusnya kamu juga yang melaporkannya, jika ada yang tidak jelas aku tidak bisa menjelaskannya ke Pak Har Din" terang Widi "lagipula biasanya juga kamu yang menghadap Pak Har" imbuhnya


"sudah Din, kamu selesaikan tugasmu, aku tunggu di sini" Dendy berbisik di telinga Dina


"ya sudah aku ke pak Har sekarang" Dina beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar studio

__ADS_1


.


.


Sepeninggal Dina baik Widi ataupun Dendy mereka tidak ada yang berbicara. Mereka berbicara melalui tatapan mereka. Tatapan tidak suka, marah serta cemburu tergambar di mata mereka


"kamu jangan kecewakan Dina, kasihan Dina selama ini selalu dikecewakan oleh orang-orang yang ia sayangi" ucap Widi datar


"kamu tidak perlu berbicara seperti itu, karena sebelum kamu bicara seperti itu aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan" jawab Dendy datar


"bagus...kalau kamu sudah mengerti" Widi meninggalkan Dendy yang masih duduk di dekat pintu masuk. Dengan menahan rasa kesalnya dia berjalan menghampiri Alex


Alex yang tahu bagaimana situasi yang sebenarnya hanya bisa diam. Dia tahu sekarang dia sedang bersama dua orang yang sama-sama menyayangi Dina. Widi yang selama ini selalu melindungi Dina dari siapapun yang hendak menyakitinya tanpa Dina tahu. Widi selalu menjaga Dina dari jauh.


Tidak ada yang tahu bagaimana Widi selama ini berusaha melindungi Dina. Bahkan Toni yang tiba-tiba menjaga jarak dengan Dina juga ada campur tangan Widi. Hanya Alex yang tahu bagaimana Widi yang berusaha menjadi tameng untuk Dina dari orang-orang yang berniat tidak baik terhadapnya.


Tak berapa lama Dina sudah kembali ke studio, dengan senyum mengembang menghampiri Dendy yang masih duduk di tempat tadi.


"sebentar ya...aku ke dalam dulu" ucap Dina


Dina berjalan ke meja siar menghampiri kedua sahabatnya itu.


"aku? Kenapa?" Alex menunjuk ke arah mukanya, bingung kenapa namanya disebut


"kalau kamu butuh penyegaran, butuh teman baru kamu boleh mencari teman, dan tidak boleh sembarangan" ucap Dina


"sebenarnya aku sendiri bisa Din, toh masih ada kalian yang selalu siap membantu kecuali kamu" ucap Alex


"kok kecuali aku Lex..." protes Dina


"sudah ada pengawalnya" ucap Alex sambil menunjuk Dendy dengan dagunya


"haish....kamu itu...dari dulu aku masih bisa bagi waktu... Asal jangan malam-malam ya..." Dina terkekeh


"sudah....sudah....kasihan dari tadi menunggu kamu di sini, kamunya malah sibuk sendiri" usir Alex sedang Widi hanya acuh


"iya...aku pamit dulu mau jalan-jalan...." Dina pamit


Dina berjalan ke arah Dendy dan mengambil jaket serta tasnya yang dia taruh di dekat Dendy duduk


"ayo Den..." Dina memakai jaket serta menggendong tasnya

__ADS_1


"iya..." Dendy beranjak berdiri meraih tangan Dina dan menggandengnya berjalan keluar studio


"Den, kita ke tukang gorengan di depan dulu ya..." ucap Dina


"mau beli gorengan?" tanya Dendy


"iya...buat teman-teman... Aku belum syukuran" ucap dina santai


"hah...syukuran apa Din?" Dendy kaget ada acara apa Dina mau traktir teman-temannya


"syukuran kita lah..." Dina mencebik


"oh..." Dendy terkekeh


Mereka berdua berjalan bergandengan, ke tempat penjual gorengan yang berada tak jauh dari gerbang belakang sekolah Dina. Dina sengaja membeli gorengan untuk teman-temannya yang berada di studio sebagai ucapan syukur karena sekarang dia telah memiliki pacar lagi.


Setelah membeli gorengan mereka berdua 'pun berjalan kembali ke studio masih tetap bergandengan. Sebenarnya ada rasa cemburu dalam hati Dendy, melihat interaksi Dina dan Widi beberapa saat yang lalu. Tapi mendengar Dina yang akan mentraktir teman-temannya rasa cemburunya berkurang karena Dina mulai terbuka dengan teman-temannya siapa pacarnya yang sekarang.


Mereka berdua telah sampai di depan pintu studio. Dina membukanya dan di sana telah ada Joni dan Anto juga. Dina berjalan masuk diikuti oleh Dendy


"ini buat kalian, biar makin semangat mengerjakan tugas masing-masing ya..." Dina meletakkan bungkusan yang berisi gorengan di meja dekat pembatas antara meja siar dan ruang tunggu.


"wah...kebetulan tadi aku belum makan siang" Joni langsung membuka bungkusan gorengan.


"dihabiskan ya...aku pulang dulu... Jangan lupa itu sarang-sarang laba-laba dibersihkan" ucap Dina sambil tertawa


Dina berjalan meninggalkan studio dengan menggandeng tangan Dendy. Mereka berdua berjalan ke tempat parkir motor khusus guru dan karyawan karena tadi Dendy memarkirkan motor barunya di situ.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


Jangan lupa dukungannya ya bestie, like komen dan votenya


Terima kasih sekebon 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2