
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Dina selesai mengembalikan formulir. Ia berjalan menghampiri Dendy, Gilang dan Ani yang sedang menunggunya.
"bagaimana Din, di dalam ditanya apa saja?" tanya Ani
"panitianya cuma cek kelengkapan persyaratan saja, setelah lengkap ya terus dikasih nomor peserta ujian" jawab Dina
"oh..begitu... Sudah ya ..sekarang giliranku" ucap Ani buru-buru meninggalkan mereka karena sudah waktu gilirannya
"ujiannya kapan Yang?" tanya Dendy
"dua minggu lagi, kebetulan hari sabtu dan minggu" ucap Dina datar karena masih kesal dengan Dendy
"aku antar kamu!" ucap Dendy penuh penekanan, ia teringat tadi Dina bertemu Toni membuat rasa marahnya muncul kembali
"bukannya kamu sekolah? Aku tidak mau kamu bolos gara-gara mengantar aku ya...!" ucap Dina kesal
"kalian ini ada apa? Dari tadi kenapa bicaranya tidak enak didengar" tanya Gilang sambil menaatap Dina dan Dendy
"tidak ada apa-apa!" ucap Dina dan Dendy berbarengan
"kalau ribut jangan di depanku, aku pusing!" ucap Gilang berdiri meninggalkan mereka berdua
Dina dan Dendy hanya diam, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Karena merasa kesal Dina beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Dendy, tapi tangannya dicekal oleh Dendy
"kamu mau kemana?" Dendy menarik tangan Dina
"mau ke kantin" jawab Dina datar
Dendy beranjak dari duduknya "ayo ke kantin"
Tapi Dina hanya diam berdiri tidak bergerak. Ia menatap datar Dendy, dia benar-benar kesal. Bisa-bisanya Dendy tidak percaya padanya.
"kenapa diam?" tanya Dendy
Dina tak menjawab, dia masih menatap Dendy datar. Dendy mulai kehilangan kesabaran, dia melepaskan genggaman tangannya dan meninggalkan Dina sendirian.
"tadi yang maksa mengantar siapa? Kenapa aku malah ditinggal?" gumam Dina kemudian ia berjalan ke arah kantin ingin mendinginkan kepala dan hatinya
__ADS_1
Sedangkan Dendy ia berjalan mencari Gilang kakak sepupunya, ia yakin Gilang masih menunggu giliran. Benar saja Gilang hanya berpindah tempat menghampiri Toni dan teman-teman yang lain.
Dendy berjalan menghampiri Gilang yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"mas...aku pulang dulu, nanti mbak Ani jangan lupa diantar" ucap Dendy berbisik
"kenapa aku yang disuruh mengantar?" tanya Gilang dengan suara sedikit meninggi
"ya tadi kan mas Gilang yang menjemput, ya harus mengantar pulang juga" ucap Dendy yang mulai tidak bisa menahan rasa kesalnya. Apalagi di situ ada Toni yang sedang memperhatikan mereka.
"gara-gara kamu yang punya acara, aku yang harus repot" ucap Gilang dengan nada kesal. Sedangkan Dendy memilih tidak menghiraukan ucapan Gilang dan berjalan meninggalkan Gilang dan teman-temannya.
Dendy kembali ke tempat ia meninggalkan Dina, tapi tidak mendapati Dina di sana. Dina sudah pergi entah kemana Dendy tidak tahu. Dendy mencari-cari Dina, dia kebingungan karena Dina tidak bilang akan kemana. Dia berkeliling sekitar auditorium kampus tersebut mencari-cari keberaadaan Dina.
Setelah lelah berkeliling, ia 'pun memutuskan untuk pergi ke kantin, karena seingat dia tadi Dina hendak ke kantin. Dendy berjalan lebih cepat, ia melihat Dina dari kejauhan sedang duduk sedang mengobrol dengan siapa ia tidak tahu.
Dina terlihat akrab, dan terlihat begitu senang, bahkan Dina bisa tertawa dengan lepas. Padahal beberapa saat yang lalu Dina bersikap dingin terhadapnya.
Dendy berjalan mendekati Dina, dia mencoba meredam amarahnya. Mencoba lebih tenang dan tidak mau memperkeruh suasana.
"sayang...aku cari kemana-mana ternyata kamu ada di sini" ucap Dendy lembut dan duduk di sebelah Dina
"ini siapa Din?" tanya cowok itu
"aku pacarnya Dina" ucap Dendy
Dina hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Biarlah Dendy berbicara sesuka hatinya kepada cowok yang baru ia kenal. Toh itu tidak berpengaruh apa-apa bagi dia.
"jadi....kamu sudah ada yang menemani, kalau begitu aku pergi dulu, masih ada kuliah habis ini" ucap cowok itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas
"oh...terima kasih ya.. sudah menemaniku dan terima kasih juga untuk traktirannya" ucap Dina tersenyum ramah dan mengangkat botol minuman yang dia minum
"semoga sukses ya Din..." cowok itu berjalan meninggalkan Dina dan Dendy
"oke..." Dina melambaikan tangannya ke arah cowok itu. Cowok yang baru ia kenal saat ia duduk sendirian menunggu Dendy. Cowok yang mungkin sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Dina.
Dialah Fery, mahasiswa semester empat jurusan teknik sipil di kampus tempat Dina mengambil formulir. Salah satu mahasiswa populer di kampusnya karena kepintaran dan ketampanannya.
__ADS_1
Melihat cowok yang meninggalkan Dina baru saja, Dendy merasa rendah diri lagi. Dina dikelilingi oleh cowok-cowok tampan, sedangkan dia biasa-biasa saja, tidak tampan, tidak pintar dan tidak begitu populer.
"itu siapa Din?" tanya Dendy yang kembali memanggil nama bukan sebutan sayang lagi.
"teman..." jawab Dina acuh
"aku keliling mencari-cari kamu, kamu malah di sini berduaan dengan cowok lain" ucap Dendy kesal
"siapa yang meninggalkan aku sendiri?!" Dina masih kesal dengan Dendy "siapa juga yang memaksa mengantar aku karena tidak percaya akan apa yang aku lakukan?!"
"iya...iya aku yang salah....ayo ikut aku!" ucap Dendy dengan nada tinggi dan menarik paksa tangan Dina
Dendy menarik tangan Dina berjalan menuju tempat parkir. Ada sepasang mata yang dari tadi memperhaatikan mereka dengan mengepalkan kedua tangannya.
"ayo naik" Dendy menyuruh Dina naik ke boncengannya
Dendy benar-benar emosi, ia mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Dina hanya diam tidak protes dengan apa yang Dendy lakukan. Ia terlalu capek meladeni Dendy yang mendadak menjadi posesif.
Padahal baru beberapa hari yang lalu, hubungan mereka baik-baik saja, merayakan ulang tahun mamanya Dendy. Semua berawal dari Dina yamg menolak diantar dan pergi mengambil formulir tanpa memberi Dendy kabar.
Salahkah Dina yang tidak mau merepotkan dan mengganggu sekolah Dendy? Menurut Dina, Dendy terlalu berlebihan terhadapnya. Sebelum-sebelumnya Dendy sering mengabaikan Dina, Dina tidak masalah bahkan tidak protes. Tapi sekarang ia tiba-tiba menjadi sosok yang berbeda.
Dendy yang posesif, yang tempramennya tidak jelas hanya karena masalah sepele. Yang belum tentu terjadi. Sifat buruknya muncul kembali, suka menyimpulkan segala sesuatu sendiri. Tanpa bertanya atau mendengarkan penjelasan dari yang bersangkutan.
Dina dibuat bingung, di awal mereka pacaran Dendy adalah cowok yang umurnya lebih muda darinya, tapi pemikiran dan perilakunya lebih bijaksana, lebih dewasa dari dirinya. Itulah yang membuat Dina mantap menerimanya sebagai pacar.
Tapi sekarang, semua sifat yang ia banggakan dari Dendy hilang entah kemana. Sifat kekanak-kanakannya muncul, tempramennya pun berubah-ubah. Dina seperti kehilangan sosok Dendy yang ia kenal.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya bestie...
Terima kasih sekebon bestie 😘😘