Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 93


__ADS_3

Entah kenapa, kali ini Dina begitu tenang, menyikapi masalahnya dengan Dendy. Tidak seperti dulu waktu berpacaran dengan yang sebelum-sebelumnya. Dulu Dina selalu saja terpuruk ketika mendapati mantan-mantannya mengecewakannya.


Tapi tidak kali ini, dia begitu tenang dan tegar, sedih dan kecewa itu pasti tapi Dina tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaannya. Mungkin karena saat ini Dina juga punya pelarian ketika rasa sedih dan kecewa menyeruak dalam hatinya.


Dina masih ada tanggung jawab untuk bisa lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Selain itu Dina juga masih punya tanggung jawab mengelola studio SMAX fm. Kesibukannya itulah yang menjadi pelariannya.


Sebenarnya bisa dengan mudahnya ia mengencani cowok-cowok yang pernah mendakatinya, tapi Dina tidak mau karena ia berpikir akan menimbulkan masalah baru di kemudian hari.


Ia lebih memilih bertahan, melihat seberapa jauh hubungan Dendy denga cewek yang ia lihat waktu itu. Dan seberapa gigih Dendy mempertahankan dan memperjuangkan maafnya kembali.


Dina masih meyakini Dendy adalah cowok yang tepat untuknya, yang bisa menemani hari-harinya kelak. Entah perasaan itu terbesit begitu saja dalam hati dan pikirannya. Seolah-olah Dendy adalah jodohnya di masa yang akan datang.


Demi membuktikan perasaannya itu, Dina lebih memilih diam dan melihat apa yang akan Dendy lakukan untuk memperjuangkannya kembali seperti dulu.


Sebenarnya Dina sendiri 'pun menyadari, itu semua tak luput dari egonya yang lebih fokus dengan cita-citanya dan sempat mengabaikan Dendy beberapa waktu lamanya. Tapi itu semua sebenarnya bisa dibicarakan, bukankah setiap hubungan itu yang penting komunikasi?


Kunci dari berhasilnya sebuah hubungan adalah komunikasi, meskipun setiap hari bertemu, tapi tidak pernah mengutarakan apa yang dimau, apa yang tidak disuka, sebuah hubungan tidak akan terjalin dengan baik.


Berbeda halnya bila sering berkomunikasi, saling terbuka meskipun jarak memisahkan sebuah hubungan akan terjalin dengan baik.


"sekarang mau kamu apa Den?" Dina sedikit melembutkan ucapannya


"aku mau kita tetap bersama-sama Din, aku sayang kamu, aku tidak mau kita putus" ucap Dendy penuh dengan keyakinan tapi masih dalam sorot mata yang memendam kesedihan, bahkan matanya 'pun tampak berkaca-kaca


"hanya karena aku yang sedikit sibuk persiapan ujian akhir kamu jadi mencari pelarian, bagaimana kalau kita berhubungan jarak jauh?" tanya Dina tersenyum sinis


"aku tidak tahu Din, yang pasti aku tidak bisa berjauhan dengan kamu" ucap Dendy tertunduk


"lantas...kalau aku kuliah di luar kota bagaimana, apa kita harus putus?" tanya Dina


"kalau memang terpaksa kamu harus kuliah keluar kota, mau bagaimana lagi Din, meskipun aku tidak bisa kalau harus berhubungan jarak jauh aku harus bisa dan sanggup demi kamu" Dendy menatap Dina, mencari apakah Dina serius dengan perkataannya.


Dendy melihat kalau Dina serius dengan ucapannya. Dendy menjadi sedikit kawatir apakah ini pertanda Dina akan kuliah di luar kota? Apa yang sebenarnya telah ia lewatkan, dua minggu tidak bertemu Dina semua ucapannya bagai misteri yang harus ia pecahkan.


Ia merasa dari tadi Dina memutar-mutar pertanyaannya, Dendy bingung antara Dina yang akan meninggalkannya keluar kota ataukah memutuskan hubungan mereka. Ia benar-benar dibuat bingung dengan ucapan-ucapan Dina.


"Din...sebenarnya ada apa? Dua minggu kita tidak bertemu ucapanmu seolah-olah kamu ingin meninggalkan aku" ucap Dendy dengan raut penuh tanda tanya. Mata yang tadi berkaca-kaca berubah menjadi penuh tanda tanya.

__ADS_1


"tidak ada apa-apa, aku tidak meninggalkan kamu buktinya aku di sini ada bersama kamu" Dina terkekeh "bukankah sebelum berangkat tadi kamu bilang ada yang mau kamu bicarakan? apakah kamu lupa?"


"memang akau ingin berbicara dengan kamu, aku ingin menjelaskan semuanya agar kamu tidak marah lagi, dan sepertinya tanpa aku jelaskan kamu sudah tahu banyak hal" terang Dendy


"jadi kamu hanya ingin membicarakan masalah mantan kamu itu?"


"iya...aku hanya ingin mengakui semua kesalahanku, dan menceritakan apa yang seharusnya kamu ketahui " ucap Dendy


"memangnya apalagi yang harus aku ketahui?! Aku tidak peduli tentang masa lalu kamu, yang aku pedulikan hanya kamu dan kita, asalkan masa lalu kamu tidak mengusik kita aku akan mengabaikannya" ucap Dina


Dendy merenungkan apa yang baru saja Dina ucapkan. Dendy baru menyadari sesuatu, bahwa Dina sebenarnya tidak marah dengannya. Mungkin hanya kecewa dengan sikap Dendy


"jadi kamu tidak marah Din?" Dendy mulai bersemangat


"aku tidak marah, buat apa marah, buang-buang waktu dan tenaga saja" Dina mencebik


"benar tidak marah?" Dendy tersenyum jahil, sedangkan Dina membuang mukanya ke arah samping


"aku memang tidak marah, aku hanya kecewa...sangat kecewa...!" ucap Dina tidak menatap Dendy


"aku minta maaf Din, kalau aku telah mengecewakan kamu, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku mohon jangan memutuskan hubungan kita ini" Dendy meraih tangan Dina dan menggengam erat tanda ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya


"aku sudah memaafkan kamu, tapi rasa kecewa ini tidak bisa begitu saja hilang" ucap Dina menatap Dendy


"aku akan berusaha memperbaiki semua, asal kamu memberikan kesempatan kepadaku " ucap Dendy sungguh-sungguh


"aku perlu bukti Den, bukan kata-kata " ucap Dina serius


"aku akan membuktikannya Din, percayalah padaku " ucap Dendy dengan sorot mata tajam menunjukkan keseriusannya.


"jadi kita tidak jadi putus? Lanjutnya


"memang siapa yang bilang mau putus?" Dina terkekeh


"kamu sendiri yang bilang" Dendy mengerucutkan bibirnya


"iya kah?" Dina terkekeh "memangnya tadi aku bilang aku mau putus?"

__ADS_1


Dendy menggelengkan kepalanya. Dina tergelak melihat tingkah laku Dendy yang menurutnya lucu. Melihat Dina yang tertawa Dendy memicingkan matanya


"jadi kamu hanya mengerjaiku hmm?" tanya Dina dengan matanya berkilat-kilat jahil


"aku tidak mengerjai kamu Den, kamu sendiri yang tidak bisa menjaga kepercayaanku, sudah berapa kali kamu tiba-tiba menghilang ketika ada masalah" ucap Dina tersenyum mengejek


"aku lelah Den dengan sikapmu yang seperti itu, aku ingin setiap ada masalah kita bicarakan, bukannya malah menghilang, menyimpulkan semua sendiri, ketika aku tidak bisa dihubungi ya...kamu datang ke rumah bukannya malah bertanya sana-sini" Dina terkekeh


"maafkan aku yang selalu bodoh ini" ucap Dendy masih menggenggam tangan Dina


"iya...kamu memang bodoh...semua kamu simpulkan sendiri tanpa bertanya dulu, pernah dengar malu bertanya sesat di jalan kan?" tanya Dina dan Dendy mengangguk


"iya itu kamu....selalu tersesat dengan pikiran kamu sendiri, dan akhirnya kamu mencari pelarian" ucap Dina sinis "aku tahu kalau mantanmu pasti cewek yang menyebalkan"


"dari mana kamu tahu?" Dendy terhenyak melepaskan genggaman tangannya


"kalau tidak menyebalkan, sudah pasti kita tidak ada di sini sekarang, pasti kamu lebih memilih mantan kamu itu daripada aku"


"ingat ya Den...aku bukan pilihan, dulu kamu yang meyakinkan aku kalau kamu itu berbeda, kamu yang mengejar-ngejar aku, padahal kamu tahu aku dikelilingi cowok-cowok yang lebih segalanya dari kamu"


"aku tidak pernah menduakan kamu, berpikir untuk mencari pelarian 'pun tidak, karena aku masih ingat kalau aku sudah punya pacar meskipun pacarku sedang mengacuhkan aku"


"kenapa aku seperti itu? karena aku tidak mau suatu saat itu semua akan berbalik kepadaku, maka sebisa mungkin aku menjaga apa yang harus aku jaga, yaitu kesetiaan" terang Dina


Ucapan Dina benar-benar menohok, Dendy merasa tertampar. Dia yang dulu berjuang berusaha meluluhkan hati Dina. Mengejar-ngejar Dina, meyakinkan jika ia berbeda dengan mantan-mantan Dina. Tapi dia sendiri yang membuat dirinya seperti mantan-mantan Dina.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


Dukukng terus karya ini ya bestie...

__ADS_1


Please like komen dan votenya ya


__ADS_2