
Mereka berempat menghabiskan hari libur mereka dengan berkeliling pusat perbelanjaan. Pengalaman pertama bagi Dina bisa berjalan-jalan dengan teman-teman satu kosnya. Biasanya Dina hanya pergi ke toko buku dengan teman-teman kuliahnya atau diantar Bimo.
Menjelang sore mereka berempat pulang. Mereka berjalan kaki ke kos, karena jaraknya tidak terlau jauh dan juga agar lebih hemat. Dua puluh menit lamanya mereka berjalan kaki.
Sampai di kos mereka tidak langsung masuk, karena kelelahan mereka duduk di teras kos mereka. Meski lelah tapi mereka bahagia.
"besok-besok harus kita ulangi ladies day seperti ini..." ucap Reni
"ya kalian...makanya jangan pulang terus biar kita bisa begadang bersama lagi" protes Tere
"aduh kak...kalau aku tidak pulang terus bagaimana dong...?" protes Dina
"ganti pacar yang ada di sini saja Din..." Tere tergelak sedangkan Dina mengerucutkan bibirnya
"memangnya yang dari kemarin ke kos itu bukan pacar kamu?" tanya Tia dengan wajah polosnya. Dina menggelengkan kepalanya.
"ya ampun Dina... Kalau aku ada cowok tampan seperti itu pasti tidak akan aku tolak" Tia merasa gemas dengan Dina
"sudah...sudah...biarkan Dina mengganti kacamata dulu biar bisa melihat dengan jernih" Tere tergelak
Dina hanya diam, tidak mau menanggapi ucapan teman-teman kosnya. Walaupun sebenarnya tidak dipungkiri ada rasa bahagia ketika bersama Bimo tapi ia juga tidak mungkin mengkianati Dendy.
Terkadang Dina seperti di persimpangan jalan, haruskah ia melepas Dendy yang sudah berusaha berubah dan keluarganya yang selalu menerimanya dengan tangan terbuka dan memilih Bimo yang sudah menunjukkan penyesalannya dan memperbaiki kesalahannya.
"kamu sudah pulang?" tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunan Dina. Dina menengadah melihat Bimo yang sudah berdiri di hadaapannya
"sudah...sudah dari tadi kak..." ucap Reni terkikik geli. Seperti biasa Bimo selalu menampakkan wajah datarnya pada semua orang.
"boleh aku pinjam Dina?" tanya Bimo dengan suara tegasnya
"boleh...boleh...tidak dikembalikan juga tidak apa-apa" jawab Tere terkikik dan mendapat lirikan tajam oleh Dina.
Tere, Reni dan Tia pun bergegas masuk ke dalam kos meninggalkan Dina dan Bimo di teras.
"aduh kak...dia itu tampan...berwibawa...tapi sayangnya berwajah datar" ucap Tia saat menaiki tangga
"hanya Dina yang bisa membuat dia tersenyum..." jawab Tere santai kemudian ia membuka pintu kamarnya
__ADS_1
"sayang ya...cowok setampan itu dianggurin, aku juga mau.." ucap Reni
"sudah..biarkan saja Dina sadar... Ada yang mau berkorban untuk dia, dia lebih memilih berkorban untuk cowok lain" ucap Tere
.
Bimo duduk di sebelah Dina, menatap Dina yang terlihat kelelahan.
"dari mana?" tanya Bimo datar
"jalan kaki dari mall sebelah" jawab Dina santai
"kalau mau jalan-jalan kenapa tidak bilang?" tanya Bimo dengan senyum teduhnya
"aku pergi dengan teman-temanku" jawab Dina dengan santainya
"iya aku tahu kamu pergi dengan teman-teman kamu, tapi kalu kelelahan seperti ini kamu bisa sakit" ucap Bimo perhatian "kalau kamu bilang, aku bisa mengantar kalian kemana saja"
Dina hanya menatap datar pada Bimo. Banyak yang berubah dari Bimo, ia tak lagi memaksa Dina, biasanya melihat Dina seperti itu dia akan marah dan keesokan harinya pasti tidak akan membiarkan Dina kemana-mana sendirian.
Tapi kali ini, Bimo terlihat lebih santai tidak menanggapi dengan berlebihan.
"perginya kapan-kapan saja ya mas...aku lelah..." jawab Dina datar
"ya sudah, kita pergi makan saja kalau begitu" ucap Bimo dengan tatapan teduh.
Dina beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar kosnya. Sebenarnya Dina malas pergi dengan Bimo. Tapi terkadang Dina tak bisa menolak apa yang diminta Bimo.
Dina terlalu baik, tidak mau mengecewakan orang yang sudah berbaik hati padanya. Apalagi orang yang sudah sering membantunya.
Bimo masuk lagi ke mobil mengambil sesuatu dari dalam monil. Kemudian Bimo menunggu di teras dengan sabar, membawa buket bunga kesukaan Dina.
Setengah jam berlalu, Dina keluar dari kamarnya dan menghampiri Bimo. Bimo berdiri menyambut Dina kemudian ia mengulurkan buket bunga mawar kuning untuk Dina.
"apa ini mas?"
"bunga untuk cewek cantik di depanku" ucap Bimo dengan senyum mengembang
__ADS_1
"terima kasih" ucap Dina dengan senyum tipisnya
"berangkat sekarang atau nanti?" tanya Dina
"sekarang saja...mumpung masih sore"
Dina masuk lagi ke kamarnya dan meletakkan bunga di meja belajarnya, kemudian ia keluar lagi.
Bimo membukakan pintu mobil untuk Dina setela memastikan Dina duduk dengan nyaman ia pun menutup pintunya. Bimo duduk di sisi pengemudi dan mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"aku tahu yang ada di pikiranmu saat ini, ini mobilku sendiri hadiah dari papa di hari ulang tahunku kemarin" ucap Bimo dengan kedua sudut bibir terangkat
"oh...iya ya...mas kemarin ulang tahun, maaf aku lupa" ucap Dina dengan raut penyeslan.
"tidak apa-apa" ucap Bimo tersenyum tipis
"selamat ulang tahun mas..." Dina mencium pipi Bimo "maaf tidak memberikan kado"
Bimo terkekeh "ciuman tadi kado terindah dari kamu" ucap Bimo sambil menunjuk pipinya
Seketika pipi Dina memerah menahan malu, ia lupa, tiba-tiba ia mencium Bimo. Dina memalingkan mukanya menatap ke jendela mobil agar Bimo tidak tahu betapa malunya dirinya.
Bimo sesekali melirik Dina dengan kedua sudut bibir yang terangkat. Ia begitu senang, dalam hatinya ia tahu Dina mulai bisa menerima dia. Dina sudah tak lagi menunjukkan ketidaksukaannya pada dirinya. Meski kadang ia tahu Dina menghindarinya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
.
Reader tercinta...kalian tim mana nih? Tim DiBi atau tim DeDi? Tulis di kolom komentar ya... Terima kasih sekebon bestie
Jangan lupa mampir di karya 'JADIKAN AKU PACARMU!'
__ADS_1
Masukkan ke dalam favorit juga ya bestie...
Terima kasih sekebon bestie..