
Dendy menemani Krisna makan, dia hanya melihat Krisna makan begitu lahap, meskipun hanya nasi dan lauk ikan asin beserta sambal Krisna sudah membuka bungkusan yang ketiga. Dendy hanya geleng-geleng kepala, sepertinya Krisna benar-benar kelaparan.
"jangan ada bungkus yang keempat, sampai buka lagi, bayar sendiri!" ucap Dendy ketus
"pelit..." Krisna mencebik
"cepat habiskan!! aku mau jemput Dina "
"Dina bukannya pulang jam lima ya..." tanya Krisna sambil melipat kertas bungkus makanan yang telah habis ia makan
"Dina mau bolos les katanya" ucap Dendy masih menatap Krisna yang tangannya sudah terulur mengambil nasi bungkus lagi
"perasaan akhir-akhir ini dia sering bolos" Krisna sengaja mengalihkan perhatian Dendy agar dia bisa menambah nasi bungkusnya
Dendy yang tahu Krisna mengambil bungkusan yang keempat langsung merebutnya dan mengembalikannya ke tempat semula. Krisna hanya mengerucutkan bibirnya karena dia masih lapar.
"entahlah... Biarkan saja dia yang lebih tahu" ucap Dendy beranjak meninggalkan Krisna
"eh...ini belum dibayar...!!" Krisna berteriak memanggil Dendy
"oh...iya aku lupa " Dendy pura-pura lupa membayar makanan Krisna
Setelah membayar makanan yang dimakan Krisna Dendy berjalan kembali ke basecamp. Ia hendak menyelesaikan semua urusannya agar nanti dia bisa menghabiskan waktu bersama Dina.
Nana yang melihat Dendy bersemangat memyelesaikan laporan penjualan bingkisan mendadak menjadi berpikir bagaiman caranya agar dia bisa menghabiskan waktunya bersama Dendy.
Tapi keberuntungan tidak berpihak pada dia, Dendy sudah menyelesaikan semua tugas-tugasnya sebagai ketua panitia. Uang yang terkumpul pun sudah diserahkan ke bendahara.
Dendy mengambil jaketnya dan berjalan ke atah motor Dina terparkir.
"Na.... titip kunci motorku, kasih ke Adi tolong motorku diantar ke rumah" Dendy menyerahkan kunci motornya kepada Krisna
"kamu mau kemana Den?" tanya Krisna
"jemput Dina"
"ini baru jam berapa?"
"oh..iya...baru jam dua lebih dua puluh lima menit" Dendy terkekeh
Dendy kembali duduk di atas motor Dina, sambil menunggu waktu untuk menjemput Dina.
"Den...aku mau pulang tolong antar aku ya..." ucap Nana dengan nada manja menghampiri Dendy
"pulang sendiri... "ucap Dendy tanpa menatap Nana
"kamu baru saja kenal dengan Dina sudah kamu antara jemput, aku yang sudah lama kenal denganmu tidak pernah sekalipun kamu mengantar aku pulang" ucap Nana sambil menghentak-hentakkan kakinya
__ADS_1
"memangnya kamu siapa?" tanya Dendy menohok
Dendy sudah malas meladeni Nana, tidak ada habisnya Nana berusaha mendekati dia padahal Dendy sudah sering menolaknya. Setelah mendengar perkataan Dendy, Nana pergi meninggalkan Dendy dengan raut wajah yang sulit diartikan.
.
.
Dina tidak fokus mendengarkan pak Har yang menjelaskan materi di depan kelas. Sedari tadi pikirannya melayang entah kemana. Terlalu banyak yang dia pikirkan sampai-sampai pak Har sudah mengakhiri lesnya dia tidak paham materi apa yang dijelaskan.
Dina bergegas memasukkan buku-bukunya, dia keluar kelas dan berjalan tergesa-gesa takut Dendy sudah menunggunya. Dina berjalan ke pintu gerbang belakang, ia mendapati Dendy yang sedang duduk di atas motor miliknya.
"sudah lama?" Dina menghampiri Dendy
"baru saja, mungkin lima menitan" ucap Dendy sambil melirik ke pergelangan tangannya "pulang atau mau les lagi?"
Dina menjawab dengan gelengan kepalanya.
"terus mau kemana?" tanya Dendy lembut
"entahlah...aku sendiri juga bingung" Dina mengedikkan bahunya
"mau ke taman atau ke danau?" tanya Dendy lembut sambil memberikan helm Dina
"hmm...ke danau saja lah Den..." ucap Dina sambil mengambil helm yang dibawa Dendy.
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit dengan kecepatan rendah Dendy dan Dina telah sampai di danau buatan tersebut. Dendy memarkirkan motor milik Dina tidak jauh dari taman pinggir danau.
Mereka berdua berjalan bergandengan menuju taman. Dina memilih duduk di sebuah ayunan yang cukup untuk dua orang dengan duduk berhadap-hadapan
"pasti tadi ketemu Nana" ucap Dina dengan nada sedikit tidak suka
"iya memang" ucap Dendy dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya
"tuh...kan ketemu Nana..." Dina mengerucutkan bibirnya
"memangnya kenapa kalau aku bertemu Nana?" Dendy sengaja menggoda Dina, sedangkan Dina masih setia mengerucutkan bibirnya
"kamu cemburu ya?" Dendy tergelak
"sudah tahu aku cemburu" Dina mencebik
"Dina sayang... Aku memang bertemu Nana, dia yang sengaja menemui aku, tapi aku abaikan...sudah punya pacar secantik ini masak iya aku masih melirik yang lain" Dendy mencolek dagu Dina
"gombal..." Dina membuang mukanya ke samping.
"memang kenyataannya seperti itu terus aku mau bilang apa?" Dendy terkekeh
__ADS_1
"seminggu ini kamu kemana saja?" Dina menatap Dendy dengan raut wajah penuh tanya. Pasalnya seminggu terakhir Dendy tidak mengabarinya sama sekali
"bantu-bantu mama di rumah mau ada arisan entah arisan apa aku tidak tahu, terus membuat bingkisan buat dijual hari ini, antar jemput Rio" terang Dendy
"oh... Semua bingkisan kamu yang buat? "
"iya... Tidak ada yang mau membantu mengerjakan, hanya aku, Krisna, Adi sama satu lagi kamu tidak mengenalnya, dari belanja sampai hias menghias untung saja hari ini semua mau membantu menjualnya"
"termasuk yang kamu kasih ke aku?"
"iya...yang punya kamu aku buat khusus untuk kamu, tidak ada duanya... Aku buat sepenuh hati jiwa dan ragaku" ucap Dendy dengan senyum mengembang
"benar kamu yang buat?" tanya Dina tersenyum lebar
"benar...kamu tanya mamaku, dapurnya aku acak-acak untuk membuat coklat spesial untuk kamu" Dendy mengembangkan senyumnya menceritakan mamanya hampir marah karena semua perlatan memasaknya dikeluarkan oleh Dendy. Tapi setelah melihat Dendy membuat apa akhirnya mamanya yang turun tangan membantunya.
"aku jadi malu sama mama kamu Den?" Dina tersipu tidak mengira kalau mamanya Dendy membantu membuat coklat untuknya
"tidak usah malu, aku sendiri yang mau membuat kejutan untuk kamu" Dendy menggenggam tangan Dina yang duduk di hadapannya
"terima kasih Den... " baru kali ini Dina diperlakukan spesial. Apa yang diberikan Dendy mungkin bukan barang-barang mahal, tapi dia sanggup membuat itu menjadi sesuatu yang spesial untuknya.
"tidak perlu berterima kasih, itu juga sebagai permohonan maafku karena seminggu ini aku mengabaikan kamu" Dendy membelai tangan Dina
Dina benar-benar merasa tersanjung, diperlakukan begitu spesial oleh Dendy. Tidak pernah terbayangkan akan seperti apa hubungannya dengan Dendy. Perlahan tapi pasti rasa traumanya menghilang karena perlakuan manis Dendy. Dendy yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman dan diutamakan.
"Den...kalau aku dikasih coklat sama cowok lain, kamu bagaimana?" tanya Dina hati-hati takut menyinggung Dendy
"selama kamu tidak menaruh hati padanya, tidak masalah" ucap Dendy dengan tatapan teduh "tidak baik menolak pemberian orang, terima pemberiannya kamu simpan kalau kamu tidak suka berikan ke orang lain tanpa sepengetahuannya"
Dina terkesima mendengar penuturan Dendy, dia begitu bijak menanggapi apa yang aku tanyakan, terbesit tanya di hatiku apakah dia tidak merasa cemburu.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
Yuk..digoyang jempolnya like komen dan votenya ya bestie...
Terima kasih sekebon
__ADS_1