
...HAPPY NEW YEAR 2023 🎉🎉...
......................
Dina menjadi canggung bersama Bimo, ia bingung harus bersikap seperti apa. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya akan mendapatkan hadiah semewah itu.
Dina takut, suatu saat Bimo akan menuntut kepastian darinya. Dina takut semua perhatian dan pemberian yang Bimo berikan membuat Bimo bisa memaksakan kehendaknya seperti dulu.
Sedangkan Dina, ia lebih nyaman akan hubungannya dengan Bimo sekarang ini. Tak ada status apapun yang mengikat mereka, yang mewajibkan Dina selalu mengalah dan mengutamakan Bimo seperti dulu.
Dina sendiri juga bingung, semakin lama ia merasa ada yang kurang saat tak ada Bimo, dan merasa aman dan nyaman ketika Bimo.berada di sisinya. Tapi ia juga begitu mencintai dan merindukan kehadiran Dendy di saat yang bersamaan.
"kenapa melamun?" tanya Bimo lembut
"ah....tidak apa-apa mas" kilah Dina
"mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Bimo dengan suara tegasnya
"aku ingin jalan-jalan dulu..." ucap Dina dengan nada sedih yang tertahan
"baiklah...ayo aku temani..." ucap Bimo berdiri dan mengulurkan tangannya ke Dina. Dina menatap Bimo dengan tatapan datar.
Bimo menghela nafasnya "setidaknya hanya untuk malam ini saja kita seperti pasangan-pasangan yang lain, ayo..." Bimo masih mengulurkan tangannya
Dina menerima uluran tangan Bimo dan berdiri dari duduknya. Mereka berdua berjalan-jalan di sepanjang pinggir pantai menikmati malam valentine mereka dengan pikiran masing-masing.
Bimo mengajak Dina duduk di tepi pantai di atas hamparan pasir pantai yang tak begitu basah. Angin malam begitu dingin menusuk tulang, namun Dina terlihat masih enggan untuk pulang.
"kamu kedinginan?" tanya Bimo lembut
Dina menganggukkan kepalanya, sedangkan Bimo mengehela nafasnya "jaketku tertinggal di dalam mobil, ayo kita pulang saja" ucap Bimo dengan suara tegas
"aku ingin di sini dulu mas.... Suara angin pantai membuat hatiku sedikit tenang..." ucap Dina memeluk lengan Bimo dan menyandarkan kepalanya di lengan Bimo
"baiklah...tapi jangan lama-lama, kamu bisa sakit nanti" Bimo membelai kepala Dina.
Bimo merasakan lengannya basah, ia pun menoleh ke arah Dina. Bimo hanya bisa menghela nafasnya, ia tidak tega melihat Dina sedih, namun ia juga tidak mungkin melanggar batasan mereka berdua.
__ADS_1
"kamu menangis lagi?" tanya Bimo dengan tatapan menerawang ke depan. Dina tak menjawab ia sibuk menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"kalau kamu ada masalah, selesaikan jangan berlarut-larut" ucap Bimo membelai lembut kepala Dina.
"iya mas...terima kasih... Mungkin aku saja yang terlalu terbawa perasaan" ucap Dina "sudah menjadi resiko ketika berhubungan jarak jauh, di sini aku yang egois, mementingkan egoku sendiri" ucap Dina mulai menceritakan apa yang ia rasakan
Bimo hanya diam mendengarkan cerita Dina, ia ingin sekali mengomentari perkataan Dina, tapi ia tahan. Bimo mendekap Dina dan membelai kepala Dina lembut.
"aku dan dia sama-sama tidak bisa berhubungan jarak jauh, tapi aku memaksakan diriku untuk menuruti egoku dengan kuliah di sini"
"aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua ini, aku sangat mencintainya, terkadang aku sering bertanya-tanya ke dalam hatiku, apakah ia juga mencintai aku"
Bimo membelai kepala Dina, ia ingin sekali memanfaatkan kesempatan di kala Dina sedang bermasalah dengan pacarnya. Namun ia juga takut jika Dina malah menjauh darinya.
"menangislah...jika itu membuatmu lega...tumpahkan seluruh perasaanmu saat ini, agar esok kamu bisa lebih tenang menghadapi semuanya" ucap Bimo lembut
Dina menangis, bahkan isak tangisnya semakin kencang. Dina menjadi lebih sensitif akhir-akhir ini, apalagi ketika ia pulang dan Dendy susah untuk dihubungi.
Bimo mengeratkan dekapannya, merasa iba dengan Dina. Ia teringat saat ia memutuskan Dina tanpa alasan, ia melihat kehancuran dalam sorot matanya. Mungkin dulu Dina juga seperti sekarang, sedih dan menangis.
Mengingat itu Bimo merasa bersalah, Dina tak sekuat yang dilihat orang, ia rapuh lebih rapuh dari cewek-cewek yang ia kenal.
"iya...sudah...." Dina menghapus air matanya "maaf, sudah menghancurkan malammu" Dina memaksakan senyumnya.
Bimo tersenyum "malam ini aku bahagia, setelah bertahun-tahun tidak merayakan valentine, hari ini aku bisa merayakan dengan orang yang aku sayangi" ucap Bimo lembut dengan tatapan teduh
"anggap saja aku tadi sedang meracau" ucap Dina sambil terkekeh
"aku senang kamu mau cerita masalahmu padaku" ucap Bimo menarik kedua sudut bibirnya ke atas
"masih mau di sini atau pulang?" tanya Bimo
"ini jam berapa?" tanya Dina
"sudah jam sebelas malam Din...."
"aku masih ingin di sini, tapi kasihan kamu..." ucap Dina lirih
__ADS_1
"aku akan menemani kamu, jangan sungkan kalau kamu butuh aku katakan saja" ucap Bimo tulus
"ah...tidak...aku tak ingin membebanimu dengan masalahku" Dina beranjak dari duduknya dan membersihkan baju yang ia pakai dari pasir pantai "ayo kita habiskan malam ini seperti pasangan yang lain" Dina terkekeh
"baiklah..." Bimo pun juga beranjak dari duduknya dan menepuk-nepuk celananya menghilangkan pasir yang menempel di celananya
Bimo menggandeng tangan Dina, mereka berjalan menuju tempat mobil Bimo terparkir. Bimo membukakan pintu mobil untuk Dina dan memastikan Dina duduk dengan nyaman.
Kemudian ia masuk ke sisi kemudi "Din..."
"iya mas..." Dina menatap Bimo yang duduk di sampingnya
"hmm... Kamu tahu bagaimana pasangan-pasangan lain merayakan valentine?" tanya Bimo
"memangnya apa mas?" Dina mengerutkan dahinya
"dengan begini..." Bimo mengecup bibir Dina
"mas....!" bentak Dina "ini kali kedua mas berbuat seperti itu padaku!"
"maaf Din... Ini terakhir kalinya aku melakukannya kepadamu" ucap Bimo. Dina diam ia menatap ke arah samping keluar jendela, Bimo menghela nafasnya "aku sangat mencintai kamu, setiap bersamamu aku berusaha menahan diri semampu aku, tapi hari ini melihatmu menangis, aku tak bisa menahan perasaanku, maafkan aku"
Bimo menyalakan mesin mobilnya, dana mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bimo fokus menatap lalu lintas malam itu yang sedikit lebih ramai dari biasanya.
"jujur, aku merasa aman dan nyaman ketika bersama mas Bimo, bahkan kadang aku merasa kehilangan ketika lama mas tidak ke kosku" ucap Dina menatap keluar jendela
"aku tersanjung..." ucap Bimo dengan senyum mengembang
"aku tidak bisa membalas semua yang telah mas lakukan kepadaku, aku pun juga tidak bisa membalas cintamu" ucap Dina menatap Bimo
"berbahagialah dengan pilihanmu, itu sudah cukup bagiku" ucap Bimo dengan senyum yang dipaksakan
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g