Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 212 Akhirnya yang dinanti datang


__ADS_3

Bulan kedua di semester ganjil, Dina masih tetap berharap, hubungannya dengan Dendy akan kembali seperti dulu. Harapan Dina begitu besar, sampai ia mengabaikan semua saran temannya untuk berhenti berharap.


Dina tak lagi diantar jemput Wilson, tiba-tiba saja Wilson menghilang tak lagi ke kampusnya. Dina pun juga sudah mengatakan pada Bimo, ingin mandiri. Ia ingin Bimo tak lagi mendekatinya selain untuk urusan tugas-tugas kuliah.


Dina tak ingin Dendy salah paham terhadapnya. Dina masih tetap menjaga perasaannya pada Dendy. Meski ia tak tahu pasti Dendy kuliah di jurusan apa, tapi yang jelas Dina tahu Dendy tak mungkin kuliah di fakultasnya.


Dina meyakini Dendy kuliah di fakultas ekonomi. Itu semua hanya tebakan Dina karena, ia tak pernah tahu sendiri ataupun diberitahu teman-temannya tentang keberadaan Dendy.


Setiap hari, ia melewati lorong fakultas ekonomi, berjalan menuju kampusnya. Dina bukan tipe yang percaya diri melihat ke arah orang-orang yang duduk di sepanjang jalan yang ia lewati.


Ia hanya menatap lurus ke depan dan tak berani melirik ke samping kiri dan kanannya ia hanya menatap lurus ke depan. Bahkan setiap melewati lorong depan ruang perkuliahan fakultas ekonomi ia berjalan sedikit cepat.


Bahkan ketika sepasang mata menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan ia pun tak menyadarinya. Dina tetap menatap lurus ke depan kecuali ada yang memanggilnya.


Ketika malam tiba, Dina merasa kesepian, teman-teman dekatnya mereka tak lagi menemani Dina. Teman-teman kosnya pun sudah mulai sibuk awal semester.


Hanya Tere yang sering menghabiskan waktu di kos karena hanya dia yang tidak memiliki pacar. Kadang mereka menghabiskan waktu dengan menonton film yang mereka pinjam di rental film.


"Din...kelanjutan hubunganmu dengan pacar kamu bagaimana?" tanya Tere sambil mengunyah keripiknya


"entahlah kak...aku tidak tahu..." jawab Dina sendu


"mau sampai kapan, status kamu digantung seperti ini Din?"


Dina termenung mencerna perkataan Tere. Memang benar apa yang dikatakan Tere, status Dina sekarang tidak jelas.


"kalau dia masih menyayangimu, sudah pasti sekarang dia ke sini menemui kamu, dan tidak membiarkan kamu kesepian" ucap Tere


"sebelum ini pun, aku juga yang lebih sering datang ke rumahnya kak" ucap Dina lirih


"kenapa kamu yang harus ke rumah dia? Kenapa bukan dia yang mendatangi kamu?"


"alasannya hanya satu, di rumahku tidak bebas kak...rasanya seperti semua orang mengawasi setiap apa yang aku lakukan, makanya lebih baik aku yang ke rumahnya atau pergi keluar rumah"

__ADS_1


"iya...ya...papa kamu terlihat kaku, dan tidak ramah pasti banyak aturan di rumah kamu" Tere terkekeh


"itulah sebabnya aku bisa kuliah di kampus kita ini kak"


"maksud kamu?!"


"dulu ketika pengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi negeri dan aku tidak diterima, aku memutuskan untuk menunda kuliah satu tahun untuk mempersiapkan tes tahun ini, tapi papaku menyuruhku kuliah di sini, alasannya karena tetangga-tetangga membicarakan aku yang sering kedatangan teman-teman cowok, mereka kira aku pacarnya banyak dan cewek enggak bener gitu kak" keluh Dina


Tere tergelak mendengar cerita Dina "lucu alasan papa kamu itu Din..."


"ya begitulah kak..." Dina menghela nafasnya kasar


Setelah percakapan dengan Tere itu, Dina mulai berpikir "apakah aku harus seperti ini terus, tanpa usaha memperbaiki keadaan?" batin Dina


Karena banyak pikiran, Dina kembali jatuh sakit. Penyakit lambungnya kambuh lagi, Dina kesulitan untuk bisa berdiri lama. Setiap berdiri perut Dina terasa semakin sakit.


Dina mencoba menghubungi Dendy, ia mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan singkat untuk Dendy.


βœ‰ Den, kamu sibuk tidak? Aku bisa minta tolong?


πŸ“¨ ada apa?


βœ‰ aku sakit, bisa antar aku ke dokter?


πŸ“¨kapan ?


βœ‰ kalau bisa sore ini ya...


Tak ada balasan lagi dari Dendy. Dina menunggu dan berharap Dendy benar-benar datang untuk mengantarnya ke dokter. Dina mencoba tidur agar kondisinya lebih baik.


Jam tiga lebih dua puluh menit, bel kos Dina berbunyi. Terdengar suara dari bawah "Dinaaa....ada yang nyari....!" Dina bingung siapa yang datang, apakah Dendy, Dina melihat dari balkon atas terlihat motor Dendy


"suruh naik aja kak...!" teriak Dina dari atas tangga

__ADS_1


Tak berapa lama, terlihat Dendy menaiki satu per satu anak tangga. Dengan senyum yang terkembang Dina, menyambut Dendy. Ia benar-benar bahagia, setelah berbulan-bulan tidak bertemu akhirnya Dendy mendatangi dirinya.


"kamu datang Yang..." ucap Dina dengan senyum mengembang


"iya..." jawab Dendy dengan tatapan datar "katanya sakit?"


"iya...perutku sakit...ini saja aku paksa berdiri" ucap Dina dengan nada manja


"istirahat dulu..." ucap Dendy datar


"iya..." Dina berjalan menuju kamarnya dengan menahan sakit di perutnya. Dendy mengikutinya dari belakang tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Sikap Dendy terlihat seperti mengunjungi temannya, buka pacarnya. Tak terlihat raut wajah bahagia ataupun sedih. Hanya senyuk yang dipaaksakan, bukan senyum bahagia ketika bersama Dina.


Dina menyadari semua itu, tapi Dina masih beranggapan jika Dendy seperti itu karena mereka tak bertemu berbulan-bulan. Dina mengabaikan apa yang ia lihat dan rasakan.


"ke dokter jam berapa?" tanya Dendy dengan nada datar


"jam lima, aku tidak tahu dokter yang praktek di kampus itu praktek jam berapa, tapi lebih amannya datang jam lima lebih saja" ucap Dina kemudian merebahkan tubuhnya untuk mengurangi rasa sakitnya.


Dina mencoba untuk mengobrol dengan Dendy. Dina tak menyinggung kenapa Dendy tiba-tiba menghilang, ia terlalu senang karena Dendy datang menemui dirinya.


Dina tak ingin merusak momen bahagianya, ia ingin menikmati saat-saat bersama Dendy seperti dulu ketika waktu satu menit sangat berharga jika dilewatkan dengan berdebat.


"kamu datang, aku membaik.....perutku jauh lebih baik sekarang" ucap Dina dengan senyum mengembang


Dendy hanya tersenyum, ia tak banyak bicara, ia hanya mendengarkan Dina bercerita.


.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2