Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 183 Dodi jadi pahlawan


__ADS_3

Dina masih terdiam, pikirannya melayang pada dua kejdian yang baru ia alami tadi. Dodi memperhatikan Dina yang tatapannya kosong. Ia tak tega melihat Dina seperti itu.


Meski bukan urusannya tapi, ia benar-benar penasaran. Dina yang ia kenal selalu baik dengan semua orang kenapa ada yang memakinya. Bahkan dengn kaasarnya tega menarik rambut Dina.


"Din....." Dodi menepuk bahu Dina pelan


"ah...iya...." Dina tersadar ia menoleh ke arah Dodi


"sudah lebih tenang?" tanya Dodi. Dina mengangguk kemudian meminum teh botolnya.


"mau cerita?" tanya Dodi


"jangan katakan masalab ini ke Dendy ya Dod...kumohon....aku tidak mau dia berpikiran buruk tentang aku" Dina meracau dengan tatapan memohon


"aku disuruh menjagamu Din, mana mungkin aku tidak menceritakannya pada Dendy" ucap Dodi tenang


"tolonglah Dod...." ucap Dina dengan mata berkaca-kaca


"baiklah...." Dodi menghela nafasnya "tapi kamu tidak selingkuh kan?"


Dina menggeleng "mana bisa aku selingkuh, aku cinta mati pada temanmu itu" Dina memcebik


Dodi tergelak "oh...berarti sudah sadar sepenuhnya"


Dina memutar bola matanya malas. Dia dengan Dodi itu sering berdebat dan selalu Dina yang kalah.


"sekarang ceritakan, kenapaa seisi kampus sampai heboh melihat kamu dilabrak oleh kakak tingkatmu?"


Dina menghela nafasnya "tadi itu mantan atau tunangan ah..entahlah apa statusnya, intinya dia itu mengaku-aku calon istri mantanku" ucap Dina dengan anda kesal


"lantas apa hubungannya denganmu?" Dodi masih tak menegerti


"mantanku itu ternyata juga kuliah di sini, satu jurusan denganku, satu tahun di atas kita" terang Dina


"kan sudah mantan, kenapa dia marah-marah begitu?"


"entahlah Dod , aku sendiri juga bingung, dulu mantanku itu mutusin aku tanpa alasaan ternyata gara-gara dijodohkan dengan nenek sihir itu"


"aku juga baru tahu bebebarapa bulan yang lalu"


"terus kenapa dia yang marah-marah? Bukannya yang seharusnya masrah itu kamu?" Dodi mengerutkan dahinya


"itu yang aku bingung, katanya mantanku itu memutuskan pertunangannya karena papanya si nenek sihir itu sudah meninggal jadi tak ada kewajiban untuknya melanjutkan perjodohan itu, terus ketemu aku lagi dan mantanku itu malah mendekati aku lagi" terang Dina dengan anda kesal


"sebentar....mantan kamu itu yang mana? yang sering ngikutin kamu kemana saja itu?"

__ADS_1


"kok kamu tahu Dod?" tanya Dina mulai panik, takut Dodi menceritakan apa yang ia tahu pada Dendy


"Dina sayang....kampus kita itu masih satu gedung, ya aku pasti tahu lah...." Dodi terkekeh


"terus kamu cerita ke Dendy?"


"cerita" jawab Dodi santai


"aduh....Dod...kalau Dendy berpikiran macam-macam bagaimana? Kamu tahu aku itu berusa mwnghindar dari mantanku itu, tapi tidak bisa dia itu seolah-olah bisa tahu semuanya, aku mau berangkat kuliah dia sudah di depan kosku, jamnya makan dia juga datang bawa makanan, aku bingung Dod enggak tahu lagi harus bagaimana" terang Dina dengan nada fruatasi


"tapi dia tahu kan kalau kamu sudah punya pacar?"


"tahu, aku berkali-kali bilang ke dia Dod tapi dia tak mau tahu!" Dina kesal


"aku tahu sekarang masalahmu apa" Dodi terkekeh


"aku malu Dod...malu sekali....dikiranya aku merebut pacar orang padahal nyatanya enggak, mau ditaruh dimana wajahku?" Dina menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya


"sudah tenang...kalau kamu tidak salah tidak perlu malu" Dodi menepuk-nepuk bahu Dina


"tapi benar ya...jangan ceritakan masalah ini pada Dendy, aku tidak mau dia berpikiran macam-macam, aku sudah enggak sabar dia kuliah di sini, setiap hari bisa ketemu" ucap Dina dengan anda riang


Dodi bungkam, ia merasa tidak enak kepada Dina karena ia mengetahui apa yang twrjadi pada Dendy. Ia melihat Dina tampak begitu bahagia menceritakan Dendy yang akan kuliah di kampusnya.


"kamu masih ada kuliah?" tanya Dodi


"enggak hari ini kuliah cuma dua, sesi satu dan sesi dua"


"aku antar kamu pulang ke kos ya...aku takut kamu dicakar-cakar di tengah jalan" Dodi terkekeh kemudian dia berdiri dan membayar minuman yang ia beli tadi


"naik apa Dod? Bukannya kamu biasanya jalan kaki?" Dina tampak bingung


"sebentar...." Dodi berjalan menghampiri seseorang yang duduk tak jauh dari dirinya, kemudian kembali menghampiri Dina "naik motor" Dodi menunjukkan kunci motor yang ia pinjam dari temannya


Dodi memboncengkan Dina pulang ke kosnya. Setelah Dina turun dari boncengannya dia kembali ke kampus. Dina berjalan masuk ke dalam kosnya, memasukkan anak kunci kemudian memutarnya.


Dina membuka pintu kamarnya tiba-tiba Bimo memeluknya, karena Dina tidak siap sampai kakinya terjajajr ke belakang.


"Din...kenapa aku kamu kunciiin di dalam kamar, aku jadi tidak bisa menolongmu" ucap Bimo terisak


"mas...lepaskan....sesak...." ucap Dina dengan tersengal-sengal karena Bimo memeluknya erat


"maaf....maaf..." Bimo melepaskan pelukannya


"aku memang sengaja mengunci pintunya agar mas tidak berkeliaran dan bisa tidur dengan nyenyak" ucap Dina santai sambil berjalan masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Dina meletakkan tasnya sembarang, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasurnya kemudian memejamkan matanya. Bimo hanya memperhatikannya sambil menutup pintu kamar Dina


"mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu sendirian, aku tidak mau Riri berbuat jahat lagi padamu!" ucap Bimo tegas tak mau dibantah


Dina membuka matanya "itu hanya akan menambah masalahku, lagipula dari mana mas tahu soal Riri?"


"Vito menelponku!" ucap Bimo dengan nada marah


"iya aku lupa, mas punya ponsel" Dina memutar bola matanya malas


"jangan bantah aku Din...ini semua demi kebaikan kamu" ucap Bimo dengan nada tegas


"lebih baik mas, selesaikan masalah mas dengan nenek sihir itu dulu aku tidak mau malu lagi di kampus" Dina memejamkan matanya.


"dimana kamu?"


"tunggu aku mau ke sana" Bimo menelpon seseorang


"Din...maafkan aku yang kecolongan menjagamu " Bimo membelai rambut Dina "tapi percayalah, aku sangat mencintai kamu"


Dina membuka matanya menatap Bimo yang matanya berkaca-kaca "ayo ikut aku" ucap Bimo lembut kemudian dirinya mengulurkan tangan "tolong aku sekali ini saja" ucap Bimo dengan tatapan memohon.


Dina bangun dari tidurnya, kemudian mengikuti Bimo yang penampilannya benar-benar kacau "mas..." Dina melepaskan gandengan tangannya


"apa hmm?


"setidaknya kita makan dulu, marah, menangis ketawa butuh tenaga" ucap Dina datar


Bimo menyalakan mesin mobilnya kemudian ia mengajak Dina makan di tempat biasa makan "aku lupa hari ini ada janji dengan teman" Dina memukul keningnya


Bimo hanya meliriknya sekilas "janjimu sudah dibatalkan" ucap Bimo dengan nada tak sukanya


"dari mana mas tahu?" Dina mengerutkan dahinya


"tadi ada yang menelpon ke kosmu, mencari kamu, kemudian teman kosmu menulis pesan di depan pintu kamarmu, apa kamu tidak membacanya?" ucap Bimo ketus karena merasa cemburu


.


.


.


B e r s a m b u n g


Jangan lupa ritualnya ya bestie...jangan lupa juga mampir di karya 'JADIKAN AKU PACARMU'

__ADS_1


__ADS_2