
Dukung terus karya othor ini ya bestie
Tolong like komen apa aja..
Yang belum pencet tombol favorit tolong pencet dulu ya
Terima kasih sekebon bestie
Lanjuttt...
................
^^^☎️ Mereka cuma bantu aku Din^^^
"Bantu apa Den?"
^^^☎️ Sebenarnya sudah lama aku suka sama kamu^^^
"Hah...?"
^^^☎️ Mau enggak kamu jadi pacar aku?^^^
Hening lagi...
^^^☎️Din....^^^
Hening, masih tidak ada jawaban dari Dina
^^^☎️ Dina..^^^
"ini bukan taruhan kan Den?"
^^^☎️Taruhan bagaimana Din?^^^
"Ini bukan taruhan antara kamu, Krisna dan Gilang kan?"
^^^☎️ Din...maaf mungkin aku terpaksa ngomong begini di telepon,^^^
^^^tapi sungguh aku benar-benar suka sama kamu^^^
"aku...."
^^^☎️ aku ke rumahmu sekarang ya, aku tutup teleponnya^^^
"Jangan Den...ini sudah sore aku di rumah sendirian"
^^^☎️ ya sudah besok saja aku jemput kamu di sekolah^^^
"hmm...kamu beneran suka sama aku Den?"
^^^☎️ iya Dina... Mungkin kita belum terlalu dekat^^^
^^^tapi aku suka sama kamu dari saat kita^^^
^^^sama-sama jadi panitia tempo hari^^^
"kamu kenapa enggak ngomong dari dulu Den?"
^^^☎️ Maaf Din, aku enggak punya keberanian^^^
^^^untuk berterus terang ke kamu^^^
__ADS_1
"jujur aku takut cuma jadi bahan taruhan Den"
^^^☎️ Aku enggak seperti itu Din, jadi bagaimana?^^^
^^^Apa jawaban kamu?^^^
"hmm... Iya kita coba jalani saja dulu ya Den"
^^^☎️ maksud kamu Din?^^^
"iya...iya...aku mau "
^^^☎️ Serius Din?^^^
"He em... "
^^^☎️ Terima kasih Dina besok aku jemput kamu pulang sekolah^^^
"iya Den, aku tutup teleponnya ya aku mau mandi dulu"
^^^☎️ Iya...iya Dina sayang...^^^
Dina menutup teleponnya. Hatinya masih ragu apakah ini keputusan yang tepat. Apakah dengan Dendy keadaannya akan berbeda. Jalani saja dulu, mungkin rasa trauma akan perlahan-lahan hilang pikirnya.
................
Di tempat lain, di rumahnya Dendy, setelah meletakkan gagang teleponnya Dendy senyum-senyum sendiri. Dendy merasa seperti mimpi Dina mau menerimanya.
'Aku masih belum yakin, tadi hanya di telepon, besok aku mau memastikan lagi apakah semua ini nyata atau hanya mimpi, ah...semoga ini nyata' batin Dendy
Dendy berjalan senyum-senyum sendiri keluar rumah ke arah teras melewati mama Tari yang sedang menyapu ruang tamu
"kamu kenapa Den?" tanya mama Tari keheranan
"enggak kenapa-kenapa kok senyum-senyum sendiri" gumam mama Tari
Dendy ke halaman rumahnya, dia mencuci motornya masih senyum-senyum dengan wajah bahagianya. Membuat Gilang yang baru saja pulang heran dibuatnya. Gilang sudah menyapa Dendy tapi tidak dihiraukan.
"Tante itu Dendy kenapa? Senyum-senyum sendiri " tanya Gilang berjalan mendekat ke arah mama Tari
"Entah Lang, tadi sudah tante tanya malah dijawab dengan senyuman" jawab mama Tari sambil merapikan meja kursi
"sejak kapan? Tadi pagi masih belum begitu Tan?" tanya Gilang mengerutkan dahinya
"Sejak terima telepon dari Dina" jawab mama Tari
"remaja jatuh cinta dilawan" gumam Gilang masih didengar mama Tari, mama Tari yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala
Malam harinya mereka sekeluarga makan di satu meja makan, Pak Doni melihat ada yang aneh dari anak sulungnya itu. Pak Doni bertanya ke mama Tari dengan tatapan isyarat dan dijawab dengan gelengan kepala, Gilang 'pun hanya mengedikkan bahunya.
.
.
Keesokan harinya Dina berangkat seperti biasa, tidak mepet-mepet lagi dengan jam masuk sekolah. Dina masuk ke kelasnya dan meletakkan tasnya di mejanya, kemudian dia keluar ke taman depan kelasnya membawa satu buah buku pelajaran. Dina duduk di bangku panjang yang terbuat dari semen. Dina asyik membaca bukunya tak menyadari sejak tadi sudah ada seseorang yang berdiri di depannya.
"ehem...ehem..." orang itu berdehem
"eh... Gilang..." ucap Dina setelah menengadah ke arah orang yang berdiri di depannya "tumben jam segini sudah datang"
"kamu sendiri juga sama akhir-akhir ini datang mepet-mepet sekarang kok balik lagi datang pagi Din" ucap Gilang duduk di sebelah Dina
__ADS_1
"iya aku nanti mau ada ulangan, makanya datang pagi biar bisa belajar dulu" ucap Dina sedikit memutar duduknya menghadap Gilang
"kamu kemarin telepon Dendy?" tanya Gilang, Dina terhenyak mendengar pertanyaan Gilang
"memangnya kenapa Lang?" ucap Dina pura-pura tidak terjadi apa-apa
"enggak, dari kemarin sore adikku itu tingkahnya aneh, melamun terus senyum-senyum sendiri" Jawab Gilang memicingkan matanya
"oh...enggak ada apa-apa, kamu tanya sendiri sama Dendy kenapa begitu" Ucap Dina datar
Gilang hanya menghela nafasnya mendengar ucapan Dina. Dia yakin telah terjadi sesuatu di antara Dendy dan Dina. Melihat Dina tidak seperti biasanya, dia merasa Dina sedikit berbeda, biasanya Dina wajahnya terlihat serius, tapi pagi ini sedikit ceria. Ada rona bahagia di wajahnya meskipun tidak begitu terlihat jelas.
"hmm...begitu ya Din? Apa mungkin Dendy habis jadian ya, tapi sama siapa, apa sama Nana ya?" Gilang manggut-manggut memicingkan matanya menunggu reaksi Dina
"mungkin... Dendy pacaran sama Nana" ucap Dina sedikit kesal
"hahahaha...." Gilang tertawa lepas
"Kamu enggak bisa bohong dari aku Dina" Gilang tergelak sedangkan Dina hanya mengerutkan dahinya
"kata tante Tari mamanya Dendy, Dendy begitu setelah dapat telepon dari kamu, setelah itu dia tidak kemana-kemana atau menelpon siapapun yang dia lakukan hanya melamun dan senyum-senyum sendiri"
"hmm...." Dina hanya berdehem mengarahkan tatapannya lagi ke arah buku yang dia pegang pura-pura menyibukkan diri. Dina tidak mau menunjukkan wajahnya yang sudah merona karena memang benar dia dan Dendy sudah resmi pacaran meskipun hanya lewat telepon
"Ya sudah kalau memang tidak terjadi apa-apa, mungkin dia kesambet cewek cantik" ucap Gilang dengan nada menggoda
Dina tidak menanggapi perkataan Gilang, dia masih malu kalau harus mengakui kalau mereka sudah resmi berpacaran. Bukan tidak mau mengakui tapi hanya tidak mau jadi bahan olok-olokan Gilang.
"Tumben datangnya enggak mepet-mepet lagi" Krisna berjalan mendekati tempat Dina dan Gilang duduk
"Kalian ini kenapa sih, suka banget mengganggu waktuku?" ucap Dina sedikit kesal
"enggak ganggu Din, tapi kita ini suka lihat kalau kamu kesal, kamu semakin imut saja " Krisna tergelak
"eh...Na..nanti pulang sekolah kamu besuk Dendy, sedang sakit dia" ucap Gilang pura-pura serius masih ingin melihat reaksi Dina
"sakit...?" ucap Dina sedikit kawatir dan menoleh ke arah Gilang yang sedang menahan tawanya melihat reaksi Dina yang sedikit terkejut
"Dendy sakit apa lagi?" ucap Krisna menautkan alisnya
"habis jatuh" ucap Gilang sedikit dibuat seserius mungkin
"hah...jatuh?" Dina membelalakkan matanya
"jatuh dari mana Lang " Krisna yang tidak tahu apa-apa menanggapinya dengan serius
"jatuh...jatuh cinta" Gilang tergelak dan lari meninggalkan Dina yang sedikit salah tingkah sedang Krisna masih berpikir apa yang sedang terjadi
"Din..." ucap Krisna memicingkan matanya
"kok tanya aku, tanya Gilang sana, 'kan tadi Gilang yang bilang" ucap Dina menutupi kegugupannya karena Krisna ini orangnya juga sedikit peka.
Krisna berjalan meninggalkan Dina dengan membawa rasa penasarannya. Penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi kenapa Dina sedikit gugup dan Gilang yang suka menggoda Dina.
.
.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G
.