Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 211 Bingung


__ADS_3

Dina sudah kembali pulih, tapi Dina tak dibiarkan oleh Bimo kemanapun sendirian. Kadang Dina kesal karena Bimo terlalu memaksanya. Padahal ia sudah mengatakan ia baik-baik saja.


Selain itu karena ia lebih memilih bersama Wilson kakak sepupunya yang beberapa hari terakhir selalu mengunjunginya di kos. Dina tidak tahu kenapa tiba-tiba Wilson perhatian padanya bahkan sering mentraktirnya.


"kak...akhir-akhir ini tumben kakak perhatian, biasanya aku mau jalan kaki mau sakit juga kakak cuek" ucap Dina sambil mengunyah baksonya


"kamu ini...papa kamu kan menitipkan kamu padaku, apa kamu lupa?" ucap Wilson santai


"pasti ada apa-apanya...enggak mungkin kakak tiba-tiba datang ke kosku, dulu-dulu kemana saja aku sakit bahkan dipermalukan kakak asyik pacaran" cibir Dina


"kamu itu kenapa sih? Sebagai kakak yang baik aku harus perhatian pada adikku"


"terserah kakak...aku enggak mau terlibat kalau kakak ada masalah seperti dulu waktu kakak SMA" Dina mengerucutkan bibirnya


"memangnya waktu SMA aku kenapa?"


"pura-pura lupa....kakak enggak masuk sekolah berapa lama itu, aku yang harus nyari kakak" Dina kesal


"oh...begitu ceritanya" Wilson terkekeh "anggap saja sekarang ungkapan terima kasihku buat kamu dan papamu yang dulu pernah membantu aku"


Dina menoleh menatap heran kakak sepupunya "kakak sehat kan?"

__ADS_1


"sehat...memangnya ada apa?" Wilson menatap heran adik sepupunya


"tumben kakak ngomongnya serius " Dina tergelak


"kamu juga tumben makannya habis banyak"


"aku lapar, mumpung ada yang traktir"


Dina tak sadar, ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. "kemarin cowok itu yang membonceng Dina waktu Dina pingsan" ucap Dendy datar


"oh...itu...itu kakak sepupu Dina" jawab Dodi santai


"kamu tahu dari mana?" Dendy penasaran


"ada satu lagi...aku tidak tahu siapa dia" ucap Dendy


"kamu lihat sendiri, Dina dikelilingi cowok-cowok tampan, tapi dia masih tetap setia padamu, lantas kamu kenapa bisa melepas Dina begitu saja" cibir Dodi


"aku tak mungkin menentang orang tuaku Dod..." ucap Dendy lirih


"kalau kamu mau, kalian bisa pacaran diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua kalian"

__ADS_1


"Dina enggak akan mau...!"


"kamu belum bicara padanya kenapa bisa bilang begitu"


"aku kenal Dina, dia pasti akan memilih mundur daripada mempertahankan hubungan kami"


Dodi memang mengenal Dina, tapi ia tidak benar-benar tahu bagaimana Dina. Ia hanya tahu Dina cewek yang baik, setia, dan ramah. Meski sejak Dina berkuliah di kampus itu mereka menjadi lebih dekat, tapi itu hanya sebatas karena Dodi membantu Dendy.


Mereka berdua tak jadi ke kantin, Dendy masih belum siap menghadapi Dina. Dendy memang pengecut, ia tak pernah langsung mau menyelesaikan masalah mereka. Ia selalu menunda-nunda untuk menyelesaikan masalah.


Satu bulan berlalu, Dina masih penasaran dengan keberadaan Dendy, ia masih belum bisa menghubungi Dendy. Setiap ia mencoba menelpon Dendy nomornya selalu tidak aktif.


Selama itu pula kondisi Dina naik turun, tapi Dina berusaha untuk kuliah sebaik mungkin. Berusaha mempertahankan nilai-nilainya, meskipun sulit untuk fokus Dina tetap harus berusaha.


Dina harus menyibukkan dirinya, agar pikirannya teralihkan. Agar ia tidak berlarut-larut memikirkan masalahnya dengan Dendy. Sebisa mungkin ia tak sendirian, karena jika sendirian, Dina sudah pasti terpuruk dan menangis.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2