
Bertahun-tahun Dendy menghindari Dina karena ia juga tak bisa melupakan Dina. Kuliahnya pun berantakan banyak nilai-nilainya yang jelek.
Dendy memang sengaja, ia kehilangan semangat untuk kuliah karena apa yang ia inginkan harus ditentang oleh keluarganya. Sampai detik ini pun Dendy tidak pernah tahu alasan yang sebenarnya kenapa ia harus putus dari Dina.
Pada awalnya Dendy ingin memperjuangkan kembali perasaannya pada Dina. Namun ketika ia melihat Dina putus asa dan menyerah tak mau lagi memperjuangkannya iapun sadar. Selama ini Dina telah banyak berkorban untuknya.
Dendy hanya bisa melihat dari jauh dan berandai-andai jika ia bisa lulus berbarengan dengan Dina dan bekerja, mandiri tanpa bantuan orang tua lagi ia akan bisa kembali kepada Dina.
Namun perlahan semangatnya untuk cepat lulus pudar karena orang tuanya selalu mengingatkan untuk tidak dekat dengan Dina lagi. Dendy menjadi malas kuliah, ia sering membolos kuliah dan jarang mengerjakan tugas-tugasnya.
Ia juga jarang ke kampus karena ia ingin menghindari Dina. Ia masih belum bisa menatap wajah Dina. Ia juga tak meu mendengar cerita apapun tentang Dina. Ia benar-benar menutup dirinya dari semua hal tentang Dina.
Tapi mau bagaimanapun ia menghindar, jika Tuhan menghendaki lain maka ia tetap bertemu. Beberapa kali tak sengaja ia bertemu Dina saat ke perpustakaan.
Dendy tak pernah menyadari Dina sering diikuti cowok kemanapun ia pergi. Ia tahu Dina pasti sangat membencinya, beberapa kali bertemu Dina hanya menatapnya datar.
Dalam hatinya Dendy berharap masih ada kesempatan suatu saat nanti bisa bersama dengan Dina lagi. Tapi ia tak punya keberanian untuk mewujudkan harapannya itu.
Suatu ketika, entah kenapa ia ingin berangkat lebih awal ke kampus. Ia tak ingin terlambat masuk kuliah. Ia menunggu dosennya datang di ruang kuliahnya di lantai tiga. Tak sengaja ketika menatap ke arah lobi gedung kampus Dina ia melihat Dina sedang duduk di tangga.
Ia hanya bisa menatap dari jauh, dan berharap Dina akan menyadari jika ia sedang menatapnya. Dan sepertinya semesta menjawab harapannya. Dina menatap ke arahnya dan melambaikan tangan ke arahnya. Ia pun membalas lambaian tangan Dina, ia tak tahu apa benar Dina melambaikan tangan untuknya atau tidak.
Tapi setelah melihat sekelilingnya sepi ia menyadari jika lambaian tangan itu memang tertuju untuknya. Ia melihat Dina beberapa kali menelpon, ia tak tahu menelpon siapa. Andaikan saat itu ia membawa ponselnya pasti ia akan menelpon Dina.
Ia ingin mendengar suara Dina lagi. Ia begitu merindukan suaranya, kehadirannya, senyumnya dan keceriaannya yang bisa menular pada orang-orang di sekitarnya.
Tapi sayang, dosen yang ia tunggu sudah datang. Ia pun masuk ke ruang kuliahnya. Selama perkuliahan pikirannya terus melayang pada senyum Dina. Ia berharap setelah ia selesai kuliah nanti ia bisa bertemu Dina lagi.
Seminggu berlalu, ia tak pernah lagi melihat Dina di kampus. Ia pun menjalani hari-harinya seperti biasa, namun sejak pertemuan itu ia menjadi lebih semangat untuk datang kuliah lebih awal.
Dan benar beberapa kali ia berpapasan Dina di parkiran motor. Mereka selalu berpapasan saat berada di pos penjaga tempat parkir. Namun lagi-lagi ia tak punya kesempatan untuk berbicara atau sekedar menyapanya.
Namun di saat ia sedang memikirkan Dina, ponselnya berbunyi. Ia merasa senang karena Dina menelponnya. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan ia pun memencet tombol hijau di ponselnya.
"Halo"
^^^📲halo Den....^^^
"iya, kamu apa kabar?"
^^^📲aku sedang sakit^^^
" sakit apa?"
^^^📲biasa penyakit lama...hmm....Den...^^^
"iya...apa Din?"
__ADS_1
^^^📲aku bisa minta tolong?^^^
"apa?"
^^^📲antar aku ke dokter ya...^^^
"kapan?"
^^^📲 nanti sore bisa?^^^
"nanti sepulang kuliah aku ke kosmu, kamu belum pindah kan?"
^^^📲belum...terima kasih ya Den...^^^
"iya.."
Dendy senang karena Dina menghubunginya kembali. Meskipun meminta tolong padanya untuk mengantarkan ke dokter. Hanya alasan Dendy saja akan ke kos Dina setelah selesai kuliah, padahal saat Dina menelponnya Dendy sudah terlambat masuk kuliah.
Ia pun mengendarai motornya ke kos Dina. Masih terlalu siang sebenarnya namun biarlah, ia ingin segera bertemu Dina. Ia benar-benar merindukannya.
Ia memencet bel kos Dina, agak lama ia menunggu seseorang membuka pintu untuknya. Dan terdengar suara pintu dibuka, ia melihat Dina yang tampak sedikit pucat membukakan pintu untuknya.
Ia terpaku, ia bingung harus bersikap bagaimana kepada Dina. Akhirnya ia seperti pertama kalinya berkencan dengan Dina, tampak kaku untuk menutupi kegugupannya.
"katanya kamu sakit?"
"jadi ke dokter...?"
"iya jadi, sebentar aku mandi dulu" Dina meninggalkan Dendy di ruang tamu kosnya. Lima belas menit kemudian ia telah selesai bersiap.
"ayo...dokter di depan kampus 1 ya Den..."
"iya..."
Mereka berdua pergi dengan menaiki motor milik Dendy. Satu jam Dendy menemani Dina berobat, kemudian ia mengantar Dina pulang ke kosnya.
Sepulang dari kos Dina, hati Dendy begai taman bunga, ia tersenyum-senyum sendiri. Bahkan Dodi menertawakannya karena seperti orang gila.
Seminggu berlalu, hubungan mereka intens kembali. Mereka sering bertukar pesan singkat dan terkadang telepon singkat. Dendy ingin kembali bertemu, namun ia bingung, bagaimana caranya untuk mengajak Dina pergi.
Ketika Dendy sedang melamun memikirkan Dina, ponselnya kembali berbunyi. Dina menelponnya kembali
^^^📲Den...boleh aku ke tempatmu?^^^
"kapan?"
^^^📲sekarang^^^
__ADS_1
" boleh...boleh"
^^^📲alamatmu dimana?^^^
Dendy memberitahu dimana ia kos sekarang agar Dina mudah menemukan dimana ia kos sekarang dan tidak akan kesasar.
Dendy sangat bahagia, ia menunggu Dina di teras depan kosnya. "kamu ngapain, duduk di sini senyum-senyum sendiri? " Tanya Dodi saat akan berangkat kuliah
"menunggu Dina datang" jawab Dendy dengan senyum mengembang
"Dina mau ke sini?"
"iya..."
"awas pacar orang..."
"hah...memangnya Dina sudah punya pacar lagi?" Dendy sempat kawatir
"mungkin...." Dodi tergelak "sudah ah...aku berangkat kuliah dulu, hati-hati...jangan lupa pintu kamar dikunci" Dodi berlari meninggalkan Dendy yang tampak kesal.
Lima belas menit ia menunggu, akhirnya Dina pun datang. Dendy membukakan pintu pagar kemudian membantu Dina memasukkan motornya ke halaman.
"kamu tidak kuliah?"tanya Dina
"enggak...aku bangun kesiangan" Dendy terkekeh
Mereka berdua mengobrol dan bercanda di kamar Dendy namun Dendy masih bingung bagaimana harus bersikap.
"aku ngantuk, boleh aku tidur di sini sebentar?"
"boleh...tidurlah..." ucap Dendy menyunggingkan senyumnya
Dina merebahkan dirinya di kasur Dendy. Dendy melihat Dina terlihat kelelahan, ia tahu mahasiswa teknik tugas-tugasnya begitu melelahkan, ia pun membiarkan Dina tidur selama yang ia butuhkan.
Dendy membelai lembut dahi Dina, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Dina semakin cantik namun masih tetap ceria dan cerewet seperti dulu.
"andaikan semua berpihak pada kita Din...aku masih sayang kamu, namun saat ini aku tak bisa menjanjikanmu apa-apa, semoga semua indah pada waktunya" batin Dendy sambil menatap wajah Dina yang begitu damai tertidur.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1