
Mereka berdua melanjutkan canda tawa mereka. Dendy sebenarnya ingin mengutarakan perasaannya saat itu juga, tetapi keberaniannya hilang entah kemana. Merasa masih belum percaya diri mengingat mantan pacar Dina yang kemarin dia lihat begitu terlihat sempurna. Terlihat serasi dengan Dina.
Saat melihat jam di pergelangan tanggannya waktu masih menunjukkan pukul satu lebih empat puluh lima menit. Dendy melirik ke arah Dina yang masih duduk bersantai memejamkan matanya. Wajah Dina terlihat sangat tenang, hawa sejuk karena berada di bawah pohon yang rindang serta angin sepoi-sepoi membuat cuaca yang panas terik tidak terasa.
Saat mereka masih menikmati hawa sejuk, mendung tiba-tiba datang mereka tersentak kaget. Padahal baru saja cuaca panas terik tetapi mendung tiba-tiba datang.
"Den, antar aku ke sekolah sekarang takut nanti turun hujan " ucap dina beranjak dari tempat duduknya
"i..iya..." Dendy bergegas memakai jaketnya dan beranjak dari yempat duduknya.
Mereka berjalan cepat menuju ke tempat motor Dendy terparkir. Dendy segera menyalakan motornya dan Dina juga segera naik ke boncengan Dendy. Dendy melajukan motornya agak kencang takut tiba-tiba turun hujan.
"Den, lewat gerbang belakang saja ya..." ucap Dina setengah berteriak agar Dendy mendengarnya
Dendy hanya menganggukkan kepalanya dan kembali melajukan motornya. Jarak dari taman kota ke sekolah Dina tidak terlalu jauh hanya dalam waktu lima menit dengan kecepatan agak tinggi Dendy sudah sampai di gerbang belakang.
Mereka tiba di sekolah bertepatan dengan hujan yang mulai turun. Dendy menurunkan Dina di tempat parkir khusus guru yang berada tidak jauh dari pintu gerbang belakang.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tangan terkepal menahan emosi. Sepasang mata itu adalah Toni, dia tadi sudah pulang ke rumahnya, tapi saat di rumah perasaannya tidak tenang sebelum bertemu dengn Dina.
Dia ingat sewaktu pulang tadi motor Dina masih terparkir bahkan sudah berpindah tempat. Dia yakin Dina belum pulang sekolah. Toni kembali ke sekolah masih dengan memakai seragam sekolahnya. Dia mencari Dina di studio radio, karena dia tahu Dina ikut dalam proyek tersebut. Tapi Dina tidak.ada di sana, dia melihat ke parkiran motor Dina masih terparkir seperti terakhir dia lihat.
Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya kepada Anto teman sekelasnya yang juga teman satu proyeknya. Anto mengatakan Dina hari ini ada les Matematika dan fisika. Toni memutuskan untuk menunggunya, ingin menjelaskan tentang pembicaraan antara dia dan teman-temannya sewaktu di toilet tadi sehabis pelajaran olahraga.
Toni memutuskan menghampiri Dina yang turun dari boncengan Dendy. Meski sedang hujan Toni tidak menghiraukannya hatinya terlanjur emosi dan cemburu melihat Dina berboncengan dengaan orang lain.
"Dina...." ucap Toni menarik pergelangan tangan Dina. Dina dan Dendy tersentak kaget. Mereka menatap Toni dengan penampilan acak-acakan serta bajunya yang setengah basah.
"Ada apa Ton?" ucap Dina ketus. Dendy hanya memperhatikan saja dia tidak berani ikut campur masalah Dina
"Din...aku mau bicara..." ucap Toni dengan wajah merah menahan emosinya.
"apa lagi yang harus dibicarakan Ton,...hmmm?" ucap Dina kesal
"yang kamu dengar tadi tidak seperti yang kamu pikirkan Din " ucap Toni masih menggenggam tangan Dina.
"sudah Ton...tolong jangan ganggu aku lagi " ucap Dina masih mencoba menahan emosinya
__ADS_1
"ayo kita bicara... tapi tidak di sini" ucap Toni menarik tangan Dina
"lepas Ton... tolong jangan ganggu aku lagi" Dina mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Toni
"Din...kamu tidak apa-apa?" tanya Dendy
"aku tidak apa-apa Den" Ucap Dina menoleh ke arah Dendy "sudah kamu tinggal pulang saja, terima kasih"
"kamu yakin Din...?" tanya Dendy memastikan dan hanya dijawab anggukan oleh Dina.
Dendy memutuskan untuk pulang, sebenarnya diaa tidak tega melihat Dina sedang ada masalah dengan mantannya. Ingin sekali Dendy membantunya, tetapi dia masih ingin menghormati keinginan Dina.
Setelah Dendy pergi, Dina berjalan agak cepat menembus rintik hujan berjalan ke studio radio.
"Din...tunggu!!....aku jelasin semuanya oke....!" ucap Toni mengejar Dina
Dina tidak menjawab ucapan Toni dia terus berjalan studio. Dina masih merasa kesal dan kecewa mendengar apa yang dibicarakan oleh Toni dan teman-temannya.
"baik.....kalau kamu tidak mau aku ajak bicara.... tapi aku akan tetap mengejarmu, membuktikan semua yang aku katakan ke kamu kemarin itu serius" ucap Toni
Dina berhenti di depan pintu studio membelakangi Toni, tanpa menoleh Dina berucap "terserah!" Dina masuk ke dalam studio dan Toni memutuskan untuk pulang.
"Dina kenapa To?" tanya Widi berbisik
"tidak tahu, yang aku tahu tadi Toni mencari-cari Dina" ucap Anto
"Toni lagi?" ucap Widi sedangkan Anto hanya mengedikkan bahunya
"Kamu tidak apa-apa Din?"tanya Widi
Dina tidak menjawab, hanya melambaikan tangannya masih sambil menunduk, mengatakan kalau dia baik-baik saja. Widi dan Anto hanya saling pandang, mereka tidak berani bertanya lebih jauh lagi. Apalagi Widi ingin memastikan kalau Dina baik-baik saja, tapi dia urungkan niatnya karena dia tahu betul ketika Dina sedang ada masalah dan ditanya Dina akan menjauh.
Sepulang dari sekolah Dina, Dendy melajukan motornya agak kencang menembus hujan yang tidak terlalu deras. Pikirannya kalut melihat Dina sepertinya sedang dalam masalah. Dendy tidak langsung pulang dia mampir ke rumah Krisna.
Dia merasa saat ini hanya Krisna yang bisa menjadi tempatnya untuk bercerita, karena tidak mungkin bercerita ke Gilang karena akhir-akhir ini Gilang sedang sibuk berlatih untuk kejuaraan taekwondo di kotanya.
__ADS_1
Dendy memarkirkan motornya di garasi rumah Krisna, dia langsung masuk ke rumah karena rumah Krisna sudah seperti rumah kedua baginya. Krisna sering berada di rumah jarang dia keluar rumah, sedangkan mamanya berada di toko kue miliknya dan adiknya Krisna setiap pulang sekolah langsung ke toko kue untuk membantu mamanya berjualan.
Tanpa permisi Dendy masuk ke kamar Krisna yang terletak di dekat ruang tamu, pintunya pun bisa diakses dari luar dan dalam. Dendy masuk lewat pintu luar yang dekat dengan garasi. Masuk ke kamar Dendy langsung merebahkan dirinya di atas karpet lantai.
"astaga.... kamu seperti anak kecil saja main hujan-hujanan" Krisna kaget melihat keadaan Dendy yang setengah basah langsung merebahkan dirinya di karpet.
"habis dari sekolahmu mengantar Dina" ucap Dendy bangkit duduk melepas jaket dan celana panjangnya menyisakan celana pendek rumahan dan kaos oblong.
"jemur di luar sana...jangan di sini kamarku nanti basah " ucap Krisna menunjuk teras depan kamarnya "sudah ada kemajuan nih..." lanjutnya
"iya maju ke depan..." ucap Dendy menggerutu sambil berjalan keluar menjemur pakaiannya di kursi teras
"tadi jalan kemana saja Den?" tanya Krisna penasaran
"cuma ke taman kota" Dendy masuk kembali ke kamar Krisna dan merbahkan diri di karpet
"Sepertinya tidak berjalan lancar, sekarang temani aku main PS baru aku dengarkan ceritamu" ucap Krisna menyalakan game play station nya
Mereka berdua bermain PS sampai lupa waktu, hujan yang tadinya rintik-rintik sudah reda dan hujan kembali tetapi mereka masih asyik bermain.
.
.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Bestie....tolong dukung terus karya othor ya...
yang belum pencet tombol favorit tolong pencet ya...
__ADS_1
tolong like dan komen, serta kirim kopi atau bunga ya...
terima kasih sekebon bestie 😘😘