
Sebulan berlalu, kondisi Dina berangsur pulih, meski merasa tetap ada yang kurang, tapi ia berusaha untuk tetap kuat. Dina kembali kuliah seperti biasa, Dina juga meminta Bimo untuk tak mengkawatirkan dirinya lagi.
Dina hanya ingin sendiri, ia tak mau dekat dengan cowok manapun kecuali untuk tugas-tugas kuliah. Dina ingin menenangkan dirinya, ia ingin merenungi semua yang terjadi.
Apa salah dirinya hingga Dendy sepertinya tak peduli lagi pada dirinya. Yang Dina sadari hanyalah karena ia terlalu egois, memaksakan hubungan jarak jauh dengan Dendy.
Tapi ia juga teringat, pernah menawarkan mengakhiri hubungan mereka jika memang Dendy tak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Saat itu Dendy meyakinkan Dina jika mereka akan tetap baik-baik saja.
Yang Dina inginkan hanyalah perpisahan secara baik-baik, bukan dengan permasalahan yang rumit di antara mereka. Dina tidak tahu apa maunya Dendy sekarang, dia tak memberikan kejelasan hubungan mereka.
Akhir-akhir ini Dina lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan sendirian. Dina ingin mencari ketenangan, ia ingin berpikir bagaimana caranya menanyakan kejelasan hubungan mereka tanpa menyinggung Dendy.
Dina tak ingin menyulut pertengkaran yang tidak perlu terjadi di antara mereka. Terkadang di balik sisi kedewasaanya, Dendy terlalu cepat menyimpulkan sendiri segala sesuatu yang berhubungan dengan Dina. Dina hanya ingin menghindari semua perdebatan itu, ia sudah terlalu lelah menghadapi setiap perdebatan dengan siapa saja.
"Din..." suara seseorang yang ia kenal duduk di sebelahnya.
Dina menoleh melihat siapa yang duduk di sebelahnya dan menyapanya "eh...Dod..." Dina sengaja bicara pelan-pelan karena mereka sedang di perpustakaan.
"sendirian?"
"seperti yanf kamu lihat"
"tumben..."
"aku ingin mencari ketenangan Dod..." tatapan Dina kembali tertuju pada buku yang ia baca
"kalau mau sepi di kuburan Din...bukan di kampus..." ledek Dodi
Dina diam, tak menanggapi ucapan Dodi, ia merasa ucapan Dodi tak penting untuk ia tanggapi.
"aku dengar kamu sakit..."
Dina menutup buku yang ia baca "sudah jauh lebih baik, sudah bisa berjalan sampai kampus"
"oh...memangnya kemarin tidak bisa berjalan?"
__ADS_1
"kamu pasti sudah dengar kondisiku dari temanmu itu...jadi tidak perlu bertanya lagi"
Dina beranjak dari duduknya dan berjalan mengembalikan bukunya kemudian ia keluar dari perpustakaan. Dodi mengikuti Dina, ia sedikir kawatir melihat Dina yang tampak kurus saat ia melihat dari dekat.
"Din...ayo ke kantin, aku yang traktir..." ucap Dodi mensejajajri langkah Dina
"kantin ramai, aku malas ke sana....aku pulang saja...."
"ayo bareng...aku juga mau ke kos Vina..."
Dodi menemani Dina berjalan pulang ke kosnya, Dina hanya diam ia sedang malas berbicara dengan orang lain. Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di kos Dina.
"mau mampir Dod?"
"lain kali saja Din..."
Dina masuk ke kosnya, ia langsung masuk ke kamarnya tanpa melihat keadaan di kosnya. Dina memutuskan untuk beristirahat, ia merasa lelah hati dan pikirannya.
Dina terbangun pukul empat lebih lima belas menit, sayup-sayup terdengar pintu kamarnya diketuk, Dina bangun dari tempat tidurnya dan membuka pintu.
"itu ada si Dodi di bawah..." ucap Tere kemudian meninggalkan kamar Dina.
Dina turun ke bawah menghampiri Dodi yang duduk di teras kosnya.
"ada apa Dod?"
"cuma mampir" Dodi terkekeh
"oh..."
"aku tahu kamu pasti sedang banyak pikiran" Dodi duduk kembali di teras di susul oleh Dina
Dina menghela nafasnya "aku bingung Dod...apa salahku...kenapa Dendy menghilang tanpa kabar, dan tiba-tiba dia kuliah di kampus kita"
Dina tertunduk, air mata yang ia tahan mulai menetes begitu saja. Biasanya ia bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan terhadap orang-orang di sekitarnya, tapi kali ini ia menitikkan air matanya di depan Dodi.
__ADS_1
"dulu aku pernah, bilang ke dia, kuliah di universitas A saja, nanti aku bantu temani mendaftar dan tes, dia hanya menjawab iya, sampai saat kelulusannya aku tak berani bertanya bagaimana nilainya, jadinya mau kuliah dimana, rencana ke depannya dia bagaimana, itu semua aku lakukan karena aku menghormati dan menghargai apa yang ia inginkan, bukannya aku tak perhatian aku hanya tak mau membuat dia tersinggung dengan semua pertanyaanku" Dina sedikit terisak
"tak adil baginya Din, kamu selalu bercerita tentang apa yang kamu inginkan apa yang kamu rasakan tapi kamu tak pernah bertanya bagaimana perasaannya...." ucap Dodi sambil menghembuskan asap rokoknya
"aku selalu merasa, takut menyinggung dia Dod....bukannya aku tidak pengertian, hanya saja aku menempatkan dirinya di posisiku, aku tak ingin ada orang yang bertanya-tanya sesuatu hal yang sifatnya pribadi Dod..." nada ucapan Dina sedikit meninggi
"aku ingin dia bercerita dengan sendirinya tanpa harus aku tanya-tanya, kamu mengerti maksudku kan....?"
"aku mengerti Din....hanya saja Dendy sepertinya merasa kamu tidak perhatian padanya"
"kalau aku tidak perhatian, buat apa aku tiap minggu pulang dan menghabiskan waktu bersamanya? Kamu pikir sendiri, jadwal kuliahku setiap hari jumat sampai jam lima sore, sepulang kuliah sebisa mungkin aku langsung pulang ke rumah, bahkan sering sampai rumah jam delapan malam, agar paginya aku bisa segera ke rumahnya"
"bahkan, lebih sering aku menunggunya sampai ia datang, aku tidak pernah meminta balasan apapun darinya Dod..."
Dodi hanya diam, ia tak bisa lagi menjawab semua pertanyaan Dina. Ia mengenal Dina sudah sejak SMP meski tidak terlalu dekat tapi ia sedikit banyak tahu tentang Dina.
Kini ia menjadi dekat dengan Dina karena Dendy. Dendy selalu meminta tolong padanya untuk menjaga Dina. Dodi dengan senang hati membantu karena memang kos mereka berdekatan.
Selain itu menurutnya Dina adalah cewek yang asyik diajak bercanda. Ia tak pernah menyangka masalah Dina dan Dendy menjadi rumit, bahkan ia harus menjadi tempat Dina melampiaskan kesedihannya.
"aku salah apa Dod? Kenapa dia mengabaikanku?" Dina menunduk, terisak, kedua telapak tangannya ia pakai untuk menutupi wajahnya
"kamu tahu sendiri, aku berusaha tetap setia padanya meskipun banyak yang mendekati aku, aku benar-benar mencintainya apa adanya dia, meski terkadang ia suka terjebak dalam pemikirannya sendiri, dan tak bisa mengendalikan rasa cemburunya, tapi dengan dia aku merasa menjadi diriku sendiri, tak harus menjadi orang lain tak harus berpura-pura"
"dia selalu bisa membuat hal yang sederhana menjadi bermakna, kadang ia bisa menjadi sosok yang lembut dan menenangkan, tapu ketika aku sedang bimbang ia bisa bersikap tegas membantu aku menentukan sikap, itu yang belum pernah aku dapatkan dari pacar-pacarku terdahulu"
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1