
Xin Nian Kuai Le
Gong xi fa cai
Untuk para readers yang merayakan imlek, semoga di tahun kelinci air ini berkat melimpah untuk kita semua
......................
Dina kembali ke kota J tanpa beban, meski ada sedikit pertanyaan dalam hatinya tapi Dina tak terlalu memikirkannya selama Dendy baik-baik saja Dina merasa tenang meninggalkan separuh hatinya.
Dina sampai di kosnya pukul setengah tujuh malam. Dina bergegas membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk keluar lagi bersama teman-teman satu kosnya untuk makan malam bersama.
Dina sedikit merasa heran, tumben sekali Bimo tidak ke kosnya di hari minggu malam tapi tak apa buat Dina, itu lebih baik karena ia tak harus bersusah-susah mencari alasan untuk tidak pergi dengan Bimo.
Seperti biasa Dina dan teman-temannya makan di warung kaki lima di dekat kampus Dina. Sepanjang jalan mereka bercanda, saling meledek dan saling menceritakan masalah pribadi mereka masing-masing.
Mereka memasuki warung kaki lima dan memesan makanan mereka
"Din...itu bukannya pacar kamu?" ucap Tere menunjuk ke arah seseorang yang sedang duduk di sudut warung bersama dengan seorang cewek.
Dina menoleh ke arah yang ditunjuk Tere, dia melihat Bimo sedang duduk berdua bersama Riri yang melambaikan tangan ke arahnya. Duna hanya menanggapi dengan senyuman kemudian ia berbalik menatap Tere.
"sudah pesan semua?" tanya Reni
"sudah...sudah..." Tere menjawabnya kemudian mereka duduk di meja sebelah Bimo duduk.
"itu pacar kamu sama siapa?" bisik Tere
"bukan pacar kak..." ucap Dina kesal pada Tere "itu mantan tunangannya kak" bisik Dina
"oh...itu...cantik juga...tapi sayangnya dandanannya menor kay tante-tante" bisik Tere
"kalian ngomongin apa sih?" tanya Reni penasaran
"itu sopirnya Dina" bisik Tere ke Reni
"sopir?" Reni mengerutkan dahinya
"iya...yang biasa antar jemput Dina itu lho..." jawab Tere kesal sambil memberi isyarat kalau yang mereka bicarakan duduk di sebelah mereka
"oh...begitu" ucap Reni sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
"itu sama tantenya Din?" bisik Reni
"aih...bukan itu mantan tunangannya" ucap Tere dengan nada kesal
__ADS_1
"coba ada Tia...pasti habis itu sopirmu diledekin Tia" Reni terkekeh
"sudah-sudah...ngapain bahas dia sih" ucap Dina kesal. Inginnya makan dengan tenang malah bertemu dengan Bimo bersama Riri.
Mereka pun berhenti membahas Bimo dan mulai makan sambil bergurau.
Seseakali mereka tertawa, Dina sangat menikmati dan terlihat tak terganggu dengan kehadiran Bimo bersama Riri. Sedangkan Bimo beberapa kali melirik ke arah Dina yang sama sekali tak melirik ke arahnya.
Dina tetap tak memperhatikan sedang apa Bimo di sebelahnya apalagi berpikir kenapa Bimo bersama Riri. Padahal biasanya setiap Dina baru datang dari rumahnya Bimo selalu datang ke kos dan memastikan Dina sudah makan.
"kami duluan ya..." ucap Riri dengan gaya angkuhnya menggandeng lengan Bimo
Dina dan teman-temannya menoleh menatap ke arah Riri dengan tatapan yang berbeda-beda. Sedangkan Dina tersenyum dan mengangguk.
Bimo berlalu begitu saja melepaskan tangan Riri yang menggandeng lengannya. Riri pun bergegas menyusul Bimo yang sedang membayar makanan mereka.
"enggak salah itu Bimo pergi dengan tante-tante begitu?" ucap Reni
Dina hanya mengedikkan bahunya menanggapi ucapan Reni. Dina dan teman-temannya telah selesai makan dan mereka bergegas untuk pulang.
"sudah dibayar tadi" ucap pemilik warung ketika Dina dan teman-temannya hendak membayar makanan mereka
"hah...siapa yang bayar?" Dina bingung
"oh....terima kasih pak" ucap Tere dengan senyum mengembang "kukira dia pergi dengan nenek sihir itu tidak akan membayar makanan kita"
"lebih baik kamu pacaran dengan dia saja Din...daripada dengan adik kelasmu itu" ucap Reni
Dina diam tak menanggapi ucapan-ucapan teman-temannya. Mereka bertiga berjalan kaki kembali ke kos mereka tetap masih sambil bersenda gurau.
Sesampainya di depan kos mereka "cepat sekali dia sampai sini? Jangan-jangan nenek sihirnya ditinggal di pinggir jalan" ucap Tere dengan raut wajah kesal
"ingat kak....dia yang bayar makanan kita" bisik Reni karena sudah sampai di dekat mobil Bimo yang terparkir di depan kos Dina.
"Din...aku ke dalam dulu..." ucap Tere, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Dina.
"Nenek sihir kemana mas?" tanya Dina sambil melongok ke arah mobil
"sudah aku antar ke kosnya" ucap Bimo datar
"cepat sekali..." ucap Dina sambil duduk di kursi yang ada di teras kosnya.
"setiap mau pulang aku ajak pulang bersama aku kamu tidak pernah mau, tapi kenapa kamu pulang bersama cowok lain?" ucap Bimo dengan nada kesal dan marah
"memangnya kenapa mas? aku bebas pergi dengan siapa saja" ucap Dina kesal "lagi pula dia teman baikku"
__ADS_1
"kamu kalau aku ajak pulang bareng selalu ada saja alasannya!"berang Bimo
Dina hanya bisa menghela nafasnya, Bimo kembali lagi ke sifat aslinya yang suka mengatur-atur Dina, percuma saja Dina mendebat Bimo ujung-ujungnya juga dia yang harus mengalah.
"tidak ada persahabatan antara cowok dan cewek yang tak melibatkan perasaan! Kamu tahu itu kan Dina?!" ucap Bimo penuh penekanan
"mas...untuk apa mas marah kepadaku? Aku tidak pernah mempermasalahkan mas pergi dengan siapa pun!" Dina mulai emosi
"oohhh....aku tahu mas cemburu"
"aku tidak cemburu Din....aku hanya kesal..." kilah Bimo yang tak meyadari jika dirinya cemburu
"sudahlah mas...aku capek...kalau mas ke sini hanya untuk marah-marah lebih baik mas jangan ke sini lagi!" ucap Dina beranjak dari duduknya.
Bimo langsung memeluk Dina "maafkan aku Din..." ucap Bimo dengan suara bergetar
"mas...aku masih menganggap mas teman baikku bahkan menganggap mas sebagai kakakku jadi tolong jangan bersikap seenaknya sendiri kepadaku" ucap Dina menahan kesalnya
"kumohon maafkan aku" ucap Bimo masih memeluk Dina dan matanya mulai berkaca-kaca tapi Dina tidak mengetahuinya. Dina hanya diam, menjawab lagi pun percuma tak akan menyelesaikan masalah.
Ia lebih memilih membiarkan Bimo, Dina tahu jika dirinya sudah diam tak menanggapi ucapan Bimo, Bimo perlahan akan menyadari jika dia salah.
Perlahan Bimo mengendurkan pelukannya, kemudian ia menatap Dina dengan tatapan sendu. "Din...kalau aku mau menemui oran tuamu boleh?" tanya Bimo dengan nada serius.
"untuk?" Dina menegerutkan dahinya
"aku ingin melamar kamu" ucap Bimo dengan nada yakin
"mas...berapa kali kita sudah membahas masalah ini, aku tidak bisa...mas berhak bahagia dengan orang yang jauh lebih baik dariku" ucap Dina.
Bimo diam, air mata yang sedari di tahan di hadapan Dina akhirnya luruh juga. Bimo sudah tak kuasa menahan air mata yang ia tahan dari tadi sewaktu mereka makan di warung kaki lima.
.
.
.
B e r s a m b u n g
.
Jangan lupa ritualnya ya bestie....
Sekali lagi Kiong hi...kiong hi...untuk teman-teman yang merayakan imlek 🤗🤗
__ADS_1