
Dina terbangun karena pintu kamarnya digedor-gedor entah siapa ia tidak tahu. Dina melihat jam di dinding kamarnyaa menunjukkan pukul delapan lebih lima puluh menit.
Dina melewatkan kuliah paginya, baru kali ini ia tertidur begitu lama. Dengan langkah gontai dan rambut acak-acakan Dina membuka pintu kamarnya. Muncullah dua orang yang tidak ia harapkan kedatangannya bersama sahabat-sahabatnya.
"ya ampun Dina....aku takut kamu kenapa-kenapa" ucap Caca menghampiri Dina langsung memeluknya.
"kamu kenapa? Kenapa semalaman ponselmu mati?!" ucap Bimo
"aku kira kamu bunuh diri" cibir Wilson
"enak saja!" protes Dina
"kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ratna
"kalian kenapa bisa bareng-bareng ke sini?" Dina menatap satu per satu orang-orang yang datang
"aku yang bilang ke kakakmu Din...habisnya dari semalam sampai tadi pagi aku ketok pintumu tak ada suara, aku pikir...." Tere menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"terus kenapa ada mereka? Kalau kakak cuma bilang ke Wilson?"
"semalam aku telepon Ratna, maksudku agara dia ke sini menemani kamu"
"maaf Din...aku meminta kak Bimo ke sini, semalam aku enggak enak badan" Ratna meringis
"aku baik-baik saja, sekarang kalian pulang saja aku mau mandi mau kuliah" ucap Dina kesal
"kuliahmu kosong hari ini" ucap Bimo penuh penekanan
"oh...ya sudah aku mau tidur lagi kalau hari ini libur" Dina membalikkan badannya
"aku pulang....jangan sampai sakit lagi, kalau sampai sakit lagi aku enggak bisa jamin papamu enggak tahu" ucap Wilson kemudian meninggalkan kos Dina
"sudah kalian pulang saja, biar aku yang menemani Dina..." ucap Bimo dengan nada penekanan
"kalian pulang saja, aku ingin sendiri..."
"tapi Din..."
"mas....aku ingin sendiri..."
"baiklah...aku pulang tapi nanti aku ke sini lagi" Bimo meninggalkan Dina bersama teman-temannya
"kami juga diusir Din?" Berta memastikan
"terserah kalian" Dina membalik badannya, dia merebahkan kembali di atas tempat tidurnya
"ya sudah...kami pulang dulu kalau begitu, kalau ada apa-apa kabari kami" ucap Caca kemudian mereka bertiga keluar dari kamar Dina
Setelah semua teman-temannya pergi, ia pun kembali terisak. Ia teringat akan semua kenangannya bersama Dendy. Kali ini dia lebih terpuruk daripada putus dengan kedua mantannya terdahulu.
Dina terisak, memandangi foto Dendy yang terpajang di atas meja belajarnya.
__ADS_1
Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Aku tak akan lupa tak akan pernah bisa
Tentang apa yang harus memisahkan kita
Di saat kutertatih tanpa kau disini
Kau tetap kunanti demi keyakinan ini
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu sluruh nafas ini
Kita telah lewati rasa yang pernah mati
Bukan hal baru bila kau tinggalkan aku
Tanpa kita mencari jalan utk kembali
Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku
Di saat kutertatih tanpa kau disini
Kau tetap kunanti demi keyakinan ini
Jika memang kau terlahir hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Kunikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu sluruh nafas ini
(Last Child feat Gisel ~ Seluruh nafas ini)
Sambil terisak Dina menyayikan lagu "semoga kelak kita bisa bersama lagi Den...aku sayang kamu, aku cinta kamu..."
.
"Dina hari ini enggak kuliah, teman kosnya pagi-pagi panik, taku Dina bunuh diri" ucap Dodi ketika bertemu Dendy di kampus
"hah...apa Dod?!" Dendy kaget raut wajahnya terlihat panik
"sejak semalam, setelah terima telepon dari kamu, Dina tidak keluar kamar bahkan sampai pagi, semua mnegetuk pintunya tapi tak ada jawaban dari Dina"
__ADS_1
Dendy panik, ia berjalan cepat meninggalkan Dodi "kamu mau kemana?" teriak Dodi
"melihat Dina...!"
"Dina baik-baik saja...lagipula kalian sudah tak punya hubungan apa-apa lagi, kamu mau apa? Balikan lagi? terus orang tua kamu bagaimana?" Dodi menghampiri Dendy
Dendy menghentikan langkahnya, kata-kata Dodi membuatnya berpikir. Jika ia kembali lagi pada Dina, dia tak akan bisa melanjutkan kuliahnya, bahkan ia tak akan bisa pulang ke rumahnya.
"selesaikan kuliahmu, tunjukkan kepada orang tuamu kalau kamu bisa mandiri barulah kamu menemui Dina"
"semoga semua belum terlambat..." ucap Dendy lirih
Dua bulan berlalu, Dina sudah kembali lagi beraktivitas seperti biasa. Meski ia masih sering menangis jika teringat Dendy, tapi Dina mencoba untuk ikhlas dan melupakan Dendy.
Dina menghibur dirinya dengan belajar, waktunya ia habiskan di perpustakaan, tanpa ia sadari Dendy sering memperhatikannya. Tapi Dendy tak pernah menunjukkan dirinya, ia selalu bersembunyi ketika melihat Dina.
Mereka berdua sama-sama merasakan sakit, sama-sama terluka. Hanya Dendy yang masih sering mengawasi Dina dari jauh. Ia harus merelakan Dina dekat dengan cowok lain.
"semoga kamu bahagia dengan pacar baru kamu Din..."
.
Mengetahui Dina telah putus dari pacarnya, Bimo kembali memberanikan diri mendekati Dina, ia menunjukkan perhatiannya seperti saat awal-awal Dina kuliah.
"Din...aku ingin kita kembali lagi seperti dulu" ucap Bimo saat mengantar Dina pulang ke kosnya
"maaf mas....aku tidak bisa, aku masih belum bisa melupakan mantanku, aku masih sangat mencintainya...aku masih menunggunya"
"sampai kapan Din kamu akan menunggunya, dia tak akan pernah kembali padamu!"
"entah sampai kapan aku tidak tahu..."
"tapi Dina...dia itu sudah menyakitimu...!"
"apa bedanya dengan mas Bimo...?? Aku ingin sendiri dulu mas...aku tidak ingin berpacaran dengan siapapun untuk saat ini"
Sekuat apapun ia berusaha membuka hatinya buat orang lain, tapi nyatanya hati dan pikirannya tetap pada Dendy. Dina tak tahu kenapa kali ini semua terasa lebih sulit dan lebih berat.
Ketika ia putus dengan mantan-mantannya terdahulu, ia memang terpuruk tapi tak seperti sekarang. Hanya saja yang dulu membuat ia trauma, dan tak mudah memaafkan mantan-mantan yang telah meninggalkannya.
Kali ini berberda, ia memaafkan Dendy, ia tak trauma ia juga tak dendam, perasaannya semakin besar pada Dendy. Semakin ia berusaha melupakan, ia semakin mencintainya.
Dina masih mengharapkan Dendy kembali padanya. Dina yakin suatu saat apa yang ia harapkan akan terwujud. Dia dan dendy bersatu kembali. Dendy adalah cinta sejati bagi Dina yang tak pernah terlupakan sampai kapanpun.
.
.
.
T A M A T
__ADS_1
Akhirnya...tamat juga novel ini. Terima kasih bestie yang sudah setia membaca karya receh ini. Tidak semua cerita berakhir seperti yang kita harapkan. Jangan buru-buru hapus dari daftar favorit ya...karena akan ada bochapnya, segera....
Lope...lope...sekebon dari Nona Manis 😘😘😘