
Hari-hari yang menjadi akhir dari masa pembelajaran masa putih abu-abu telah tiba. Hari-hari dimana kemampuan para siswa diuji. Dina fokus dengan ujiannya, dia tidak memikirkan apapun selain ujian yang dihadapinya. Bahkan ia melupakan Dendy, bukan melupakan lebih tepatnya ia sengaja untuk sementara waktu tidak berhubungan dengan Dendy.
Sedikit egois memang, tapi Dina tidak mungkin membagi pikirannya karena ujian tidak bisa menunggu, sedangkan pacar masih bisa menunggu dan mengerti.
Dina juga tidak tahu apakah Dendy menelponnya atau tidak karena ia sudah berpesan ke orang-orang di rumahnya bahwa ia tidak ingin diganggu.
Lima hari berlalu, Dina telah menyelsaikan ujiannya. Dina pulang ke rumahnya dengan rasa lelah yang mendera. Selama lima hari dia sudah belajar habis-habisan, dan mengerjakan soal-soal ujian semampunya dia. Apapun hasilnya yang penting ia sudah berusaha dengan keras.
Dina memutuskan untuk tidur siang, ia hanya ingin tidur tanpa ada yang mengganggu karena ia butuh mengistirahatkan otak dan tubuhnya.
.
.
Di rumah Dendy, sejak kejadian Dina merapikan kamar tidurnya, ia belum berhasil menghubungi Dina. Dendy panik dan takut Dina marah dengannya. Tapi ia juga tahu Dina sedang fokus dengan ujian akhirnya, namun ia masih tidak tenang karena sampai hari terakhir ujian, Dina belum memberinya kabar.
Sampai sore Dina juga masih belum menghubunginya, bahkan teleponnya yang mengangkat adiknya dan memberi tahu kalau Dina belum pulang. Dendy menjadi semakin was-was tidak biasanya Dina sulit untuk dihubungi.
Kesabaran Dendy mulai menipis, ia ingin ke rumah Dina tapi takut kalau-kalau Dina memang tidak ada di rumah. Tapi dia juga ingin bertemu Dina, Dendy menjadi frustasi. Dengan langkah lebar ia masuk ke dalam kamar Gilang, yang ia tahu sejak pulang sekolah tidur dan belum bangun.
"mas..." Dendy menggoyang-goyangkan tubuh Gilang yang masih terlelap. Tidak ada sahutan, Dendy kembali menggoyang-goyangkan tubuh Gilang lagi.
"ada apa?" tanya Gilang dengan suara serak khas bangun tidur
"mas...tadi bertemu Dina?" tanya Dendy
"kamu membangunkan aku hanya untuk menanyakan Dina, lebih baik aku tidur lagi" ucap Gilang membalik tubuhnya memunggungi Dendy
"mas..." Dendy mencoba membangunkan Gilang kembali
"apa lagi sih?" ucap Gilang kesal karena tidurnya terganggu
"Dina bagaimana?"
"aku tidak bertemu dengan Dina langsung, hanya melihatnya dari jauh, dia menyendiri dan tidak ingin berbicara dengan siapapun" jawab Gilang
"memangnya ada masalah apa?" tanya Dendy
"mana kutahu Den!" jawab Gilang ketus
Tidak puas dengan jawaban Gilang, Dendy berjalan menuruni tangga, ia hendak menelpon Dina.
Tut...tut ....tut....
^^^^^^☎️ halo ^^^^^^
"halo Dinanya ada?"
^^^☎️Dina sedang keluar^^^
"oh..baik nanti kalau sudah pulang, tolong katakan ke Dina untuk menelpon balik"
^^^☎️ini dari siapa?^^^
__ADS_1
"Dendy tante"
^^^☎️oh iya nanti tante sampaikan^^^
"terima kasih tante"
'tidak biasanya Dina keluar rumah, apa hanya alasannya saja karena dia sedang marah padaku?' batin Dendy.
Sampai malam Dina tidak menelpon balik, Dendy semakin gusar. Dia takut Dina benar-benar marah. Tidak biasanya Dina mendiamkannya begitu lama. Tapi memang salahnya juga karena mencari pelarian disaat Dina sedang sibuk mempersiapkan ujian akhirnya.
.
.
Seminggu berlalu, masih tidak ada kabar dari Dina. Dendy sudah tidak bisa bertanya pada Krisna atau Gilang lagi bagaimana Dina di sekolah. Karena sudah pasti Dina tidak ke sekolah karena sudah selesai ujian.
Dendy menjadi uring-uringan, dan yang selalu jadi sasaran adalah adiknya. Karena ia menganggap adiknya punya andil besar dalam retaknya hubungannya dengan Dina. Jika saja saat itu adiknya tidak membiarkan Dina masuk ke kamarnya pasti keadaannya tidak akan seperti sekarang.
Krisna yang sudah seminggu tidak bertemu dengan Dendy akhirnya ia mendatangi rumahnya Dendy. Selama libur karena ada ujian akhir Krisna sibuk membantu mamanya berjualan di toko kue milik mamanya.
"sore tante " sapa Krisna kepada mamanya Dendy yang sedang menyiram tanaman.
"eh...sore...tumben...lama tidak kesini?"
"iya tante, mumpung libur bantu-bantu mama di toko"
"bagus itu...daripada Dendy, kerjaannya cuma melamun, marah-marah tidak jelas" ucap mama Tari
"memangnya Dendy kenapa tante?" tanya Krisna
Krisna berjalan masuk ke rumah Dendy dan naik ke lantai dua. Di lantai dua ia melihat Dendy sedang bermain gitar di depan tv.
"Den..." ucap Krisna duduk di sebelah Dendy
"masih ingat aku?" ucap Dendy ketus
"kamu kok bicara seperti itu?" ucap Krisna kesal.
"tidak tahu teman lagi susah?"ucap Dendy ketus
"susah apa? Susah makan? Susah tidur hah?" ucap Krisna tak kalah ketus
"sudahlah... Lebih baik kamu pulang saja " ucap Dendy kesal
"ya sudah aku pulang" Krisna beranjak dari duduknya
"eehhh...kok pulang?"
"tadi yang menyuruh aku pulang siapa?"
"iya...iya...maaf" ucap Dendy
"kamu itu sebenarnya ada apa? Kenapa seperti cewek yang sedang datang bulan?" Krisna kembali duduk di sebelah Dendy
__ADS_1
"Dina Na..." ucap Dendy sendu
"benar...benar seperti sedang datang bulan ini anak" ucap Krisna geleng-geleng "tadi marah-marah, sekarang sedih, jangan-jangan kamu sudah gila ya?" lanjutnya sambil bergidik
"sembarangan kalau bicara, aku masih waras tidak gila" ucap dendy kesal
"memangnya ada apa, tadi mamamu juga bilang kamu uring-uringan terus"
"Dina.... Na"
"iya Dina kenapa?" tanya Krisna mulai kesal
"Dina sudah hampir dua minggu tidak ada kabar" ucap Dendy sendu
"maksudmu Dina menghilang? Diculik?" tanya Krisna penasaran
"aduh...kenapa pula punya teman yang otaknya cuma diisi makanan?" ucap Dendy kesal
"ya apa dong?" Krisna mulai tidak sabar
"Dina tidak bisa aku telepon, bahkan saat aku bilang ke orang rumahnya untuk telepon balik, dia juga tidak menelpon"
"Dina 'kan sedang ujian Den"
"iya memang, biasanya dia setelah tugas-tugas atau ulangan selesai selalu memberi kabar tapi ini sudah dua belas hari tidak ada kabar" ucap Dendy menerawang jauh
"mungkin dia sudah punya pacar baru" Krisna menggoda Dendy
"hah...jangan sanpai...!" Dendy mendadak emosi
"kemungkinannya ya cuma itu Den, atau kalian sedang ada masalah?"
"masalah? Entahlah" Dendy mengedikkan bahunya
Dendy mulai menceritakan awal mula sejak Dina mulai sibuk dengan persiapan ujianya sampai ia harus mencari pelarian, dan puncaknya waktu Dina menunggunya tapi ia malah asyik bersama Nia.
"kamu yang salah Den, dari awal kamu juga tahu kalau Dina itu ingin mengejar cita-citanya, kamu malah menduakannya" ucap Krisna sinis
"iya aku akui aku salah, tapi aku tidak tahu kenapa Dina sulit dihubungi" ucap Dendy sendu.
Mendadak Dendy menjadi bodoh, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sifat lamanya kmebali lagi, menjadi cowok yang pasif dan tidak segera menyelesaikan masalahnya.
.
.
.
.B E R S A M B U N G
Yuk...bestie dukung terus karya ini ya...
Tolong like, komen dan vote nya ya
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie