
Setelah perayaan kelulusan yang sederhana itu, Dina kembali ke rutinitasnya yaitu belajar, belajar dan belajar lagi. Karena tes masuk perguruan tinggi negeri sudah dekat.
Hari ini Dina hendak mengambil formulir pendaftaran masuk perguruan tinggi negeri. Tapi Dina bingung berangkat dengan siapa, karena lokasi pendaftaran agak jauh dari rumahnya. lokasi pendafataran itu terletak di sebuah kampus negeri di kota sebelah.
Sebenarnya ia ingin ditemani Dendy, tapi Dendy sendiri sekolah, padahal Dendy sudah berjanji akan mengantar kalau Dina ingin ditemani untuk mengambil formulir pendaftaran. Tapi Dina berpikir ini hari masuk, bukan hari libur tidak mungkin ia menyuruh Dendy bolos.
Akhirnya setelah menelpon Ani, Dina pergi dengan Ani untuk mengambil formulir. Dina menjemput Ani di rumahnya barulah mereka berangkat ke tempat pendaftaran. Setelah sampai di lokasi pendaftaran Dina terkejut, karena antriannya sudah begitu panjang. Dengan langkah malas mau tidak mau mereka berdua ikut mengantri.
Setelah formulir mereka dapatkan, mereka berdua sepakat untuk duduk-duduk dulu di kantin, karena kebetulan lokasi pendaftaran itu berada tak jauh dari kantin kampus tersebut. Mereka berdua beristirahat sambil meminum sebotol teh dan sambil mengisi formulir karena mereka harus mengmbalikan formulir tiga hari kemudian.
Setelah rasa lelah mereka berkurang, mereka 'pun memutuskan untuk pulang. Ternyata mengantri itu membutuhkan banyak tenaga mereka berdua benar-benar lelah. Ani sudah tak bersemangat bahkan sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Dina fokus dengan jalan, sedangkan Ani benar-benar lelah karena antrian untuk program IPS lebih panjang daripada program IPA.
Mereka telah sampai di depan rumah Ani, setelah Ani turun Dina berpamitan karena ia ingin segera beristirahat. Badannya terasa sangat lelah. Sesampainya Dina di rumah, ia langsung tertidur pulas. Bahkan Dendy menelponnya ia tidak tahu, karena tidak ada orang di rumah.
Dendy merasa kawatir, ia tahu hari ini Dina mengambil formulir pendaftaran perguruan tinggi negeri. Dendy tidak tahu Dina pergi dengan siapa karena Dina tidak mengabarinya. Setelah pulang sekolah Dendy menelpon rumah Dina tapi tidak ada yang mengangkat.
Dendy kemudian menelpon studio SMAX fm tapi Dina juga tidak ada di sana. Dendy menjadi semakin kawatir karena ia tidak tahu Dina berada dimana. Setelah berganti baju ia memutuskan untuk pergi ke rumah Dina memastikan untuk Dina baik-baik saja.
Dalam perjalanan Dendy ingat Dina biasanya pergi dengan Ani, kemudian ia membelokkan motornya ke arah rumah Ani. Sesampainya di rumah Ani, Dendy bertemu dengan ibunya Ani. Ibunya Ani mengatakan tadi Ani memang pergi dengan Dina, tapi Dina langsung pulang.
Setelah berpamitan kepada ibunya Ani, Dendy melajukan motornya ke rumah Dina. Dendy yakin Dina berada di rumahnya. Dendy telah sampai di rumah Dina, tapi rumah Dina sepi, tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah.
Dendy memberanikan untuk mengetuk pintu samping, karena yang ia tahu, kamar Dina terletak dekat dengan pintu samping rumah. Lama mengetuk tidak ada jawaban dari dalam rumah Dendy 'pun memutuskan untuk pulang. Ketika ia membalikkan badannya terdengar bunyi pintu dibuka.
Dendy membalikkan badan dan melihat Dina dengan rambut acak-acakan matanya 'pun belum sepenuhnya terbuka, bahkan Dina terlihat belum berganti pakaian. Dendy melihatnya hanya tersenyum dan menghampiri Dina.
"maaf ya sayang...aku ganggu tidur kamu" ucap Dendy lembut
"ada apa Yang?" tanya Dina dengan suara serak karena baru bangun tidur
"aku kawatir, aku tadi menelpon rumah tapi tidak diangkat" ucap Dendy dengan tatapan teduh
"aku enggak dengar ada telepon" ucap Dina "kamu duduk dulu, aku mau ganti baju sama cuci muka dulu" Dina masuk ke dalam rumah meninggalkan Dendy. Dendy berjalan ke arah teras dan duduk di kursi panjang.
Setelah beberapa menit, Dina keluar dengan wajah lebih segar, dan membawa dua gelas es sirup.
__ADS_1
"ini minum dulu" Dina meletakkan gelas-gelas di sebelah Dendy duduk.
Dendy yang merasa kehausan, apalagi cuaca sedang panas terik langsung meminun es sirup yang diberikan oleh Dina hingga habis tak bersisa.
"haus Yang...?" Dina terkekeh
"iya panas banget di jalan " ucap Dendy meletakkan gelas kosong di sampingnya
"kalau masih haus, minum saja punyaku" Dina memberikan gelasnya ke Dendy
"sudah...sudah...nanti saja" ucap Dendy. Dina 'pun meletakkan gelasnya kembali
"kamu ke sini ada apa?" tanya Dina
"aku kangen dan kawatir" ucap Dendy dengan senyum mengembang
"kawatir kenapa?"
"katanya hari ini mau ambil formulir, kemarin katanya kalau mau pergi bilang ke aku dulu, aku tunggu-tunggu kamu tidak ada kabar" ucap Dendy sambil menegrucutkan bibirnya
"setidaknya kamu kabari aku kalau mau pergi, aku kawatir kamu pergi sendirian, mas Gilang katanya juga hari ini ambil formulir tapi dia sama teman-temannya, sebenarnya aku sudah minta tolong ke dia agar bareng sama kamu, tapi dia tidak bisa karena berangkat langsung dari rumahnya" terang Dendy
"iya tadi aku bertemu dengan Gilang dengan teman-temannya" ucap Dina tersenyum
"formulirnya langsung dikembalikan?" tanya Dendy
"tiga hari lagi aku mengembalikan formulir" jawab Dina
"tiga hari lagi ya...? Aku antar ya" ucap Dendy
"memangnya kamu tidak masuk sekolah?" tanya Dina
"aku akan ijin Din" ucap Dendy
"jangan Yang, masak iya kamu bolos, nanti apa kata mamamu?" Dina takut mamanya Dendy akan marah padanya karena Dendy membolos sekolah hanya untuk mengantarkan Dina mengembalikan formulir
__ADS_1
"terus kamu berangkat dengan siapa Yang?" tanya Dendy kawatir
"aku berangkat dengan Ani, tadi aku sudah janjian dengannya" jawab Dina
"tapi pulangnya mampir rumah ya..."
"iya..iya..." jawab Dina
Akhirnya Dendy mengalah, Dina memang mandiri dia tidak mau merepotkan Dendy yang jelas-jelas sudah menawarkan untuk membolos sekolah demi mengantarkan dirinya mengembalikan formulir.
"Yang...mau keluar jalan-jalan tidak?" tanya Dendy
"aku capek Yang...malas keluar" Dina mengerucutkan bibirnya
"ya sudah...kalau begitu aku pulang dulu ya, kamu tidur lagi saja ya...sepertinya kamu masih ngantuk sekali" Dendy mengusap kepala Dina
Dendy memutuskan untuk segera pulang, sebenarnya ia ingin mengajak Dina untuk jalan-jalan, tapi melihat Dina yang terlihat sangat capek Dendy tidak tega. Setelah Dendy pulang Dina masuk lagi ke kamarnya, dan melanjutkan tidurnya karena dia benar-benar lelah.
Dendy melajukan motornya ke rumah Krisna, ia mendatangi Krisna karena merasa kesal dan kasihan dengan Dina. Ia kesal karena Dina sepertinya tidak ingin pergi dengannya tapi ia juga kasihan Dina terlihat sangat lelah. Padahal dia tadi ingin sekali mengajak Dina jalan-jalan ke taman kota.
Terbesit perasaan curiga, curiga Dina sedang menghindarinya. Tapi Dendy menepis rasa itu, ia tetap harus berpikiran positif, ia harus tetap percaya dengan Dina.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Jangan lupa ritualnya ya bestie...
Like komen dan votenya ya
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1