Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 49


__ADS_3

Dendy melajukan motornya ke warung bakso dekat rumahnya. Warung tempat pertama kali mereka makan bakso berdua. Dendy memarkirkan motornya di tempat yang teduh. Dina pun turun dari boncengan dan melepaskan helmnya.


Mereka berjalan masuk ke dalam warung bakso. Suasana di dalam begitu ramai dan penuh karena kebetulan bertepatan dengan jam istirahat para pegawai dan juga jam pulang anak-anak sekolah.


"Di dalam sudah penuh Din, kita duduk di luar saja ya..." ucap Dendy menunjuk bangku kososng di teras warung.


"iya, di dalam panas Den, enak di luar anginnya sepoi-sepoi" ucap Dina menyunggingkan senyumnya.


"kamu mau makan apa Din, biar aku yang pesan" ucap Dendy


"bakso sama es jeruk saja Den " ucap Dina menarik kursi mendekatkannya ke meja agar duduknya lebih nyaman


Dendy berjalan ke gerobak abang tukang bakso dan memesan bakso untuknya dan untuk Dina. Kemudian dia duduk di sebelah Dina dan melepas jaket yang tadi dia pakai. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Dina melakukan ritualnya sebelum makan bakso, mencicipi kuahnya kemudian menambahkan sambal dan cuka.


Dendy memperhatikan apa yang dilakukan Dina, dia mencoba menghapal semua yang dilakukan Dina.


"Ritualnya enggak boleh lupa ya Din?" ucap Dendy terkekeh


"iya...biar pas di lidah Den " ucap Dina sambil menyeruput kuah baksonya.


"Kamu suka pedas Din?" tanya Dendy sambil menuangkan sambal di mangkoknya


"Suka Den...tapi sekarang lebih hati-hati kalau makan pedas" ucap Dina meniup-niup kuah bakso yang masih mengepul


"kenapa Din?" ucap Dendy menautkan kedua alisnya


"aku punya sakit maag Den " ucap Dina santai


Mereka berdua makan dalam diam, Dendy bingung mau memulai pembicaraan dari mana lagi. Hingga akhirnya makanan mereka telah habis.


"mau tambah lagi Din? " tanya Dendy


"tidak Den... sedang malas makan, biasa juga tiga mangkok bakso habis" Dina tergelak


"kalau mau tambah aku pesan lagi buat kamu" ucap Dendy


"sudah...sudah cukup Den..." ucap Dina sambil melambaiakan telapak tangannya kanannya


"ya sudah kalau tidak mau, aku bayar dulu habis ini kita ke taman kota" ucap Dendy beranjak dari tempat duduknya


"eh...kita bayar sendiri-sendiri saja "ucap Dina juga beranjak dari tempat duduknya


"aku saja Din, 'kan aku yang ajak" ucap Dendy menyunggingkan senyumnya


Dina kembali duduk dan meminum sisa es jeruknya. Dina tidak mau berdebat masalah bayar membayar biarlah lain kali dia yang bayar. Dendy telah selesai membayar makanannya dan berjalan menghampiri Dina yang juga telah menghabiskan minumnya. Dina beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Dendy yang berjalan ke arahnya.


Dendy meraih dan menggandeng tangan Dina dan berjalan keluar warung bakso. Dina kaget saat Dendy mengandengnya, perlahan-lahan Dina melepaskan tangannya dari genggaman Dendy.


"maaf..." Dendy sadar jika Dina tidak nyaman

__ADS_1


Dina hanya menyunggingkan senyumnya. Dendy melajukan motornya membonceng Dina pergi ke taman kota.


Sesampainya di taman kota Dendy memarkirkan motornya di pinggir jalan. Dan berjalan ke sebuah bangku di bawah pohon besar yang berada di tengah-tengah taman. Mereka berdua 'pun duduk berdampingan.


Dendy kembali melepaskan jaketnya dan menaruhnya di sebelahnya.


"Din, kemarin pergi kemana?" Dendy membuka pembicaraan


"kemarin?" Dina menautkan kedua alisnya menatap Dendy


"iya kemarin waktu istirahat jam sore " terang Dendy menatap Dina


"oh...kemarin, makan bakso di warung 'AA'" ucap Dina memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan


"itu pacarmu Din?" tanya Dendy menahan gejolak yang ada di dalam dadanya, takut dengan jawaban Dina


"oh...bukan...bukan..."


"terus itu siapa? kalian terlihat sangat dekat, malah terlihat seperti orang pacaran"


"hmmm....begitu ya....?" Dina terkekeh "iya pacarku..." lanjutnya sambil menatap Dendy


'Deg...deg...deg....


Dendy membeku mendengar jawaban Dina, wajahnya terlihat marah dan kecewa


"dulu..." Dina tergelak melihat ekspresi Dendy


"apa Den?" ucap Dina menahan senyumnya menatap Dendy


"ah...tidak...tidak..." Dendy menggeleng-gelengkan kepalanya


"dia mantan pacarku waktu kelas satu Den...." ucap Dina kembali pandangnnya lurus ke depan


"oh.... tapi dari yang aku lihat sepertinya kalian masih saling sayang" ucap Dendy berubah menjadi sendu


"entahlah" Dina mengedikkan bahunya "mungkin aku hanya bahan taruhan saja" ucap Dina menarik satu sudut bibirnya


"hah?" Dendy kaget mendengar ucapan Dina


"sekarang ada apa mengajak aku ke sini?" tanya Dina


"menepati janjiku waktu itu Din, mengajak kamu bonceng motor tuaku"


"oh....kalau naik motor kenapa duduk di sini Den?" Dina terkekeh


"panas Dina.... enggak enak naik motor siang-siang, kalau kamu mau dan bisa bagaimana sabtu malam atau minggu pagi kita jalan lagi?" Dendy menatap Dina dengan mata berbinar


"kita lihat saja besok ya, aku tidak berani janji, kamu telepon dulu saja" ucap Dina memiringkan duduknya menghadap Dendy

__ADS_1


"kamu mengajak aku jalan-jalan apa Nana tidak marah?" tanya Dina


"kenapa harus marah? dia bukan siapa-siapaku Din?" ucap Dendy merubah raut wajahnya menjadi serius


Dendy menceritakan semua tentang Nana kepada Dina, tidak ada satupun yang terlewat atau ditutup-tutupi. Dendy berharap dina tidak salah paham terhadapnya .


"Jadi Dendy jadi idola di sekolah ya..." ucap Dina dengan nada menggoda Dendy


"apaan sih Din?" Dendy tersipu malu "justru kamu yang jadi idola di sekolahmu" Dendy menyipitkan matanya


"hahahaha.... kamu itu ada-ada saja" Dina tergelak


"eh...masih lama 'kan?" ucap Dendy melirik pergelangan tangannya.


"jam berapa sekarang? " tanya Dina


"jam dua belas lebih dua puluh lima menit Din"


"oh..." Dina manggut-manggut "nanti kalau sudah jam satu kurang sepuluh menit tolong antar aku balik ke sekolah ya" pinta Dina


Mereka berdua bercanda mengomentari orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka. Menceritakan hal-hal yang mereka anggap lucu. Dina merasa benar-benar terhibur dengan candaan Dendy. Dengan Dendy, Dina menjadi dirinya sendiri, tidak perlu pura-pura menjadi orang lain agar orang yang berada di dekatnya senang.


Sedikit banyak dia mulai tahu bagaimana Dendy, sifatnya hampir sama dengan Dina, mudah bergaul, apa adanya, sederhana dan tidak mau berpura-pura menjadi orang lain. Tidak terasa waktu tiga puluh menit mereka habiskan untuk bercanda. Dendy buru-buru memakai jaketnya, dia takut Dina terlambat masuk les. Tetapi Dina malah santai dan tersenyum melihat kepanikan Dendy.


"Kamu kenapa santai Din? " tanya Dendy


" iya santai lah... hari ini les fisikaku libur" ucap Dina


"tadi kamu bilang minta diantar jam satu kurang sepuluh menit?" Dendy mengernyit


"aku memang sengaja mengerjai kamu, aku ingin tahu apa kamu orang yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya" ucap Dina tergelak


Dendy kembali melepaskan jaketnya dan duduk bersandar kembali. Tiba-tiba badannya merasa lemas, karena dia panik tapi Dina malah menertawakannya. Kesal jengkel itulah yang dirasakan oleh Dendy.


.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


Bestie...tolong dukung othor ya...sekarang sedang proses tanda tangan kontrak, tolong like komen serta vote untuk novel receh ini yaa


Kiriman bunga atau kopi sangat diharapkan ya...

__ADS_1


terima kasih sekebon bestie...


__ADS_2