
Pagi menjelang, matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur. Kokok ayam sudah bersahut-sahutan. Kaicauan burung juga sudah mulai terdengar bersahutan.
Seorang perempuan muda mulai menggeliat dalam selimutnya. Merasakan badannya yang remuk semua. Rasa lelah, ngantuk, malas bercampur menjadi satu. Ingin rasanya kembali bergulung dalam selimut, tetapi hari ini banyak sekali tugas yang harus dia kerjakan.
Tok.! Tok..! Tok..!
Dari arah pintu terdengar suara pintu diketuk, tak lama kemudian munculah seorang wanita berumur sekitar 40 tahun dari balik pintu yang terbuka. Wanita itu berjalan masuk dan mulai membuka tirai lalu membuka jendela yang masih tertutup rapat.
Sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar, meskipun belum terlalu menyilaukan tetapi cukup membuat penghuninya terusik.
"Ini sudah siang lho Din..." ucap Mama Vera ibunya Dina sambil mengikat tirai jendela agar tidak tertutup lagi
"Jam berapa ma?" Dina dengan suara serak khas bangun tidur
"sudah jam enam kurang lima belas menit" ucap mama Vera sambil menyibak selimut Dina agar Dina segera bangun
"Hah...kenpa tidak dari tadi membangunkan aku sih ma? " ucap Dina bergegas bangun dan keluar kamar
Berlari ke arah jemuran, dan menyambar handuk yang tergantung di jemuran kemudian langsung masuk ke kamar mandi
"ckkk....anak itu... tiap habis ikut kegiatan selalu saja bangun kesiangan " omel mama Vera sambil membereskan bantal guling dan selimut Dina yang ditinggal begitu saja.
Belum sampai mama Vera keluar dari kamar Dina, Dina sudah kembali masuk kamarnya
"Kamu mandi apa cuci muka saja Din?" ucapan Mama Vera dengan tatapan heran
"Mandilah ma... tapi cepat-cepat keburu siang" jawab Dina cengengesan
"Ck...anak gadis kok mandinya kilat " gerutu mama Vera sambil berjalan keluar kamar meninggalkan Dina untuk berganti baju. Sesampainya di pintu kamar mama Vera menoleh ke arah Dina lagi "buruan... terus langsung sarapan" ucap mama Vera sambil menutup pintu kamar Dina
Sudah kebiasaan Dina tidak bisa lepas dari radio. Mau dalam keadaan buru-buru 'pun masih sempat mendengarkan radio. Dina memakai seragam sekolahnya sambil ikut bernyanyi ketika di radio sedang diputar musik yang dari band yang Dina suka.
*Separuh nafasku
Terbang bersama dirimu
Saat kau tinggalkanku
Salahkanku
Salahkah aku
Bila aku bukanlah
Seperti aku yang dahulu?
Ada makna tergali dari sini
Dari pertikaian yang terjadi
Kau hancurkan diriku
Bila kau tinggalkan aku
Kau dewiku
Kembalilah padaku
Bawa separuh nafasku
Kau dewiku
__ADS_1
Salahkah aku
Bila aku bukanlah
Seperti aku yang dahulu?
Ada makna tergali dari sini
Dari pertikaian yang terjadi
Kau hancurkan diriku
Bila kau tinggalkan aku
Kau dewiku
Kembalilah padaku
Bawa separuh nafasku
Kau dewiku
Ada makna tergali dari sini
Dari pertikaian yang terjadi
Kau hancurkan diriku
Bila kau tinggalkan aku
(Jangan tinggalkan) Kau dewiku (oh, dewiku)
Kembalilah padaku
Bawa separuh nafasku
Kau hancurkan diriku
Bila kau tinggalkan aku
(Jangan tinggalkan) Kau dewiku (oh, dewiku)
Kembalilah padaku
Bawa separuh nafasku
(Kembalilah kau) Kau dewiku (oh, dewiku*)
(Separuh Nafas - Dewa)
Dina ikut bernyanyi lagu separu nafas dari band Dewa tapi ketika kata 'Dewiku' dia ganti 'dewaku'. Saat mendengar lagu itu Dina teringat dengan Mas Bimo. Pacarnya yang dulu, yang memutuskannya tanpa alasan yang jelas
Setelah selesai memakai seragamnya Dina menenteng tas sekolahnya keluar kamar dan menuju meja makan. Dina sarapan dengan cepat supaya dia tidak terlambat.
"Ingat kamu sudah kelas tiga, sebentar lagi ujian akhir kurangi kegiatanmu" ucap mama Vera yang menemani Dina sarapan
"Iya ma, kemarin yang terakhir habis ini sudah tidak ada lagi, tinggal urusan studio radio saja" jawab Dina sambil menyendok nasi suapan terakhir di piringnya
Dina buru-buru membereskan piring yang dipakainya memasukkannya ke dalam tempat cuci piring. Dina bergegas memakai sepatunya dan memakai jaketnya. Dina berpamitan seraya menyium pipi kiri dan kanan mamanya, setelah itu Dina menyambar kunci motor yang tergantung di dekat meja makan.
Dina menyalakan motornya dan memanaskan mesinnya sebentar sambil memakai helmnya. Setelah dirasa siap Dina melajukan motornya berangkat ke sekolah.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju ke sekolah Dina bertemu dengan Heri teman sesama pengurus OSIS. Ssudah menjadi kebiasaan Dina setiap bertemu Heri di jalan pasti memberi tumpangan kepada teman baiknya itu.
Sesampainya di sekolah mereka berpisah Heri berada di kelas IPS satu kelas dengan Gilang. Sesampai di kelas semua sudah tampak sibuk mengerjakan PR matematika minggu lalu. Yuni menyambut teman sebangkunya itu dengan tatapan bahagianya, seolah-olah mereka sudah tidak bertemu satu tahun.
"Din, sudah mengerjakan PR matematika?" tanya Yuni
"sudah... sudah selesai dari kemarin-kemarin" Jawab Dina sambil meletakkan tas yang tadi digendongnya dan melepaskan jaket yang dipakainya
"Tumben sudah selesai biasa juga di sekolah baru diselesaikan" Yuni mencebikkan bibirnya
"Ya bagaimana lagi Yun... kemarin aku makrab jadi semua tugas harus aku selesaikan sebelum acara" jawab Dina sambil melipat jaket dan meletakkannya di laci meja nya
"Sini aku pinjam PR mu"
" iya sebentar..." jawab Dina
Dina membuka tasnya dan mengmbil buku PRnya menyerahkannya kepada Yuni. Bel tanda mulai belajar berbunyi semua siswa masuk ke kelas dan duduk di bangkunya masing-masing.
Jam istirahat pertama 'pun tiba. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Dina masih bermalas-malasan duduk di bangkunya karena merasa badannya sangat capek dan masih mengantuk.
"Din, kamu tidak ke kantin?" tanya Yuni
"Tidak Yun, aku sedang malas, badanku capek banget" jawab Dina
" Ya sudah aku ke kantin dulu" Yuni meninggalkan Dina di kelas
Dina merasa bosan, sendirian di kelas, dia memutuskan untuk pergi ke kelas Ani yang berada di kelas IPS bersebelahan dengan kelasnya Gilang.
Ani adalah teman Dina sejak SMP mereka menjadi dekat karena sama-sama jadi pengurus OSIS dua periode.
Sesampainya di kelas Ani Dina celingukan mencari keberadaan Ani ternyata sedang berada di pojok kelas bercanda dengan teman-teman sekelasnya. Dina pun menghampiri Ani
"Kok loyo Din?" tanya Ani
"Iya An... capek banget aku" Jawab Dina sambil Duduk di dekat Ani dan menyandarkan badannya di dinding "Eh...kemarin kenapa tidak ikut ke puncak An?" tanya Dina
"Itu aku disuruh Ibuku jaga rumah, soalnya bapak sama ibuku lagi ke jogja jenguk kakakku" jawab Ani
"Emang kakakmu sakit, kok dijenguk?" tanya Dina sambil menegakkan badannya menghadap Ani
"tidak sakit Din, cuma bapak sama ibuku katanya kangen, kakakku sudah lama tidak pulang" jawab Ani
"Eh...kemarin acaranya bagaimana?" tanya ani
"Biasa saja An...seperti biasa begitulah " ucap Dina
"ohh..." Ani manggut-manggut
Bel masuk pun berbunyi Dina pamit ke Ani untuk kembali ke kelasnya. Langkah gontai Dina karena sedanng capek dan ngantuk tidak lupaut dari pandangan Gilang. Gilang heran kenapa perilaku Dina sekarang kaya Adiknya kemarin ya, Gilang berpikir telah terjadi sesuatu di antara mereka.
.
.
.
.
.
**Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie