
"ayo jawab kak..." ucap Dina sedikit kesal
"waktu kamu ke kos Vanya tempo hari aku ada di sana" Wilson menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"kakak pacaran dengan kak Vanya?" selidik Dina
"hmm...itu...hmm..."
"terus kak Lila?!"
Wilson tak bisa berkutik dengan adik sepupunya yang menurut dia sangat cerewet.
"kakak ini ya... Playboy cap kadal..." cibir Dina
"mumpung masih muda Din...nikmati kebebasan dulu" Wilson mulai jumawa
"ternyata aku salah cerita sama kakak" ucap Dina lesu
"nikmati masa mudamu, habiskan dengan orang-orang yang menyenangkan, cari teman pacar sebanyak-banyaknya, nanti tiba waktunya kamu tinggal memilih mana yang tepat untukmu" ucap Wilson serius
"maksud kakak, aku harus.... Koleksi...selesksi terus resepsi begitu?" Dina menatap kakaknya yang terlihat serius
"betul...ternyata kamu benar-benar pintar" ucap Wilson terkekeh
"eh...tapi kan kak Vanya itu dua atau tiga tahun di atas kakak kan?" tanya Dina
"umur enggak jadi masalah" Wilson terkekeh
"sepertinya aku akan sering ke kampusmu, mau aku jemput kuliah tidak? Mumpung aku sedang baik hati" Wilson menaikturunkan alisnya
"boleh-boleh...lumayan...pengiritan....hemat tenaga juga hemat uang " Dina tergelak
Wilson senang, adiknya mulai kembali ceria dan bisa tertawa meskipun belum terlihat lepas. Bukan tanpa alasan Wilson tiba-tiba mendatangi kos Dina bersama Lila.
Wilson merasa sedikit kawatir, lama adik sepupunya itu tak memberinya kabar. Dan juga ia merasa bersalah waktu Dina sedang terkena masalah dengan Riri ia tak mengetahuinya.
__ADS_1
Padahal teman-temannya banyak yang kenal dengan Dina, tapi bodohnya dia tak pernah mencari tahu kabar adik sepupunya itu. Ia terlalu sibuk tebar pesona pada cewek-cewek.
Sesuai janji Wilson, ia menjemput adik sepupunya itu untuk berangkat kuliah. Karena kebetulan ia juga sedang ada kegiatan di pusgiwa yang berada di kampus Dina.
Dina masuk kuliah sesi dua yaitu jam sembilan tiga puluh tapi Wilson jam delapan sudah menjemputnya. Dina kesal karena ia masih bersantai-santai di kamarnya tapi Wilson sudah menyuruhnya buru-buru berangkat.
"kepagian kak...lantas aku mau ngapain di kampus?" ucap Dina kesal
"terserah, mau ngepel lantai kampus juga boleh" ucap Wilson asal
"traktir aku sarapan!" Dina menyilangkan kedua tangannya di depan dada
"baiklah...ayo...cepat...aku traktir di kantin"
Dengan mata berbinar Dina naik ke boncengan Wilson, hari ini ia merasa senang karena bisa makan gratis, kapan lagi ditraktir kakak sepupunya yang pelit itu pikirnya.
Saat masuk ke area parkir motor, Dina tak sengaja berpapasan dengan Dendy. Mereka sama-sama mengantre di depan penjaga parkir, Dina hendak masuk parkiran Dendy hendak keluar.
Dina menatap Dendy dengan tatapan sendu, air matanya lolos begitu saja. Dina terdiam membeku menatap Dendy, Wilson menyadari Dina yang diam mematung di belakang.
"Din...!jangan melamun...!" bentak Wilson "aku takut kamu kemasukan roh penunggu parkiran"
Air mata Dina tak bisa terbendung, pandangannya mengabur, tiba-tiba Dina pingsan.
"lhoh...eh...Din...kamu kenapa?" Wilson panik kemudian ia mematikan mesin motornya.
Wilson menepuk-nepuk pelan pipi Dina, agar Dina tersadar "Dina....!!" dari arah belakang Ratna berlari menghampiri Dina yang tak sadarkan diri.
Dendy menepikan motornya, ia terpaku melihat Dina yang tiba-tiba pingsan, ia tak tahu harus berbuat apa, ia hanya menatap Dina dari jauh. Pikirannya kalut, bingung dan entah Dina bersama siapa ia belum pernah melihatnya.
"Dina...kamu kenapa?!" Ratna panik
"entah tiba-tiba dia pingsan, padahal tadi baik-baik saja mana aku pakai motor lagi, aduh bagaimana ini?" Wilson ikut panik
"akhir-akhir ini Dina memang lemah kak, dia jarang makan...sebentar aku telepon kak Bimo dulu" ucap Ratna mengambil ponselnya
__ADS_1
Tempat parkir motor dibuat gaduh karena Dina yang tiba-tiba pingsan. Penjaga tempat parkir tak bisa menolong banyak, karena bertepatan dengan pergantian sesi kuliah jadi motor yang keluar masuk parkiran.
Tak berapa lama Bimo datang dengan berlari, ia terlihat begitu panik. Melihat Dina tak sadarkan diri "kamu siapa?! Pacar Dina?" Wilson sedikit emosi
"bukan...dia bukan pacar Dina kak...! " Ratna kesal dalam saat yang genting seperti itu Wilson masih saja menanyakan hal yang tidak perlu
Bimo mengangkat tubuh Dina dan membawanya ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat Dina pingsan. Dendy terhenyak, ia berlari menghampiri Ratna "Dina kenapa?"
"kamu siapa?" Ratna menatap Dendy dengan curiga "sepertinya aku pernah melihat kamu, tapi dimana?" Ratna mencoba mengingat-ingat
"Dina kenapa?" Dendy mengulangi pertanyaannya lagi
"entah aku tidak tahu, yang aku tahu beberapa bulan terakhir Dina sakit" jawab Ratna
Wilson pun kembali ke tempat motornya terparkir, Ratna yang melihatnya menghampirinya "Dina dibawa kemana kak?" tanya Ratna kawatir
"ke rumahku!" jawab Wilson singkat sambil memakai helmnya
"rumah? memangnya kakak siapa?" Ratna bingung
"aku kakaknya Dina, sudah jangan banyak tanya lagi, aku mau menyusul mereka" ucap Wilson
"aku ikut kak..." ucap Ratna kemudian ia mengikuti Wilson dari belakang menaiki motornya masing-masing
Dendy bingung, ia berusaha mencerna apa yang telah terjadi dan juga semua perkataan yang baru saja ia dengar. Ingatan Dendy berputar pada setahun yang lalu.
Dina juga sempat pingsan dan akhirnya dirawat di rumah sakit, dan dialah penyebab Dina jatuh sakit. Kejadian yang sama terulang hari ini. Tapi ia masih tak mengerti siapa dua cowok yang terlihat panik melihat Dina sakit.
Pikiran buruk terlintas di pikirannya, Dina selama ini menduakannya. Tapi ia segera menepis semuanya, selama mereka terpisah jarak tak ada satupun hal yang mencurigakan.
Dina setiap minggu selalu pulang untuknya dan itu pun waktunya lwbih banyak ia habiskan bersama Dendy. Jika memang Dina menduakannya, sudah sejak dulu Dina pasti memutuskan hubungan mereka.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g