
Dina yang bingung lantaran sudah hampir seminggu tidak mendengar kabar dari Dendy yang biasanya selalu muncul tiba-tiba di sekolahnya tapi kini menghilang tanpa kabar bak ditelan bumi. Dina bertekat jika besok Dendy tidak menemuinya atau menelponnya dia akan ke rumah Dendy.
Dina hanya ingin memastikan apakah semua baik-baik saja atau memang hubungannya dengan Dendy harus berakhir. Kebetulan hari ini hari jumat, Dina punya waktu agak luang sebelum dia les pukul satu nanti.
Dina sengaja menunggu Gilang di tempat parkir karena saat Dina ke parkiran motor melihat motor Gilang masih terparkir di sana berarti pemiliknya belum pulang. Tak butuh waktu lama Dina menunggu Gilang, dia sudah melihat Gilang berjalan ke arahnya.
"kamu mau apa Din di sini?" tanya Gilang mendekat ke arah Dina
"menunggu kamu Lang" ucap Dina menggeser tubuhnya ke samping agar Gilang bisa mengambil helmnya.
"nunggu aku? " Gilang mengerutkan dahinya
"iya... Aku mau tanya ke kamu, Dendy kemana? apa dia sakit?" tanya Dina menatap Gilang yang sedang memakai helmnya
"ada di rumah kok Din" jawab Gilang bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi di antara Dina dan Dendy
"oh...aku telepon katanya enggak ada di rumah" ucap Dina bingung kenapa tiba-tiba Dendy seperti menghindar darinya
"nanti aku bilang ke dia kalau kamu mencari dia" ucap Gilang naik ke atas motornya dan menyalakannya
"oke... Terima kasih Gilang, aku mau ke studio dulu, mau les masih nunggu lama" ucap Dina dan dibalas dengn anggukan kepala oleh Gilang
Gilang melajukan motor miliknya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ternyata motor milik Dendy sudah terparkir di rumah. Gilang bergegas masuk ke rumah dan menemukan adik sepupunya itu sedang bermain gitar di ruang tamu.
Dendy masih memakai seragamnya belum menggantinya dengan pakaian rumahan itu berarti dia belum lama sampai di rumah.
"Den.." sapa Gilang duduk di seberang Dendy
"sudah pulang mas?" tanya Dendy
"belum..." ucap Gilang kesal sudah jelas ada di rumah ya berarti sudah pulang
"Dina menanyakan kamu tadi" ucap Gilang menatap adik sepupunya
Dendy menghentikan petikan gitarnya menatap Gilang sesaat dan melanjutkan bermain gitar lagi tak menanggapi ucapan Gilang
"kalian sebenarnya ada apa? Dina tadi bilang sudah menelpon ke rumah tapi katanya kamu enggak di rumah" ucap Gilang sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi
"enggak ada apa-apa mas" ucap Dendy datar
__ADS_1
"kalau ada masalah dibicarakan Den jangan diam saja" ucap Gilang masih memperhatikan adik sepupunya itu
"meski aku melihat Dina bersikap tenang, tapi matanya enggak bisa bohong, dia sedih Den" Gilang menunggu respon Dendy tapi Dendy diam tidak bergeming
"terserah kamu, tapi aku kasihan sama Dina, dengan masa lalunya yang buruk dia berusaha untuk bangkit dan menerima kamu, kalau dia mau dia bisa saja menolak kamu waktu itu dan lebih memilih Toni yang sampai sekarang masih berusaha mendapatkan cintanya lagi" terang Gilang kemudian beranjak dari duduknya
"Dina sekarang dimana?" akhirnya Dendy membuka suaranya
"tadi dia bilang ke aku mau ke studio, dia ada les nanti jam satu" ucap Gilang masih berharap Dendy menceritakan apa yang sedang terjadi
"studionya dimana mas?" tanya Dendy
"di dekat ruang guru dekat pintu gerbang belakang" Gilang berlalu meninggalkan Dendy yang masih diam.
Dendy masih ingat betul melihat Dina berboncengan dengan Toni mantan pacarnya. Dia merasa kecewa dan cemburu, rasa sesak itu tiba-tiba kembali. Seminggu terakhir dia memang menghindar dari Dina tidak menelpon atau menemuinya. Tapi semakin dia menghindar semakin sesak pula dadanya.
Tiba-tiba dia bangkit dan mengambil jaket serta kunci motornya berjalan keluar rumah dan mengendarai motornya ke sekolah Dina. Pikirannya terus berkecamuk mengingat apa yang dia lihat bertolak belakang dengan apa yang diucapkan oleh Dina
Dendy tiba di pintu gerbang belakang sekolah Dina, kebetulan sudah sepi tinggal beberapa motor yang terparkir di sana. Dia memarkirkan motornya tidak jauh dari pintu gerbang. Dia berjalan mencari ruangan yang dimaksud Gilang.
Sayup-sayup terdengar suara gelak tawa beberapa cowok dan cewek. Dia sangat mengenal suara cewek itu, dia memberanikan diri untuk masuk ke ruangan yang disebut studio radio. Semua yang berada di ruangan itu menengok ke arah pintu termasuk Dina.
Dina berjalan menghampiri Dendy yang berdiri mematung di depan pintu dengan senyum mengembang.
"kamu kok ke sini, tahu dari mana aku di sini? Ah...pasti dari Gilang ya" ucap Dina dengan senyum mengembang
Meskipun masih belum yakin dengan perasaannya sendiri tapi ada rasa rindu ketika dia tidak bertemu dengan Dendy dan menjadi sangat bahagia ketika melihat Dendy mendatanginya.
"aku enggak boleh ke sini?" tanya Dendy datar tidak seperti biasanya
"eh...bukan begitu maksudku aku senang kamu ke sini" Dina masih ceria
"kamu sudah makan?" tanya Dendy datar
"belum, aku menunggu kamu" jawab Dina lirih sambil menunduk
"jadi dari tadi kamu belum makan?" ucap Dendy lebih lembut tidak sedatar tadi. Dina hanya menggelengkan kepalanya
"kamu mau makan apa? Ayo aku temani" Dendy meraih pergelangan tangan Dina dan menggandengnya keluar studio
__ADS_1
"apa saja terserah kamu Den, aku ambil helm dulu sebentar" ucap Dina meninggalkan Dendy yang masih berdiri di depan studio
Dendy melihat Dina yang begitu bahagia saat bertemu dengannya seketika merasa bersalah sudah mengabaikan Dina seminggu terakhir. Tidak menunggu lama Dina sudah terlihat menaiki motornya ke arah studio.
"ayo Den" ucap Dina sumringah
"kita mau kemana Din?"
"terserah mau kemana, mumpung masih ada waktu sejam lebih"
"makan nasi soto kamu mau?"
Dina menganggukkan kepalanya mengiyakan tawaran Dendy.
Mereka berdua berjalan ke arah motor Dendy terparkir. Mereka tidak menyadari sejak tadi ada tiga pasang mata yang memperhatikan mereka, salah satu diantara mereka merasa cemburu dan marah.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka selama perjalanan. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Mereka pun tiba di warung nasi soto yang Dendy maksud. Letaknya tidak jauh dari sekolah Dendy. Mereka berdua masuk ke warung dan memilih duduk di teras warung. Dendy memesankan nasi soto dan es jeruk untuk Dina. Mereka berdua masih diam tidak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka.
Dina merasa bukan dia yang harus memulai pembicaraan karena dia tidak tahu apa salahnya sampai Dendy mengabaikannya beberapa hari terakhir. Sedangkan Dendy masih merasa kecewa jika ingat Dina yang berboncengan dengan mantannya. Dia merasa dibohongi oleh Dina. Kenapa Dina tidak bilang kalau Ani juga mengajak Toni waktu itu.
.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
Dukung terus karya ini ya...
__ADS_1
Please like, komen dan vote...
Terima kasih sekebon bestie