
Cewek yang duduk di depan mereka merasa kesal, ia mengepalkan kedua tangannya. Ia geram bisa-bisanya Dendy mengabaikannya, ia yang lebih dulu mengenal Dendy tapi ia juga kalah dengan cewek yang baru dikenal oleh Dendy.
Cewek itu menatap Dina dengan tatapan tidak sukanya, sedangkan Dina hanya menatapnya datar. Dina merasa tidak mengenal cewek itu, dan merasa tidak suka melihat tatapan cewek yang duduk di depannya.
"memangnya di sini ada apa saja sayang?" tanya Dina tersenyum menatap Dendy
"aku belum melihat semuanya, tapi sepertinya bakso atau mie ayam ada" ucap Dendy mengedarkan pandangannya ke sekeliling
"terserah kamu apa saja aku makan, aku lapar" ucap Dina
"baik tunggu sebentar..." Dendy beranjak dari tempat duduknya dan berkeliling melihat satu persatu menu yang dijual di kantin tersebut.
Setelah kepergian Dendy, Dina menatap sinis kepada cewek yang ada di depannya. Sebenarnya Dina penasaran apa yang sebenarnya terjadi di antara Dendy dan cewek itu. Tapi melihat Dendy yang tenang dan tidak terlihat gugup ia sedikit lega, karena Dendy tidak macam-macam di belakangnya.
"jangan kamu kira Dendy akan setia padamu" ucap cewek itu tersenyum sinis
"memangnya ada apa?" tanya Dina menegakkan duduknya
"ada masalah apapun Dendy akan selalu kembali kepadaku" ucap cewek itu tersenyum jumawa
Dina hanya terkekeh, mendengar ucapan cewek yang ada di depannya.
"memangnya siapa kamu? " Dina tersenyum meremehkan
"oh iya kita belum berkenalan, aku Nia mantan pacaranya Dendy" ucap cewek itu tersenyum bangga sambil mengulurkan tangannya.
"oh...mantan pacar yang cuma jadi pelarian?" Dina terkekeh
"sampai sekarang dia masih belum bisa melupakan aku, jadi aku bukan pelarian" ucap cewek itu dengan nada sedikit meninggi
"oh...sabar...tenang...tenang...tidak perlu berbicara ngotot seperti itu " Dina terkekeh
"asal kamu tahu, Dendy yang mengejar-ngejar aku, dia yang selalu berusaha minta maaf kepadaku setiap kali dia bersalah, bahkan dia rela bolos sekolah hanya demi aku, meskipun aku tidak memintanya"
"dia rela melakukan apapun agar aku tidak memutuskannya, itu yang kamu bilang dia belum bisa melupakan kamu?" ujar Dina sinis
Cewek itu terdiam, dia sama sekali belum pernah diperlakukan oleh Dendy seperti itu. Dia yang selalu berusaha meyakinkan Dendy agar Dendy tidak meninggalkannya. Tapi betapa terkejutnya dia, Dendy bisa berubah seperti itu dengan Dina.
__ADS_1
"apakah kamu juga sudah mengenal keluarganya? Aku yakin kamu belum pernah dikenalkan ke keluarganya" ucap Dina memandang sebelah mata ke Nia
Nia yang sudah tidak bisa berbicara apa-apa hanya bisa diam dan menahan malu. Maksud hati ia ingin membuat Dina meninggalkan Dendy tapi malah ia yang yang dipermalukan oleh Dina
"sayang...aku beli bakso sama mie ayam..." Dendy sudah berada tepat di belakang Dina
Dina 'pun menoleh ke belakang dan ia melihat Dendy berdiri memegang nampan yang berisikan semangkuk bakso dan semangkuk mie ayam dan dua teh botol.
Dendy meletakkan nampan di meja yang ditempati Dina.
"kamu mau makan yang mana? Kemarin waktu di rumah sakit kamu ingin makan mie bukan?" ucap Dendy tidak menghiraukan keberadaan Nia. Ia menganggap Nia tidak ada di sana.
"aku ingin makan dua-duanya" ucap Dina dengan nada manja
"baiklah...aku pesan lagi ya.." Dendy meninggalkan Dina
"kamu lihat... Dendy begitu perhatian padaku, bahkan kamu diabaikan, masih mau bilang dia belum melupakanmu?" ucap Dina sinis
Nia sudah benar-benar kehilangan mukanya di depan Dina. Ia pun dengan kesal bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Dina. Dina bernafas lega, tidak perlu usaha yang berat ia sudah bisa menyingkirkan orang yang ingin merusak hubungannya dengan Dendy.
Tak berapa lama Dendy sudah kembali lagi membawa nampan yang berisi semangkuk mie ayam. Kemudian mereka berdua makan sambil bercanda. Setelah menghabiskan makanan mereka Dendy mengantarkan Dina pulang. Karena esok hari Dina masih akan ada tes lagi.
.
.
Sesampainya di depan ruangan tempat Dina tes, Dendy menunggu Dina sejenak hingga Dina masuk ke dalam ruang tes.
"aku tunggu di kantin seperti kemarin ya" ucap Dendy
"pasti mau janjian lagi" Dina mencebik
"dengar sayang...aku hanya menunggu kamu, aku tidak tahu kemarin Nia tiba-tiba datang menghampiriku" ucap Dendy meyakinkan Dina
"aku masuk dulu" ucap Dina datar
Dendy mengusap wajahnya kasar, ia merasa Dina marah lagi dengannya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana, Dina seolah-olah mencurigainya sedang berselingkuh. Dengan langkah gontai ia berjalan ke kantin, ia hanya bisa berdoa semoga hari ini dia tidak bertemu dengan Nia lagi.
__ADS_1
Dua jam berlalu Dina sudah selesai mengerjakan tesnya, ia keluar ruangan dan bergegas pergi ke kantin. Belum sampai ia di kantin, dari kejauhan ia melihat Dendy sedang berdebat dengan cewek yang mengganggunya kemarin.
Dina buru-buru berjalan mendekati Dendy, sayup-sayup ia mendengar Nia mencoba untuk memfitnahnya tapi Dendy tidak percaya. Dina berdiri tepat di belakang Nia dengan tatapan datar. Dendy terlihat biasa saja karena ia memang tidak mengingkari ucapannya kepada Dina tadi.
"tidak usah bicara yang tidak-tidak, seolah-olah kamu mengenal Dina" ucap Dendy datar kepada Nia
"tapi aku mendengarnya dari teman-temanku Den..." ucap Nia dengan nada agak tinggi
"lebih baik kamu bertanya kepada orangnya langsung" Dendy tersenyum sinis kemudian ia menatap Dina
Nia memperhatikan Dendy dan menyadari arah tatapan Dendy bukan tertuju kepadanya. Nia menengok ke arah belakang dan betapa terkejutnya orang yang sudah ia jelek-jelekkan berada di belakangnya. Dina hanya menatap Nia datar, ia tidak suka keributan.
Dina menanggapi semua orang yang menjelek-jelekkannya dengan caranya sendiri, tanpa membuat keributan, tanpa mengeluarkan tenaga yang berlebih.
"untuk apa kamu menjelek-jelekkan aku? Aku tidak mengenalmu, dan aku tidak tahu apa masalahmu sehingga kamu sepertinya sangat membenci aku" ucap Dina datar dan duduk di samping Dendy
Sedangkan Nia hanya diam, tak bisa berkata-kata, setelah tadi Dendy yang menolaknya sekarang Dina berbicara meskipun dengan kata-kata yang sopan tapi benar-benar menusuk perasaannya.
Tanpa berbicara sepatah katapun Nia pergi meninggalkan Dendy dan Dina dengan perasaan marah dan malu. Ia bertekad suatu saat akan membalas Dina maupun Dendy.
"bukan aku yang memulainya Din... Tapi dia yang tiba-tiba mendatangiku" ucap Dendy
"begitukah?" tanya Dina mengerutkan dahinya
"dia juga tes di sini, di gedung sebelah" terang Dendy
Dina tidak menanggapi ucapan Dendy, ia berdiri meninggalkan Dendy, berkeliling mencari apa yang enak untuk ia makan, karena ia sudah sangat lapar, apalagi ia habis mengerjakan soal-soal tes dan masih harus menahan emosi menghadapi si ulat bulu Nia.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
__ADS_1
Yuk bestie...tolong like komen dan votenya ya...terima kasih sekebon bestie