
Mereka berdua mengendarai motor mereka masing-masing, beriringan di jalan. Jalanan belum terlalu padat karena belum jam makan siang.
Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di rumah Dendy. Dendy masuk ke rumah terlebih dahulu dan diikuti oleh Dina.
"ma...mama...ini yang mama tanyakan tadi pagi sudah datang" teriakan Dendy menggema di seluruh sudut rumah.
"iya...iya...mama tidak tuli, kenapa masuk rumah teriak-teriak seperti di hutan?!" mama Tari menggerutu di dapur.
"mama ada di dapur kamu ke sana dulu, aku mau ganti baju" ucap Dendy mencium bibir Dina sekilas kemudian berjalan naik ke kamarnya
"selalu saja mencuri ciuman" gerutu Dina sambil berjalan ke dapur
"siang tante...." ucap Dina sopan
"eh...Dina...ayo sini...sini..." ucap mama Tari ramah
"tante sedang masak apa?" tanya Dina berjalan mendekat tante Tari
"oh...ini masak kesukaannya Dendy, sop ayam tapi tidak pakai sayur" ucap mamanya Dendy sambil mengaduk-aduk panci
"Apa yang bisa Dina bantu tante?" tanya Dina
"kamu buat sambel bawang saja, tadi bahan-bahannya sudah tante siapkan kamu tinggal uleg" jawab mamanya Dendy
Dina mengambil cobek yang sudah ada bahan-bahan untuk membuat sambel bawang. Dina menguleg sambel dengan penuh tenaga. Tak lama akhirnya Dina selesai membuat sambel yang kata mamanya Dendy itu adalah kesukaan Dendy.
"kalau sudah selesai kamu bawa ke meja makan ya Din...ini sopnya juga sudah matang" ucap mama Tari sambil mematikan kompor
"baik tante..." ucap Dina
Dina membawa semua hasil masakan mamanya Dendy ke meja makan. Ia juga menyiapkan piring dan sendok. Dina merasa senang bisa membantu mamanya Dendy. Ia tidak merasa terbebani.
Dia benar-benar diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Dendy terutama mamanya Dendy. Sungguh membuat Dina benar-benar jatuh hati dengan keluarga Dendy.
Inilah salah satu hal mengapa Dina masih bertahan dengan Dendy. Karena mamanya Dendy benar-benar bisa menjadi ibu kedua baginya. Tidak seperti dengan pacar-pacar sebelumnya. Ia tidak pernah dikenalkan dengan keluarga mereka.
Dan misal tidak sengaja bertemu mereka bersikap acuh. Tidak bersikap ramah terhadap Dina, meskipun Dina sudah berusaha sebaik mungkin dan seramah mungkin.
Dengan Dendy ia begitu diperlakukan istimewa terlepas dari masalah-masalah yang pernah mereka lalui. Bahkan mamanya Dendy pernah mengajak Dina untuk berbelanja titipan dari salah satu kerabat mama Dendy. Sebegitu baiknya mama Tari menganggap Dina seperti anak sendiri.
"Dendy....!! Ayo makan...!!" teriak mama Tari yang tidak tahu Dendy ada di mana.
"iya ma....! Tidak usah teriak-teriak ini bukan di hutan" ucap Dendy berjalan ke meja makan
__ADS_1
"anak ini..!" gerutu mama Tari
"ayo Din...makan dulu..." ucap mama Tari mengambil piring dan memberikannya ke Dina
"iya...tante tidak makan?" tanya Dina
"iya tante makan sayur saja tidak makan nasi" ucap mamanya Dendy berjalan ke dapur
"mama sedang diet..." ucap Dendy sambil menyodorkan piring ke Dina "tolong ambilkan...." Dendy nyengir kuda
Dina mengambilkan makanan untuk Dendy, dan menaruhnya di hadapan Dendy. "Apa kamu selalu manja seperti ini?" gerutu Dina
"mumpung ada kamu" Dendy terkekeh
Mamanya Dendy berjalan ke meja makan dengan membawa sepiring sayur-sayuran yang direbus kemudian ia duduk di depan Dina.
"tante makan sayur saja? Tidak pakai lauk?" tanya Dina yang merasa mamanya Dendy agak ekstrim dietnya
"pakai nanti ambil ayam yang ada di sop itu" ucap mamanya Dendy mengambil satu potong dada ayam dan sambel bawang "malah diam, ayo kamu juga makan!" ucap mamanya Dendy
"iya tante" Dina kemudian mengambil nasi dan sop serta sambalnya tadi
"sambalnya jangan banyak-banyak nanti kamu sakit lagi" ucap Dendy sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya
"ayo tambah lagi makannya, sop ayam ini paling enak belum ada yang mengalahkan sop ayam ala mama ini..." ucap Dendy sambil menyendokkan sop lagi ke piring Dina
"sudah...sudah....cukup...aku sudah kenyang Den..." ucap Dina merasa tidak enak, dari tadi mamanya Dendy memperhatikan mereka berdua
"mama sudah selesai makannya, kalian lanjutkan..." ucap mama Tari sambil berjalan ke arah dapur
Setelah mamanya pergi, Dendy mulai usil, dia menyuapi Dina makan, padahal Dina tidak memintanya.
"aduh Den...sudah kamu makan saja sendiri, malu ada tante" ucap Dina sambil mendorong tangan Dendy
"mama tidak melihat...ayolah Din...buka mulutmu" ucap Dendy memohon
"sudah aku sudah selesai" Dina mengangkat piringnya dan berjalan ke dapur.
Di dapur mamanya sedang mencuci piring dan peralatan memasak tadi.
"lhoh Din...sudah selesai makannya?"
"sudah tante...biar Dina saja yang mencuci tante..." Dina bergegas menghampiri mamanya Dendy yang sedang mencuci piring
__ADS_1
"tidak usah Din...ini sudah hampir selesai" ucap mamanya Dendy
Dina meletakkan piringnya di bak tempat cuci piring dan berdiri di dekat mamanya Dendy
"kapan kamu masuk kuliah Din?" tanya mamanya Dendy sambil merapikan piring-piring yang telah ia cuci
"akhir bulan depan tante..." jawab Dina sambil membantu mamanya Dendy merapikan alat-alat dapur
"yah...tante pasti akan kesepian, tidak ada teman memasak lagi" ucap mamanya Dendy dengan nada sedih "di kota J tinggal dimana? Kos atau tempat saudara Din?"
"rencana kos tante, biar dekat dengan kampus" jawab Dina sambil mencuci tangannya
"sudah dapat tempat kos?"
"belum tante, kemarin katanya mau dicarikan kakak sepupu Dina" ucap Dina sambil mengekori mamanya Dendy yang berjalan keluar dari dapur
"sebenarnya tante punya saudara yang punya kos-kosan tapi rumahnya agak jauh dari kampusmu" ucap mama Tari mendudukkan dirinya di kursi di ruang keluarga
"iya kah tante...di daerah mana?" tanya Dina juga ikut duduk tak jauh dari mamanya Dend
"daerah kampus P" jawab mamanya Dendy
"ya lumayan jauh tante...inginnya untuk sementara mencari kos dekat-dekat kampus dulu, nanti mungkin kalau sudah tahu jalanan di kota J pindah yang agak jauh" terang Dina
"Dendy kemana? Dari tadi tidak terdengar suaranya?" tanya mama Dendy
"kurang tahu tante, terakhir tadi masih makan, tapi waktu kembali ke sini sudah tidak ada di meja makan" Dina mengedarkan pandangan ke sekeliling
Dina dan mamanya Dendy melanjutkan obrolan mereka tidak mempedulikan Dendy ada dimana. Mamanya Dendy begitu senang Dina datang ke rumahnya.
Dia jadi ada teman memasak, mengobrol, mamanya Dendy suka mengobrol dengan Dina karena Dina itu bisa mengimbangi bahan pembicaraannya.
Menurut mamanya Dendy, meskipun Dina masih remaja tapi pengetahuan Dina tergolong luas, dan pandai menyikapi masalah. Mamanya Dendy hanya bisa berdoa agar hubungan Dendy dan Dina bisa bertahan lama.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Ditunggu kiriman kopi dan bunganya ya bestie
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya...terima kasih sekebon bestie