
"cepat atau lambat dia akan tahu kamu kuliah di sini"
"biarlah ia mengetahuinya sendiri aku tak bisa menemuinya apalagi menatap matanya"
Minggu kedua kuliah di awal semester ganjil, Dina kuliah pagi. Atas permintaan Dina, Bimo tak lagi menjadi pengawalnya dengan satu syarat Bimo akan selalu menjaganya dari jauh.
Dina terpaksa menyetujui syarat dari Bimo, karena ia ingin bebas, tak mau tergantung dengan Bimo terus menerus. Dan membuat orang-orang yang ingin dekat dengan Dina menjadi enggan.
Kuliah berakhir pukul delapan lebih tiga puluh menit. Dina dan teman-temannya memutuskan untuk ke kos Ratna sekedar main karena mereka jarang ke kos Ratna karena letaknya yang jauh.
Mereka berempat berjalan kaki menyusuri trotoar depan kampus mereka menuju kos Ratna. Saat mereka asyik bersenda gurau, Dina melihat motor yang sangat ia kenal melintas melewati mereka.
"itu kan...motornya Dendy" Dina histeris
"mana...mana Din?" Caca melihat ke arah jalan yang ditunjuk Dina
"mungkin hany mirip Din" ucap Berta
"tak mungkin aku salah, aku hapal betul plat nomor motor itu" ucap Dina penuh keyakinan "tapi buat apa dia di sini, dan sepertinya ia berboncengan dengan Gilang"
"tenang Din...tenang....aku tahu kamu sangat merindukannya tapi apa benar itu Dendy?" Ratna mencoba membuat Dina berpikir jernih
"aku enggak mungkin salah Na...itu motornya, tapi aku sendiri enggak yakin itu benar-benar dia, tapi yang di belakang yang bonceng itu aku kenal betul postur tubuh itu" ucap Dina berapi-api
"coba kamu telepon, barangkali nomornya sekarang aktif" ucap Ratna yang berpikiran lebih tenang tidak seperti Berta dan Caca
Dina mengambil ponselnya dari tas, kemudian ia menelpon nomor Dendy. Nomor itu aktif tapi Dendy tak menjawab telepon dari Dina. Dina kembali menelpon nomor itu, tapi sepertinya dimatikan karena tak lagi aktif.
Dina semakin penasaran, wajah yang tadinya murung seperti memiliki harapan kembali. Dalam hatinya Dina bertanya-tanya sedang apa Dendy di kota J, apakah itu tadi benar-benar dia. Apakah Dendy tahu jika Dina berjalan di jalan yang sama dengan dia.
.
"Bagaimana, hari ini sudah bertemu Dina?" ucap Gilang duduk di atas motor milik Dendy
"seperti kemarin-kemarin...hanya bisa melihatnya dari jauh" ucap Dendy dengan nada sendu menghampiri Krisna yang menjemputnya kuliah
"kenapa tidak kamu hampiri dia Den...?!" ucap Gilang sambil memberikan helm kepada Dendy
"kamu kira gampang menghadapi Dina, pasti dia akan marah-marah" Dendy kesal
__ADS_1
"Dina yang aku kenal tidak seperti itu Den..." Gilang tak terima
"sudah ayo kembali ke kos!" ucap Dendy mengambil kemudi motornya
"Den, bukannya itu Dina?" Gilang menunjuk ke arah Dina yang sedang mengobrol dengan seorang cowok di dekat gerbang kampusnya bersama dengan ketiga temannya
Dendy menatap ke arah yang ditunjuk oleh Krisna, seketika dadanya terasa sesak, ia merasakan rindu dan marah bercampur menjadi satu. Kemudian Dina berjalan bersama teman-temannya menyusuri trotoar tapi yang Dendy heran itu bukan jalan ke kosnya melainkan berlawanan arah.
Dendy melajukan motornya searah dengan Dina, ia melewati Dina begitu saja. "Dina sepertinya menyadari kalau kita yang sudah melewatinya" ucap Krisna setengah berteriak
"aku tahu!" jawab Dendy singkat
Dendy menyadari, cepat atau lambat Dina pasti akan mengetahui jika ia berkuliah di kampus yang sama dengan dirinya. Apapun resikonya harus ia terima, karena ia sendiri yang memilih kuliah dekat dengan Dina.
Sesampainya di kos Dendy langsung masuk je kamarnya diikuti Gilang yang kebetulan memang sedang mengunjungi adik sepupunya itu, ia takut Dendy frustasi dan akan melampiaskan kekesalannya pada minuman keras.
"Siapa yang menelepon?" Gilang melihat Dendy menatap layar ponselnya dan hanya tetpaku tanpa ingin segera mengangkatnya.
"Dina..."
"angkat saja Den...dia berhak tahu yang sebenarnya"
"biarlah...aku ingin dia membenciku akan lebih mudah baginya melupakan aku" Dendy mematikan ponselnya
.
Dendy akhirnya tahu, jadwal kuliah Dina. Ketika jadwal kuliah mereka bersamaan, Dendy akan memakai motor teman satu kosnya, ia berharap Dina tak mengetahuinya.
Mendengar Dina kembali terpuruk, Bimo kembali mengantar jemput Dina, ia benar-benar tak ingin Dina putus asa. Beberapa minggu sebelumnya, Dina terpuruk dan berulang kali jatuh sakit dan dialah yang selalu ada untuk Dina.
"mas...sudah aku enggak apa-apa...dekat denganmu membuat aku tidak memiliki teman" Dina menghela nafasnya
"kamu bebas berteman dengan siapapun Din, aku tak pernah melarang kamu"
"tapi tetap saja...teman-teman cowok mereka mengiranya aku tak boleh dekat dengan siapapun" ucap Dina lirih
"baiklah...kalau itu maumu, kalau ada apa-apa kamu kabari aku" ucap Bimo kemudian ia keluar dari kos Dina bertepatan dengan Wilson datang bersama seorang cewek.
"loh...kak...tumben ke sini" Dina terkejut, sedangkan Bimo menoleh dan menatap Wilson dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
"hahahaha....kamu terlalu percaya diri, aku ke sini mengantar ini..." ucap Wilson melirik ke arah sampingnya
"pacar baru? Lama enggak kelihatan, datang-datang bawa pacar baru" cibir Dina
"ini mau ke tempat temannya, katanya kos di sini" ucap Wilson "oh...ya ini Lila...anak ekonomi"
"oh...cari kak Tere ya kak....ada di atas" ucap Dina
"kamu sudah kenal?" Wilson bingung
"hahahaha....kakak yang kurang pergaulan, jelas sudah" Dina puas menenertawakan Wilson
"aku ke atas dulu..." ucap Lila
"eh...kamu kenapa, seprtinya lemah, letih, lesu, lunglai, tak bersemangat tak bertenaga dan lagi badanmi jadi kurus begini, patah hati ya...." ledek Wilson
"itu sudah tahu...." Dina mengerucutkan bibirnya
"pacar yang mana yang tadi atau yang anak SMA itu?" selidik Wilson
"kakak ini pura-pura tidak tahu" Dina mengerucutkan bibirnya
Dina menceritakan semuanya pada Wilson, dia butuh pendapat yang netral, selama ini ia hanya bercerita pada teman-teman dekatnya. Wilson dari kecil memang sudah dekat dengan Dina, meskipun tingkahnya kadang menyebalkan bagi Dina, tapi ia sosok kakak yang baik bagi Dina.
"aku akan sering-sering ke sini, dan nanti aku tanya teman-temanku mungkin saja pacarmu itu kuliah di kampus kita" ucap Wilson dengan raut wajah serius
"enggak perlu cari tahu, perasaanku mengatakan dia kuliah di sini kak, tapi aku belum benar-benar yakin" ucap Dina lirih
"tinggalkan saja pacarmu yang enggak tahu diri itu...lebih baik kamu pacaran dengan adik Vanya, yang sudah jelas orang tua kalian sudah saling mengenal"
"dari mana kenal kak Vanya?" Dina mulai curiga
"ehem....itu...anu...anu..." Wilson menggaruk kepalanya yang tidak gatal
.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g