Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 135 Hari kedua


__ADS_3

Masa pengenalan kampus hari kedua telah dilewati dengan baik. Setelah selesai kelompok Dina tidak berkumpul untuk membahas tugas untuk hari ketiga.


Bimo dengan setia mendampingi kelompoknya, lebih tepatnya karena ia ingin dekat denga Dina. Sedangkan Riri yang juga pemdamping kelompok mereka sudah meninggalkan auditorium dan kembali ke sekretariat panitia.


Karena tugas untuk hari ketiga tidak terlalu banyak pukul enam sore Dina dan kawan-kawan sudah selesai berdiskusi. Dina bergegas membereskan barang-barangnya, ia ingin segera pulang ke kos, ia ingin cepat beristirahat.


Seharian kegiatan penuh acara naik turun tangga, keliling dari gedung yang satu ke gedung yg lain. Kakinya Dina sudah terasa pegal, bahkan untuk berjalan pulang ke kosnya pun Dina merasa sudah tak sanggup.


"Din, kamu pulang bareng kita kan?" tanya Caca


"ya pastilah...memangnya sama siapa lagi" jawab Dina sambil berdiri dari duduknya


"dari tadi sepertinya kamu sudah ditunggu?" ucap Berta sambil menatap ke arah Bimo


"ah...hanya perasaan kalian saja, dia kan mendampingi kita berdiskusi" kilah Dina yang tidak mau dianggap terlalu percaya diri.


"tapi benar kok, kak Riri saja sudah kembali ke sekretariat, terus kakak pendamping yang lain asyik bergerombol di depan tangga, cuma kak Bimo saja yang berada tidak jauh dari kita" terang Caca


"sudahlah...ayo...aku sudah lapar" rengek Dina


"ya sudah ayo...kita makan mie ayam depan kampus saja ya..." ucap Berta antusias


"kalau urusan makan saja cepat..." ucap Caca meledek Berta yang badannya paling gemuk di antara mereka bertiga


Mereka bertiga berjalan keluar auditorium dan mengantri lift, karena mereka sudah tidak sanggup kalau harus menuruni tangga. Bimo mengikuti mereka bertiga.


"Din...kak Bimo mengikuti kita" bisik Berta


"hanya perasaanmu saja.." jawab Dina melihat ke arah lift


Lift terbuka dan mereka bertiga masuk ke dalam lift, dan Bimo pun ikut juga masuk ke dalam lift.


Suasana di dalam lift hening, tidak ada satupun yang berbicara, mereka merasa canggung ada kakak tingkat mereka satu lift dengan mereka.


Lift telah sampai di lantai dasar. Dina dan teman-temannya segera keluar dari lift. Bimo masih mengikuti mereka.


"aku pinjam Dina ya..." ucap Bimo menatap Dina


Caca dan Berta beradu pandang bingung harus menjawab apa, kemudian mereka menatap Dina dengan tatapan seolah-olah memohon untuk jangan meninggalkan mereka.


"i..i..ya kak...silakan" Berta memberanikan diri menjawab ucapan Bimo


Tanpa berkata-kata lagi, Bimo menggandeng tangan Dina, kemudian berjalan ke tempat parkir motor.

__ADS_1


"mas...lepaskan!" Dina berusaha melepaskan genggaman tangan Bimo


Bimo menghembuskan nafasnya kasar "maaf, aku belum terbiasa saat berada di dekatmu tidak menggandeng tanganmu" ucap Bimo penuh penyesalan


"mas...aku lelah...aku sedang malas berdebat" ucap Dina dengan tatapan memohon


"aku antar kamu pulang, tapi kita mampir dulu di tempat yang kemarin, kita makan dulu" ucap Bimo


"aku langsung pulang saja mas...aku sungguh sudah tidak ada tenaga kalau harus mampir-mampir lagi" ucap Dina mengiba


"sudah tahu capek begitu, masih mau pulang jalan kaki" omel Bimo


Dina seketika merasa ucapannya menjadi bumerang buat dia. Ia baru ingat tadi ia ingin pulang bersama dengan Berta dan Caca. Dina hanya tertunduk merasa malu.


"ya sudah ayo aku antar" ucap Bimo lembut


"iya mas..." ucap Dina kemudian mengikuti Bimo berjalan


Bimo menepati janjinya hanya mengantar Dina kembali ke kos. Setelah sampai di depan kos Dina, Bimo mematikan mesin motornya. Dina turun dari boncengannya.


"terima kasih mas, aku ke dalam dulu" ucap Dina kemudian masuk ke kosnya


Bimo memutar balik motornya, ia melajukan motornya ke kedai tempat ia makan kemarin. Kemudian ia memesan makanana untuk dibungkus.


"cari siapa?!" teriak salah satu penghuni kos Dina


"Dina...!" ucap Bimo


"sebentar...! Dina...ada tamu!" terdengar teriakan dari dalam kos Dina


Bimo merasa geli dengan tingkah penghuni kos Dina. Bertanya tanpa membuka pintu, sungguh lucu, tapi bagus karena mereka bisa menghindari orang-orang yang tidak diinginkan masuk ke kosnya.


Tak lama terdengar, suara anak kunci diputar. Dan terlihat Dina yang sudah segar, rambut masih basah dengan wajah lebih segar. Bimo terkesima melihat Dina yang menurutnya semakin cantik.


"ada apa mas?" tanya Dina membuyarkan lamunan Bimo


"ini aku bawakan makan" ucap Bimo sambil menunjukkan bungkusan yang ia bawa


"kenapa harus repot-repot mas?" tanya Dina


"kamu tadi bilang capek, pasti malas keluar lagi beli makan jadi aku belikan makanan kesuakaanmu" ucap Bimo dengan wajah bahagia


"oh..kan ada tukang jual nasi goreng lewat depan kos sini mas" ucap Dina datar

__ADS_1


"sekalian makan bersama, aku juga sudah lapar" ucap Bimo


"duduk dulu mas, aku ambil minum sama piring dulu" ucap Dina menyuruh Bimo duduk di kursi yang ada di dekat pintu


Dina masuk ke kamarnya, Bimo kaget ternyata kamar Dino berada di belakang tempat ia duduk. Sesaat kemudian Dina sudah keluar dari kamarnya membawa piring dan sendok, kemudian ia kembali mengangambil dua gelas berisi air putih.


"kamarmu depan sendiri Din?" tanya Bimo mengeluarkan makanan dari bungkusnya


"iya..." ucap Dina meletakkan satu piring dan sendok ke depan Bimo


"ini nasi capcay buat kamu" ucap Bimo mengulurkan bungkusan makanan untuk Dina


"terima kasih mas..." ucap Dina mengambil bungkusan yang diberikan kemudian membukanya dan menuangnya ke dalam piring


Bimo bingung mau memulai dari mana ia harus berbicara menjelaskan apa alasannya memutuskan Dina waktu itu. Tapi kalau ia menjelaskan sekarang ia takut Dina akan menjauh lagi darinya.


"kok makannya pelan Din?" tanya Bimo


"nanti kalau cepat dikata kelaparan" Dina mencebik


"ya...habisnya kamu dari dulu kalau makan selalu cepat, sudah seperti mau ketinggalan kereta" Bimo terkekeh


"sudah terbiasa mas... " ucap Dina terkekeh


Bimo tersenyum melihat Dina perlahan mulai bisa tersenyum dengannya.


"kamu kenapa bisa kuliah di teknik industri Din, bukannya kamu ingin masuk kedokteran?" tanya Bimo


"tidak lolos mas...kemarin iseng-iseng daftar di sini, keterima sama papa disuruh kuliah ya sudah...mau tidak mau berangkat, tapi entah tahun depan aku mau mencoba lagi" terang Dina


"jadi hanya untuk pelarian dan mengisi waktu?" tanya Bimo sambil mengunyah makanannya


"mungkin..." Dina terkekeh


Semangat Bimo sedikit menurun mendengar ucapan Dina. Ia harus memanfaatkan waktu yang ada untuk mengambil hatinya Dina lagi sebelum Dina pindah kuliah. Bimo tahu Dina bukan tipe yang bisa didekati dengan terburu-buru. Mendekati Dina harus ekstra sabar, harus membuat Dina nyaman dengan dirinya baru ia bisa mengambil hatinya.


.


.


.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


jangan lupa ritualnya ya bestie, please like, vote dan komennya ya, terima kasih sekebon bestie


__ADS_2