Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 181 Pertengkaran Dina dan Riri


__ADS_3

Hari baru semangat baru, pagi-pagi sekali Dina sudah terbangun karena ada yang mengetuk jendelanya. Dengan mata yang masih berat, Dina membuka gorden dan mencoba melihat siapa yang sudah mengetuk jendelanya.


Ternyata Bimo yang datang dengan penampilan masih sama seperti semalam. Penampilannya tampak kacau, matanya sembab dengan lingkaran hitam di bawah kedua matanya.


Dina membuka pintu kamarnya dan menyuruh Bimo masuk dengaj penampilan baru bangun tidur antara sadar dan tidak sadar.


"mas ini apa tidak tahu ini masih pagi-pagi buta?!" ucap Dina sambil menguap


"maafkan aku Din...aku tidak tahu harus kemana, semalam teman kosku menelponku katanya Riri ada di kosku, aku tidak jadi pulang ke kos" ucap Bimo yang terlihat sangat lelah


"lantas mas semalam tidur dimana?" Dina sudah mulai tersadar


"aku tidur di mobil, di depan" ucap Bimo santai


"hah...?" Dina terkejut "mas ini sudah gila...punya masalah dihadapi bukan ditinggal pergi" Dina memanaskan air dengan pemanas yang ada di kamarnya.


"kamu tidak tahu Riri, dia itu nekat, aku tidak mau dia menginap di kosku, bisa-bisa...." ucapan Bimo menggantung di udara, ragu menceritakannya pada Dina


"kan enak mas...kenapa menolak yang enak-enak" ucap Dina ketus yang tahu kemana arah pembicaraan Bimo.


Dina menyeduh dua gelas teh kemudian mengaduknya "ini...cuma ada teh...mas minum dulu biar badan segar" Dina mendorong segelas teh hangat ke Bimo


"terima kasih Din..." ucap Bimo dengan kedua sudut bibir terangkat keatas


"aku mau kuliah, mas masuk tidak...?" tanya Dina, karena pagi itu dirinya kuliah satu kelas dengan Bimo


"aku tidur di sini ya Din...aku malas kembali ke kos, titip absen ya..." ucap Bimo sambil melepas jaket, jam tangan kemudian menarihnya di sebelah kasur Dina.


Bimo meletakkan dompet serta ponselnya di meja belajar Dina. Dina melirik sekilas, di ponsel Bimo ada puluhan panggilan tak terjawab yang ia tahu pasti dari Riri.

__ADS_1


Dina sebenarnya enggan untuk mandi karena masih terlalu pagi untuk mandi. Dina menoleh ke arah kasurnya dan melihat Bimo sudah terlelap dengan posisi telungkup.


Dina membelai rambut Bimo "kasihan kamu mas... Beberapa bulan terakhir menunjukkan kamu memang sudah berubah, andai aku belum punya pacar mungkin aku mau menerima lamaranmu, tapi semua sudah terlambat, hatiku sudah ada yang memiliki, kalau memang Tuhan mengijinkan mungkin suatu saat kita bisa bersama seperti keinginanmu" gumam Dina


Bimo tersenyum, sebenarnya dirinya sangat mengantuk dan ingin sekali tidur, tapi merasa ada tangan yang membelai rambutnya, ia merasa terusik dan berpura-pura tidur. Bimo ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Dina.


"aku menyayangimu mas..." Dina mengecup puncak kepala Bimo. Dina tak menyadari senyum Bimo, karena wajah Bimo tertutup rambutnya yang sedikit panjang.


Dina masuk ke kamar mandi, ia enggan berangkat ke kampus pagi-pagi, tapi karena ada Bimo di kamarnya ia menjadi malas untuk berlama-lama di kos.


Lima belas menit kemudian Dina keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapi. Dina bersiap-siap pergi ke kampus, Dina mnegambil buku dan tasnya di meja belajarnya, melihat ponsel Bimo yang menyala.


Dina melihat ada panggilan masuk dari Riri, Dina mengabaikannya dan lebih memilih untuk berangkat ke kampus meski waktu masih menunjukkan pukul enam lebih dua puluh lima menit.


Setelah Dina berangkat, Bimo pun bangun dia mengambil ponselnya dan mematikannya karena pasti Riri akan mencarinya terus. Bimo melihat ke meja belajarnya Dina, terlihat kotak perhiasan yang dulu pernah ia berikan untuk Dina. Bimo membukanya dan ternyata kalung yang ia berikan tertata rapi di dalamnya.


Bimo menghela nafasnya "mungkin aku jahat, tapi aku mendoakanmu agar segera putus dari pacarmu itu" gumam Bimo kemudian meletakkan kotak perhiasan itu ke tempat semula. Bimo merebahkan dirinya kemudian ia terlelap dalam tidurnya.


Dina telah selesai kuliah di jam pertama, setelah itu dirinya masih ada kuliah lagi jam sepuluh. Dina berjalan ke arah kantin bersama temannya. Di tengah jalan dia dihhadang oleh Riri bersama temannya.


"Dimana Bimo?!" tanya Riri berkacak pinggang sambil matanya membulat marah


"mana kutahu, kakak lihat sendiri aku tidak bersamanya" ucap Dina tak kalah kesal


"jangan ganggu Bimo lagi, aku dan dia akan segera menikah" ucap Riri dengan gaya angkuhnya


"oh...selamat kalau begitu" ucap Dina santai


Dina berlalu meninggalkan Riri dan temannya, tiba-tiba Riri menarik tangan Dina dari belakang sehingga Dina hampir saja terjatuh.

__ADS_1


"aku belum selesai bicara, seenaknya saja main pergi!" ucap Riri dengan nada marah hingga menjadi pusat perhatian


"apalagi sih kak?!" ucap Dina kesal tapi masih berusaha menahan emosinya


"gara-gara kamu Bimo memutuskan pertunanganku, dan mengabaikan aku, aku belum puas jika belum melihatmu hancur!" Riri berteriak seperti orang kesurupan


Dina sadar dirinya menjadi pusat perhatian di sekitar kantin, tapi sudah kepalang tanggung dirinya dijelek-jelekkan oleh Riri. Kesabaran Dina mulai menipis.


"aku yang merebut mas Bimo kata kakak?! Tidak salah?!" ucap Dina sambil tertawa "kakaklah yang merebut mas Bimo dariku, gara-gara kakak dia meninggalkan aku, jauh sebelum aku kuliah di sini!" Dina mulai membentak Riri


"aku yang lebih dulu pacaran dengannya, aku yang mas Bimo cintai dari dulu sampai sekarang, bukan kakak!" ucap Dina dengan kilatan amarah di matanya karena selama ini ia dituduh macam-macam oleh Riri


"Din...sudah Din...semua melihat ke arah kita" bisik teman Dina


"biarkan semua orang tahu, Na...! Mas Bimolah yang mendekati aku, mengejar-ngejar aku, bukan aku yang mengejarnya merebutnya...!" ucap Dina dengan tatapan sengit ke arah Riri


"dan satu lagi...aku tahu rahasia kakak...jadi jangan coba-coba mengganggu aku! Kalau kakak mau memiliki mas Bimo, pakai cara baik-baik bukan dengan cara kotor seperti ini!" Dina meninggalkan Riri yang tampak menahan marah, malu, dan kesalnya.


"Na...aku tidak jadi ke kantin, aku sudah kenyang, aku mau membolos saja.."ucap Dina


"serius kamu mau bolos, sayang lho Din...ayolah...jangan gara-gara masalah sepele kamu jadi bolos kuliah" bujuk Ratna teman Dina


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk makan di depan kampus karena, di kantin pasti akan mejadi bahan gunjingan oleh mahasiswa lain.


Dina sebenarnya menahan malu, dia tak ingin nama baiknya tercoreng hanya gara-gara masalah cowok. Tapi apa mau dikata, Riri yang memancingnya, padahal selama ini ia selalu berusaha tak terpancing amarahnya.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2