Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 25


__ADS_3

Dendy melajukan motornya dengan kencang tujuannya adalah sekolah Dina. Dendy masih berharap bisa mengantarkan Dina pulang. Dalam perjalanan Dendy harap-harap cemas, takut Dina sudah pulang duluan.


Dan ketakutannya benar-benar terjadi, saat melewati rumah yang berjarak tidak jauh dari sekolah, Dendy melihat Dina naik ke boncengan seorang pria paruh baya. Dendy tidak tahu itu siapa. Dia hanya menebak-nebak kalau itu papanya Dina.


Pupus sudah harapan Dendy untuk bisa mengantar Dina pulang. Semua rencana yang sudah disusun hancur berantakan. Dendy memutuskan putar balik pulang ke rumahnya. Dengan semangat yang sudah hilang entah kemana Dendy melajukan motornya pelan tidak seperti saat berangkat tadi.


Sesampainya di rumah Dendy hanya diam, dengan langkah gontainya dia masuk ke dalam rumah. Tanpa menyapa mama dan kakak sepupunya yang sedang berada di ruang tamu Dendy langsung naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Mamanya heran dengan anak sulungnya pulang-pulang hanya diam dan dengan raut muka yang sulit diartikan.


"Lang...itu Dendy kenapa?" tanya tante Tari mamanya Dendy


"capek paling Tan..." jawab Gilang menutup-nutupi apa yang sudah terjadi pada Dendy


"Tante tahu anak tante Gilang, kalau capek wajahnya tidak dilipat seperti itu" ucap Tante Tari


Gilang hanya bisa menelan ludahnya kasar. Dia tidak ingin dianggap jadi pengadu tentang apa yang sedang dialami Dendy. Gilang tahu Tante Tari orang yang sabar dan tidak suka marah-marah hanya karena masalah sepele.


"Coba cerita ke tante deh Lang...Dendy kenapa? perasaan kemarin sore waktu pamit sama tante mau menyusul kamu semangat sekali, malah seperti orang yang mau berkencan dengan pacarnya" Tante Tari membujuk Gilang agar Gilang mau menceritakan apa yang terjadi sama Dendy


Lagi-lagi Gilang hanya terdiam menelan ludahnya kasar. Ingin bercerita tetapi itu bukan urusannya. Di satu sisi Gilang tidak ingin menjadi pengadu di sisi lain Gilang merasa tidak enak dengan Tante Tari.


"hmmm....anu...tante...." Gilang menggaruk kepalanya yang tidak gatal bingung harus bercerita apa


"kenapa Lang? Dendy patah hati?" Tebak tante Tari


"eh...tidak tan... bukan patah hati"


Sebagai seorang ibu Tante Tari memiliki perasaan yang kuat apa yang sedang terjadi kepada anaknya. Tante Tari hanya kawatir akan berdampak pada sekolah Dendy. Dendy kalau sedang menghadapi suatu masalah pasti sekolahnya yang akan berantakan. Nilai-nilai sekolahnya bakal anjlok, karena dia tidak bisa fokus belajar.


"Kalau diliahat dari wajahnya Dendy seperti sedang patah hati Lang" Ucap tante Tari menatap Gilang dengan sorot mata teduh ciri khas seorang ibu yang sabar dan bijaksana


"bagaimana ya Tan susah untuk dijelaskan....takut Dendy marah kalau aku cerita-cerita ke Tante" ucap Gilang yang hanya bisa menundukkan kepalanya tidak berani menatap Tante Tari

__ADS_1


"kamu cerita saja Tante tidak akan bilang ke Dendy kalau kamu cerita ke tante" bujuk Tante Tari


"Dendy itu bukan patah hati tante, baru saja mau mendekati cewek" ucap Gilang


Gilang mulai menceritakan dari awal pertemuan Dendy dengan Dina. Kebersamaan mereka waktu camping antar sekolah dan tentang kejadian semalam dan tadi pagi waktu di puncak. Semua yang Gilang tahu sudah duceritakan kepada Tante Tari.


Tante Tari mendengarkan dengan serius apa yang diceritakan oleh Gilang. Tante Tari bisa menyimpulkan masalah ada pada diri Dendy yang tidak terlalu percaya diri mendekati seorang cewek.


"Tapi aku tidak tahu kenapa tiba-tiba Dendy seperti itu Tan, tadi waktu menurunkan aku di lampu merah depan terlihat begitu semangat" terang Gilang


"Hahhh...." Tante Tari menghela nafasnya


"Gita cinta masa SMA " Tante Tari terkekeh


"Biarkan saja Lang, nanti juga baik sendiri, anak itu ckckckck...."


 


Malam harinya, semua telah berkumpul di meja makan. Sudah menjadi kebiasaan setiap minggu malam mereka menyempatkan untuk makan malam bersama. Di meja makan mereka tak hanya makan tapi juga saling bertukar cerita seputar hal-hal yang ringan dan lucu. Dendy yang duduk di sebelah Gilang dari tadi hanya diam tak bercerita hanya mengaduk-aduk makannya. Padahal biasanya Dendy lah yang paling bersemangat meledek semua anggota keluarganya.


"Masakan tantemu apa tidak terasa enak Lang? " tanya Pak Doni ayah Dendy


"ha....apa Om? enak seperti biasa masakan Tante Tari selalu enak" jawab Gilang


"Kalau enak kenapa tidak dimakan?" Pak Doni sengaja menyindir Dendy, yang disindir tetap diam saja


"siapa yang tidak makan om, ini sudah tambah dua kali" jawab Gilang sambil menunjuk ke arah piring yang ada di depannya yang sudah diisi nasi lagi.


Pak Doni memberi isyarat pada Gilang dengan manaik turunkan alisnya sambil memajukan dagunya ke arah Dendy. Gilang yang sudah tahu maksud dari omnya menggerakkan kakinya menyenggol kaki Dendy.


"Ada apa....mas?" protes Dendy

__ADS_1


Yang diprotes hanya memberi isyarat kepada Dendy untuk menatap papanya Dendy.


"hhh.. ada apa pa?" ucap Dendy menatap papanya yang duduk di seberangnya Dendy bingung karena dari tadi dia tenggelam dalam lamunannya dan tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan papanya


"Kalau melamun jangan di meja makan" ucap Pak Doni


"Si..Siapa yang melamun, dari tadi aku sedang makan kok " kilah Dendy sambil mengangkat piringnya yang masih penuh dengan makanan


"makan? itu Gilang saja sudah piring yang kedua, kamu satu saja baru satu suap"


Dendy reflek menengok melihat ke arah piring Gilang.


"ini sudah piring kedua Den, itu...nasi di rice cooker tinggal sedikit"ucap Gilang sambil terkekeh


Dendy pun cepat-cepat menghabiskan makanannya agar bisa segera kembali ke kamarnya. Menghindari pertanyaan-pertanyaan dari papa mamanya. Bukannya Dendy tidak menghormati orang tuanya, hanya saja Dendy tidak inin bercerita tentang masalahnya.


Setelah selesai makan malam Dendy cepat-cepat naik ke lantai dua lagi. Sebelum naik ke kamarnya dia masih sempat menyuruh adiknya untuk membantu mamanya untuk mencuci piring. Awalnya adiknya protes, tapi karena Dendy beralasan mau belajar untuk ulangan besok akhirnya adiknya menyetujuinya dengan satu syarat, selama satu minggu Dendy harus mau mengantar jemput dia les.


Adiknya bosan setiap hari kalau les dia harus naik becak. Sekali-sekali adiknya Dendy ingin diantar kakaknya yang selalu sok sibuk tiap dimintai tolong untuk mengantarnya les.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


**Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2