Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 64


__ADS_3

Dua mangkok nasi soto dan dua es jeruk telah terhidang. Tapi mereka masih saja diam tak ada yang memulai pembicaraan. Karena sudah merasa sangat lapar Dina 'pun mulai memakan nasi sotonya.


Dina menarik mangkok sambal dan menyendokkan satu sendok penuh sambal. Ketika hendak menuangkannya dalam mangkok nasi sotonya Dendy menahan tangannya.


"ck.... Kebanyakan" Dendy meraih sendok sambal yang dipegang Dina dan mengembalikannya ke mangkok sambal "kamu mau masuk rumah sakit he..." ucap Dendy agak ketus


Dina tersentak kaget, Dendy yang selalu berkata lembut kepadanya tiba-tiba ketus.


"memang kenapa?" Dina meraih lagi sendok sambal dan hendak menuangkannya di mangkoknya tapi Dendy meraih pergelangan tangannya dan menahannya.


"aku enggak tahu salahku apa ke kamu Den, hampir seminggu kamu mengabaikan aku, bahkan dari tadi diam saja padahal aku sudah berusaha untuk berbicara sama kamu" Dina meletakkan kembali sendok sambalnya.


Dina yang sejak Dendy datang menemuinya sudah melihat perubahan wajahnya yang tidak seperti biasa ketika mereka bertemu akhirnya hilang kesabarannya.


"sini aku ambilkan sambalnya, pakai jeruk nipis lebih enak" Dendy menambahkan seujung sendok sambal dan memeras jeruk nipis ke dalam mangkok soto milik Dina


"kamu itu kenapa Den? Pertanyaanku belum kamu jawab" ucap Dina kesal


"kamu makan dulu, katanya tadi belum makan" ucap Dendy datar


Mereka berdua makan dalam diam, tidak ada yang berbicara. Mereka masih sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Dendy merasa Dina salah tapi dia tidak mau mengakuinya sedangkan Dina tidak tahu dia salah apa kenapa Dendy mengabaikannya.


Mereka berdua sudah selesai makan, Dendy membayar makanan mereka.


"sekarang jawab pertanyaanku Den" ucap Dina kesal


"ayo kita bicara di tempat lain" Dendy meraih tangan Dina dan menggandengnya berjalan ke arah motornya yang terparkir di pinggir jalan.


Dendy melajukan motornya pelan, tujuannya adalah sebuah danau buatan yang tidak terlalu luas tapi cocok untuk tempat bersantai. Mereka telah tiba di danau yang Dendy tuju. Dendy menggandeng tangan Dina dan mengajaknya duduk di pinggir danau.


"Din... Sebenarnya kamu menganggap aku apa sih?" tanya Dendy dengan tatapan menerawang jauh


"maksud kamu?" Dina mengernyit heran menatap Dendy yang tidak menatapnya


"ya hubungan kita ini"


"kamu itu lupa apa amnesia sih...Den?" ucap Dina mulai kesal


"aku enggak lupa Din, mungkin kamu yang lupa" ucap Dendy masih belum menatap Dina


"aku enggak pernah lupa Den" ucap Dina menerawang jauh "aku rasa kamu yang lupa, hampir seminggu mengabaikan aku"


"sekarang aku tanya, perasaan kamu ke aku bagaimana Din?" Dendy memutar duduknya menghadap Dina


"aku enggak tahu perasaan apa ini, setiap kali aku dekat dengan kamu aku merasa nyaman dan bahagia, tapi ketika jauh dari kamu aku merasa seperti ada yang kurang, aku enggak tahu apakah aku sudah benar-benar jatuh cinta ke kamu, tapi itu yang aku rasakan" terang Dina menoleh ke arah Dendy yang sedang menatapnya


"terus kenapa kamu membohongi aku Din?"

__ADS_1


"bohong?" Dina mengerutkan dahinya


"katanya kamu pergi dengan temanmu, tapi yang aku lihat kamu pergi dengan mantan pacarmu" ucap Dendy dengan sorot mata tajam


Dina tersenyum, ternyata masalah itu yang membuat Dendy mengabaikannya.


"kamu cemburu?" Dina tersenyum


"kamu itu pacarku Din, apa tidak boleh aku cemburu?" Dendy mencebik


"iya...iya... " Dina menahan tawanya


"Den...aku masih belum yakin benar tapi aku mulai sayang kamu" ucap Dina dengan mata berbinar


"apa Din? Apa aku tidak salah dengar?" Dendy menggoyang-goyangkan bahu Dina


"enggak Den.." ucap Dina dengan senyum manisnya


"terima kasih Dina... Aku benar-benar sayang kamu" Dendy memeluk Dina dengan erat


"selama beberapa hari aku enggak ketemu kamu, aku kangen sama kamu, sampai aku telepon papamu bilang kamu enggak di rumah" ucap Dina mengelus punggung Dendy


"maaf, aku bilang sama mama dan papa kalau ada telepon tolong bilang aku enggak ada" ucap Dendy tertunduk malu melepaskan pelukannya


"sekarang aku tanya kenapa kamu berpikiran aku bohongin kamu?"


"jadi kamu melihat aku boncengan sama Toni? ngambek nih ceritanya?" Dina menggoda Dendy


Dendy membuang mukanya merasa kesal karena Dina meledeknya.


"kalau aku bilang ada Toni juga pasti kamu bakal ikut aku"


"itu sudah tahu" Dendy masih merajuk


"Dendy.... Dendy.... Ani itu suka sama temannya Toni yang kemarin boncengin Ani namanya Roy, dia temanku sejak SMP. Lagipula aku perginya beramai-ramai enggak cuma sama Toni" ucap Dina tersenyum jahil


"tapi kan tetap saja kamu boncengan dengan Toni" Dendy masih merajuk. Dina membuang nafasnya kasar begini ya rasanya berpacaran sama adik kelas .


"aku enggak minta diboncengin Toni, Roy yang ingin sama Ani, aku sudah bilang aku bisa sendiri, tapi Roy bilang dia pakai motornya Toni jadi lebih baik Toni sama aku saja begitu ceritanya"


"maaf...." ucap Dendy lirih sambil menunduk


"iya, semua hanya salah paham kan? Makanya tanya, jangan mengambil kesimpulan sendiri" ucap Dina menahan tawanya


"iya...iya... Aku yang salah" ucap Dendy sebal


"kita sama-sama belajar untuk saling memahami, oke sayang...." ucap Dina tersenyum ke Dendy

__ADS_1


"aku tidak meminta lebih, cukup percaya aku, itu saja Den"


"iya Din, mulai sekarang kita harus saling percaya satu sama lain" ucap Dendy menatap Dina "begini ya...rasanya pacaran dengan kakak kelas" Dendy tergelak sedangkan dina mencebik


"masih marah hmm?" tanya Dina lembut


"enggak, sayang.... Aku enggak bisa lama-lama marah sama kamu" ucap Dendy mencubit hidung Dina


"enggak ketemu sehari saja rasanya tersiksa"


"bohong... Buktinya satu minggu enggak ketemu kamu baik-baik saja" ucap Dina meledek Dendy


"tiap malam aku susah tidur Din, mikirin kamu" ucap Dendy dengan wajah cemberut


"siapa suruh ngambek " Dina mencebik


"iya...iya...aku yang salah, berdebat sama kamu enggak bakal selesai-selesai" akhirnya Dendy mengalah karena memang dia yang salah.


Mereka berdua menghabiskan waktu mereka di tepi danau. Melepas rindu karena sudah seminggu mereka tidak bertemu. Mereka sampai lupa waktu kalau Dina harus les.


"Din, kamu enggak jadi les?" tanya Dendy lembut


"eh...iya..aduh ini jam berapa?" Dina panik karena lupa waktu


"sudah jam satu lebih sepuluh menit"


"aduh...telat...ayo...antar aku, cepat Den" Dina makin panik sedang Dendy hanya tersenyum melihat kepanikan Dina


"iya...ayo... Sebenarnya aku masih kangen tapi ya bagaimana lagi, aku antar kamu" Dendy beranjak dari tempat duduknya dan menepuk-nepuk celana bagian belakang.


Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir. Dendy mengambil helm Dina dan memakaikannya, kemudian dia memakai helmnya sendiri dan menyalakan motornya mengantar Dina ke sekolahnya.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


Yuk dukung terus karya ini


Please like, comment dan vote


Terima kasih bestie

__ADS_1


__ADS_2