
Sebelum lanjut, untuk para readers tercinta mohon maaf jarang up, karena kesibukan di dunia nyata dan juga sedang tidak sehat. Jangan lupa mampir juga di novel JADIKAN AKU PACARKU ya...terima kasih sekebon bestie..
......................
Ketika aku mengikuti Dina, betapa terkejutnya aku, ketakutanku selama ini terjawab. Dina benar anak Vera dengan Joni. Antara senang dan marah, aku lega karena Dendy bergaul dengan anak orang yang aku kenal, entah mereka mengingatku atau tidak.
Tapi aku juga marah, mengapa anak yang aku anggap baik untuk anakku, dan sudah dekat dengan keluargaku adalah anak orang yang telah membuat aku sakit hati.
Aku bingung bagaimana menentukan sikap. Tak ada seorang pun yang tahu masalah ini, aku tak ingin menceritakannya pada Tari, dia adalah tipe pencemburu tidak peduli kepada siapa dia telah cemburu.
Di satu sisi aku ingin Dendy berjodoh dengan Dina, di sisi lain aku masih merasakan rasa sakit dan belum lagi kenyataan jika aku pernah menaruh hati pada mamanya.
Aku mulai berpikir untuk menguji mereka berdua, apalagi Dina sekarang kuliah di luar kota, akan mudah bagiku menguji mereka berdua. Ternyata diam-diam tanpa sepengetahuanku Dendy sering pergi ke kota J untuk menemui Dina.
Jarak tak membuat hubungan mereka semakin renggang, mereka semakin dekat. Ternyata hubungan mereka tidak bisa kuanggap remeh. Terbesit olehku untuk memisahkan mereka berdua, kali ini aku ingin sedikit egois demi diriku dan mungkin demi Tari juga.
Dendy meminta ijin padaku untuk kuliah di kampus yang sama dengan Dina. Aku bingung, selama ini aku selalu membebaskan anak-anakku mau sekolah dimana. Tapi kali ini aku harus melarangnya, aku tak ingin mereka semakin dekat lagi.
Akhirnya aku memberikan pilihan yang berat pada Dendy. Kuliah di kampus Dina tapi putus dengannya tau kuliah di kota ini tapi masih bisa berpacaran dengan Dina. Aku pikir dia akan menerima syaratku tanpa penolakanku. Ternyata aku salah, ia malah semakin jauh dari keluarga kebiasaan buruknya kambuh lagi.
Di luar dugaanku, diam-diam ia mendaftar dan sudah diterima di kampus Dina. Aku tidak tahu dia mendapat keberanian dari mana dia bisa berani melawan perintahku. Dan hari ini aku sudah tak bisa lagi bersabar, aku terpaksa menyuruhnya memutuskan Dina atau semua yang ia miliki dan pakai aku ambil.
Tak pernah aku sekeras ini terhadap anak-anakku. Aku hanya tak ingin ketentraman keluargaku terusik karena seorang anak yang telah mengingatkanku pada luka lama.
Akhir pov papanya Dendy
Dendy benar-benar bingung dan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Akankah ia melawan orang tuanya demi Dina ataukah ia menuruti perintah orang tuanya sampai ia lulus kuliah.
Dina memang bukan cewek yang sempurna, tapi bagi Dendy terbaik di antara teman-teman atau mantannya terdahulu. Dendy tak bisa begitu saja memutuskan Dina tanpa alasan yang jelas.
Itu sama saja ia mengingkari janjinya seperti mantan-mantan Dina yang pernah menyakitinya dulu. Dendy tak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada Dina.
Dendy masih tak mengerti kenapa masalahnya sekarang begitu rumit di saat ia ingin memperbaiki keadaan. Ia ingin semua sesuai keinginan dan rencananya.
.
Hari-hari berlalu Dendy mencoba memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil. Sampai saat pengumuman kelulusan tiba, Dendy masih belum bisa menentukan sikap.
__ADS_1
Dari pagi Dina sudah berada di rumah Dendy menunggu kabar kelulusan Dendy. Dina menunggu sambil menemani mamanya Dendy merawat tanamannya.
"bagaimana kuliahmu?" tanya mamanya Dendy sambil mencabuti rumput
"baik tante..." jawab Dina
"nilai-nilai kamu bagaimana?"
"cukup memuaskan tante, di atas tiga koma"
"bagus itu Din....kamu betah kuliah di situ?" tanya mamanya Dendy mencoba ingin tahu apa yang Dina rencanakan
"hmm....betah sih tante....tapi Dina masih tetap ingin mencoba mendaftar di kedokteran"
"berarti pindah kuliah dong...."
"kalau diterima sudah pasti pindah...tapi kalau tidak ya...tetap harus mentelesaikan kuliah di sana tante" jawab Dina menyunggingkan senyumnya
Mamanya Dendy menjadi kasihan melihat Dina menjawab semua pertanyaannya dengan senyum yang tak pudar sama sekali. Apakah Dina masih akan tetap bisa tersenyum sepertu itu kalau tahu papanya Dendy menginginkan mereka putus.
"tante mau tanya, tapi jangan tersinggung ya Din..." ucap mamanya Dendy ragu
"kamu serius dengan anak tante?" tanya mamanya Dendy hati-hati
"iya tante... Serius...memangnya ada apa tante?" Dina mengerutkan dahinya
"ah...enggak...kalian kan masih muda, tante kira masih seperti anak muda yang lain, yang hanya cinta monyet begitu"
Dina terkekeh "umur boleh muda tante, tapi kita harus memikirkan masa depan, apalagi masalah pendamping hidup, kalau memang sudah merasa cocok dan nyaman ya...harus dipertahankan"
"tante enggak nyangka kamu punya pemikiran sepertu itu" mamanya Dendy mengembangkan senyumnya "tapi ingat, kuliah nomor satu lho Din..."
"iya tante....pasti...." ucap Dina tegas
Mama Tari makin merasa tidak tega, Dina begitu baik, penyayang, dan memiliki pemikiran yang dewasa harus menerima kenyataan jika papanya Dendy melarang mereka berhubungan jika mereka satu kampus.
Mamanya Dendy masih belum mengetahui apa alasan dibalik perubahan sikap papanya Dendy yang menurutnya begitu mendadak. Meskipun begitu, mamanya Dendy berpikiran positif, papanya Dendy ingin kuliah mereka tidak terganggu jika mereka saling berdekatan.
__ADS_1
Dina masih membantu mamanya Dendy merawat tanaman-tanaman yang berada di halaman rumah. Dendy pulang dengan baju seragamnya yang sudah dicorat-coret tanda kelulusannya.
"lhoh kamu di sini?" Dendy menghampiri Dina
"iya..."
"kenapa enggak bilang-bilang, tahu begitu tadi aku langsung pulang"
"kamu pasti ingin merayakan kelulusanmu dengan teman-temanmu kan? Makanya aku tidak ingin mengganggu" ucap Dina dengan senyum mengembang
"memangnya nilaimu bagus? Baju pakai acara dicorat-coret segala" gerutu mamanya Tari
"ah...mama....seperti tidak pernah muda saja" kesal Dendy
mamanya Dendy masuk ke dalam rumah karena ia sudah selesai merapikan tanamannya.
"kamu belum tanda tangan di bajuku" Dendy menyodorkan spidol kepada Dina
"sini...mau di sebelah mana, sepertinya sudah penuh..." Dina memperhatikan baju Dendy
"terserah dimana saja..."
"oke..." Dina mulai menulis sesuatu di baju Dendy. Dina memilih bagian depan sebelah dada kanan agar Dendy selalu ingat akan dirinya
"kamu nulis apa?" tanya Dendy melihat ke arah tangan Dina yang sedang menulis
"nanti kamu juga tahu" jawab Dina dengan mata tak menatap Dendy
"kenapa lama sekali?" Dendy mulai tak sabar
"cerewet...!" bentak Dina "sudah....selamat ya sayang...sekarang sudah resmi menjadi calon mahasiswa" Dina terkekeh
"iya sayang...terima kasih" ucap Dendy terasa tercekat setelah ini ia harus memikirkan langkah yang terbaik untuk kelanjutan hubungan mereka berdua
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g