
Setengah jam berlalu, Dina dan Bimo telah sampai di sebuah restoran yang terlihat begitu romantis. Selain itu restoran itu terletak di lereng gunung.
Dina tidak menyangka akan diajak ke tempat yang begitu indah. Mendadak ia merasa salah memakai baju. Dina hanya memakai kaos dan celana jeans di bawah lutut.
Dina juga baru sadar, jika Bimo malam ini tampak rapi, memakai kaos dipadu celana jeans serta memakai jas. Dina jarang melihat Bimo memakai seperti itu. Hanya sekali Din melihat Bimo memakainya ketika acara ulang tahun papanya. Selebihnya Bimo selalu berpenampilan kasual.
"ayo...kita masuk..." ajak Bimo
Dina mengikuti langkah pelayan yang menunjukkan di mana mereka harus duduk.
"tempatnya bagus sekali mas..." Dina menatap sekeliling. Penuh dengan lampu-lampu hias dengan cahaya temaram memberikan suasana romantis
Bimo menarik kedua sudut bibirnys melihat Din yang terkesima "sudah lama aku ingin ke sini bersama orang spesial" ucap Bimo
"memangnya kamu belum pernah ke sini?" tanya Dina
"belum..." jawab Bimo tersenyum tipis
"ini ceritanya traktiran ulang tahun?" Dina terkekeh
"bisa dibilang begitu..." ucap Bimo menarik kedua sudut bibirnya ke atas "aku ingin merayakannya berdua denganmu"
Tak lama, pelayan membawa makanan mereka. Dina takjub, baru kali ini ia makan dengan suasana romantis. Dengan temaram cahaya lampu serta sepasang lilin yang menyala di meja, di bawah sinar bulan dan bintang-bintang menambah suasan semakin romantis.
"sebenarnya aku ingin mengajakmu ke sini kemarin, tapi kamu pergi" ucap Bimo dengan wajah sedih "aku berkali-kali ke kosmu bahkan menunggumu pulang tapi kamu tak kunjung pulang"
Makanan mereka telah habis, pelayan mengantarkan es krim untuk mereka berdua. Bimo tahu apa yang disukai Dina, ia sengaja memesan es krim coklat dan vanila dengan taburan kismis dipadu buah segar. Mata Dina berbinar melihat es krim kesukaannya.
"Din...." Bimo meletakkan sendoknya kemudian ia memegang tangan Dina. Dina menatap Bimo dengan raut penuh tanda tanya.
"Dina...aku tahu aku memiliki kesalahan yang sudah membuatmu terluka begitu dalam, aku ingin....mengungkapkan yang selama ini aku simpan dalam hatiku"
"aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku, yang menemani hari-hariku sampai kita tua nanti, aku akan selalu membuatmu bahagia, selalu membuatmu tertawa, tak akan membiarkanmu bersedih lagi sampai maut yang memisahkan kita"
Bimo memberanikan mengungkapkan perasaannya, ia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Yang ia inginkan hanyalah Dina seorang. Bimo sudah yakin, menjadikan Dina sebagai pendamping hidupnya.
__ADS_1
Dina meletakkan sendoknya, menatap Bimo. Dina tak bisa berkata-kata, ia bingung. Tiba-tiba Bimo melamarnya. Dina tidak tahu harus menjawab apa. Ia senang dilamar oleh seseorang, berarti cowok itu memang serius dengannya, tapi dia juga belum siap, masih banyak yang ingin ia capai, masih banyak yang ingin ia lakukan.
"bagaimana Din...?" Bimo mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya, terlihat sebuah cincin dengan permata di tengahnya. Dina takjub, tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Dina memang selalu serius menjaalani sebuah hubungan, dan ia ingin mencari pacar yang memang juga sudah memikirkan masa depan.
"mas....." Dina menjeda ucapannya, menghirup udara sebanyak-banyaknya
"aku tidak tahu harus menjawab apa, kita berdua masih kuliah, dan mas sendiri tahu cita-citaku sejak dulu, masih banyak yang belum aku capai aku tidak mau memberikan harapan palsu pada mas" dengan rasa gugup dan cemas Dina mengucapkan apa yang ada di kepalanya
"aku akan menunggumu sampai semua yang kamu cita-citakan tercapai" ucap Bimo serius
"itu akan sangat lama mas..." ucap Dina yang tak mau Bimo berharap lebih padanya
"aku akan tetap menunggu Din..."
"mas juga tahu, saat ini hatiku sudah ada yang memiliki" ucap Dina lembut
"tidak adakah sedikit saja tempat di hatimu untukku Din?" Bimo mulai mengiba
"aku tidak mau mengatakan apa yang tidak pasti mas, untuk sekarang tidak ada.."
"berarti masih ada kesempatan untukku kan Din?" Bimo mulai terlihat frustasi
"aku tidak mau mas terpaku pada diriku saja, aku ingin mas menikmati masa muda mas, masih banyak cewek lain yang jauh lebih baik dari aku"
"jika Tuhan menghendaki tak ada satupun yang tak mungkin"
"untuk sekarang.... maafkan aku mas, tidak bisa menjadi yang mas inginkan" Dina melepaskan genggaman tangannya
Bimo terlihat begitu sedih "apakah aku begitu jahat sehingga kamu tidak mau memberiku kesempatan, menyisakan ruang di hatimu untukku?
"mas tidak jahat, hanya saja hatiku telah dimiliki orang lain" ucap Dina lembut
"apa hebatnya dia Din dibandingkan aku?!"
"aku tidak mau membandingkan siapapun, ini masalah hati mas, tidak bisa diatur dan dipaksakan"
__ADS_1
Bimo meneteskan air matanya, untuk yang kedua kalinya ia melamar Dina, dan ditolak. Entah usaha apa lagi yang harus ia lakukan.
"baiklah....aku tidak akan memaksamu lagi, terima kasih untuk semua kenangan di antara kita" ucap Bimo dengan terisak
"terima kasih karena kamu telah memberi aku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat"
"bahagia selalu dengan pilihanmu ya... Ingatlah ketika kelak tak ada lagi yang menyayangimu, masih ada aku yang akan selalu menyayangimu sampai kapanpun"
Bimo memaksakan senyumannya, meski sakit tapi ia juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya.
.
Beberapa bulan berlalu, setelah lamaran Bimo yang terakhir mereka berdua menjadi semakin jauh. Dina dengan aktivitasnya, Bimo juga dengan kuliahnya.
Dina sudah sangat jarang bertemu dengan Bimo, bahkan di kampus pun Dina tidak pernah bertemu dengan Bimo. Ada rasa kehilangan dalam hati Dina.
Ketika malam-malam ia tak bisa tidur, yang ia ingat adalah Bimo. Dina mengingat, ketika suatu malam ia tidak bisa tidur, Bimo datang ke kos dan menjemput Dina mengajaknya berkeliling kota.
Hubungan Dina dan Dendy pun jalan di tempat. Tidak ada perkembangan yang berarti. Dina masih setiap minggu pulang untuk bertemu dengan Dendy.
Belum sekalipun Dendy mendatangi kos Dina. Terkadang Dina juga ingin seperti teman-temannya yang lain, dikunjungi oleh pacar-pacarnya yang berada di luar kota.
Tapi Dina cukup bersyukur hampir satu tahun hubungan mereka, mereka masih rukun dan saling setia. Tidak seperti awal-awal hubungan mereka.
Mereka berdua belajar dari kesalahan mereka. Mereka berusaha saling terbuka dan saling mendukung. Apalagi mamanya Dendy berada di barisan paling depan ketika anaknya sedikit saja melakukan kesalahan. Mamanya Dendy pasti akan manegur dan menasehati anaknya.
Dina bersyukur kenal dengan mamanya Dendy yang begitu penyayang dan selalu menyayanginya layaknya anak sendiri.
.
.
B e r s a m b u n g
.
__ADS_1
Ditunggu kiriman kopi dan bunganya ya bestie...
Jangan lupa ritualnya , selamat bermalam minggu