Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 28


__ADS_3

Sore harinya di rumah Dendy, Gilang yang baru pulang sekolah melihat adik sepupunya yang sedang melakukan hobbynya mengutak-atik motor. Meski raut wajahnya tidak murung seperti kemarin tetapi Dendy masih banyak diam tak banyak bicara.


Biasanya jika Gilang pulang sekolah pasti langsung diajak untuk keluar ke tempat tongkrongannya Dendy bersama teman-temannya. Dendy tidak menyapa atau menyambut kedatangan kakak sepupunya itu.


Gilang juga tidak menyapa adik sepupunya itu. Dia membiarkan adik sepupunya itu untuk bercerita sendiri mengenai permasalahannya kenapa sampai membuat Dendy murung. Gilang bergegas masuk ke dalam rumah, di dalam rumah ada tante Tari seperti biasa di sore hari Tante Tari selalu di dapur untuk memasak makan malam.


"Tan, itu Dendy masih diam saja dari tadi?" tanya Gilang sambil berjalan menghampiri tante Tari yang sedang memotong bawang di dapur.


Tidak ada jawaban dari tante Tari, Gilang memperhatikan tantenya itu. Merasa diperhatikan sama keponakannya tante Tari menoleh menatap Gilang.


"Ya ampun...tante menangis kenapa? apa gara-gara memikirkan Dendy?" Gilang bergegas mengambil tisu yang ada di meja makan dan memberikannya kepada Tante Tari


"Haaahh....?" tante Tari membelalakkan matanya terkejut dengan perkataan keponakannya


"Siapa yang memikirkam Dendy, tante itu sedang memotong bawang Lang" ucap tante Tari sambil mengambil tisu yang dipegang Gilang kemudian mengusap matanya dengan tisu.


"eh...aku kira sedih memikirkan Dendy yang dari kemarin diam saja" jawab Gilang cengengesan


"sudah sana ganti baju habis itu bantu tante masak"


"oke...siap...ibu ratu..." ucap Gilang kemudian bergegas naik ke lantai dua ke kamarnya


Beberapa saat kemudian Gilang sudah turun dengan pakaian santainya, Gilang membantu tante Tari memasak. Sebenarnya tante Tari tidak mewajibkan Gilang untuk melakukan pekerjaan rumah, tapi Gilangny sendiri yang ingin membantu karena merasa tidak enak sudah menumpang di rumah tantenya itu.


Malam pun tiba, semua telah bersiap di meja makan untuk makan malam bersama. Hanya kurang Pak Doni sebab Papanya Dendy itu sedang lembur di kantornya. Tidak ada pembicaraan di meja makan hanya terdengar dentingan sendok beradu dengan piring serta celotehan Rio adiknya Dendy yang menceritakan kejadian-kejadian di sekolahnya dan di tempat les nya.


Setelah semua selesai makan malam semua masuk ke kamarnya masing-masing karena sudah waktunya untuk belajar kecuali tante Tari yang masih harus membereskan meja makan dan menunggu kepulangan pak Doni.


Di lantai dua rumahnya Dendy hanya terdapat dua kamar dan ruang keluarga. Kamar-kamar itu ditempati Gilang dan Dendy. Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk belajar.


Ketika Gilang sedang serius belajar mengerjakan tugas-tugas sekolahnya terdengar pintu kamarnya terbuka. Gilang menoleh ke arah pintu dilihatnya Dendy masuk kamarnya.


"Mas...aku mengganggu tidak?" tanya Dendy langsung merebahkan diri di atas kasur dan berbaring miring menghadap Gilang yang duduk di meja belajarnya.


"Ganggu..." jawab Gilang acuh sambil melanjutkan menulisnya


"ganggu ya...ya sudah aku tidur di sini nanti kalau mas gilang sudah selesai bangunkan aku" ucap Dendy sambil merubah posisinya menjadi telentang


"kamu tidur di sini itu sudah ganggu aku belajar Dendy...!!" ucap Gilang ketus sambil menutup buku-bukunya


Dendy reflek memperhatikan kakak sepupunya itu


"sudah selesai mas.. belajarnya..." ucap Dendy tersenyum jahil

__ADS_1


"sudah..."ucap Gilang acuh


"sekarang kamu mau apa kenapa masuk kamarku biasanya juga kalau lihat aku sedang mengerjakan tugas pasti tidak jadi masuk" ucap Gilang memutar tubuhnya duduk menghadap Dendy yang sedang berbaring di kasur


"hehehehe...." Dendy cengengesan " Hari ini bertemu Dina tidak mas?"


"Ketemu...dia seperti kamu kemarin" ucap Gilang sambil mengangkat kaki kanannya dan menyilangkannya di atas kaki kirinya


"seperti aku kemarin?" Dendy mengernyit bergegas bangkit dan duduk mengambil guling untuk dipeluknya


"iya...jalannya lemes terus wajahnya murung begitu "


"aku kemarin tidak begitu kok mas..."kilah Dendy


"yang melihat siapa...?..aku, mamamu sama papamu yang melihat Den " terang Gilang


"hah... masak iya begitu mas?" Dendy menegakkan tubuhnya


"hahaha....mamamu sampai bingung, kemarin aku diinterogasi sama mamamu " Gilang tergelak


"terus...Dina kenapa mas ?" tanya Dendy serius


"tidak kenapa..kenapa...aku tadi ketemu dia di UKS" ucap Gilang


"berarti Dina sakit mas?"


"oh...." Dendy hanya ber-oohhh ria


"sebenernya di antara kalian ada apa kenapa sikap kalian hampir sama ?" tanya Gilang serius


"tidak ada apa-apa mas" jawab Dendy merebahkan tubuhnya dan mentap langit-langit kamar Gilang


"benar tidak ada apa-apa? goda Gilang


"benar mas...."jawab Dendy jujur


"terus kenapa kamu kemarin tiba-tiba lemah lunglai murung begitu?"


"oo...yang kemarin tidak ada apa-apa "


"kemarin cuma capek aja mas, ngantuk, sudah niat mengantar Dina pulang, ternyata sampai sekolahnya Dina sudah tidak ada "


"oo...jadi karena itu... aku kira kamu ditolak sama Dina " ucap Gilang

__ADS_1


"ditolak?... aku saja belum bicara apa-apa dengannya " Dendy berubah menjadi murung lagi


"semangat Den...kejar terus..." Gilang menyemangati Dendy


 


Di tempat lain, di rumahnya Dina


Tok..tok..tok...


"Din, mama masuk ya " ucap mama Vera


"iya ma..." jawab Dina


Mama vera pun masuk ke kamar Dina, terlihat Dina sedang tiduran sambil membaca buku dan mendengarkan radio. Mama Vera pun duduk di kursi belajar Dina


"Kamu sakit Din " tanya mama Vera sambil memegang kening putri sulungnya


"tidak ma, cuma kurang enak badan aja "


"badan kamu mulai panas Din...sudah minum obat?" tanya mama Vera


"belum ma, tidak perlu minum obat tidur saja besok pasti sudah lebih baik " jawab Dina


"ya sudah terserah kamu, tidurnya jangan malam-malam" ucap mama Vera bangkit berdiri kemudian keluar dari kamar Dina


Sepeninggal mama Vera Dina langsung menutup bukunya, mengganti lampunya menjadi lampu tidur dan merebahkan badannya tak lupa Dina mengecilkan volume radio.


Beberapa saat merebahkan diri, tapi matanya tak kunjung bisa terpejam. Dina merasakan badannya semakin tidak enak. Akhirnya Dina memutuskan untuk keluar kamarnya dan meminum obat penurun panas dan vitamin yang tadi siang diberi oleh dokter sekolah.


Sudah lama Dina tidak merasakan badannya demam, mungkin karena kemarin kelelahan dan jalan-jalan malam di pegunungan badannya menjadi panas. Setelah satu jam meminum obat badan Dina mulai lebih baik, demamya juga mulai turun. Dina mencoba memejamkan mata, agar esok hari badannya sudah jauh lebih baik dan bisa berangkat ke sekolah.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2