
Tidak terasa waktu sudah sore, mereka masih asyik bermain game sampai akhirnya salah satu dari mereka memenangkan permainan tersebut barulah mereka berhenti.
"sekarang ayo ceritakan" ucap Krisna mengambil posisi duduk bersila menghadap Dendy dan mendekap toples berisi keripik singkong
"aku mau cerita tapi toplesnya taruh di tengah jangan di dekap sendiri begitu" Dendy mencebik
"suka-suka aku, ini kamarku dan ini cemilanku " Krisna semakin mengeratkan toples dalam dekapannya
"haishh....pelit amat sih...amat saja enggak pelit " Dendy mencebik
"ya sudah mau cerita atau enggak?" ucap Krisna sambil memakan keripik singkongnya
"enggak jadi sudah lupa apa yang mau aku ceritakan..." ucap Dendy merebut toples yang dipegang Krisna
"Ya sudah kalau enggak mau cerita, mending kamu pulang saja, daripada di sini keripikku yang habis..." ucap Krisna kembali merebut toples keripiknya.
Mereka berdua kadang suka berdebat bahkan kadang memperebutkan hal-hal yang tidak penting, tapi mereka tidak ada yang sakit hati. Meski mereka bukan saudara tetapi mereka sangat dekat.
"iya, aku pulang saja...capek... di sini bukannya makin tenang pikiranku malah makin pusing" ucap Dendy ketus melirik Krisna yang asyik menikmati keripik singkongnya.
Dendy beranjak dari tempat duduknya, mengambil celana dan jaket yang dia jemur di teras tadi Kemudian memakainya. Krisna hanya menatapnya sekilas. Dendy menyambar kunci motornya yang dia letakkan di atas kasur milik Krisna dan keluar dari kamar Krisna tanpa pamit.
"Seperti jailangkung saja, datang tak di jemput pulang tanpa pamit " gerutu Krisna menatap punggung Dendy yang berjalan ke arah garasi
"aku masih bisa mendengarnya.....!! " teriak Dendy naik ke atas motor dan memyalakannya kemudian dia bergegas pulang.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dendy sudah bangun, tidak seperti biasanya yang bangun selalu paling di siang di rumahnya. Dendy bangun jam setengah enam lebih lima menit. Dia bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka tidak mandi karena menurutnya masih terlalu pagi untuk mandi.
Dendy berjalan ke arah meja telepon. Dia memencet nomor telepon dan menunggu seseorang di ujung telepon mengangkatnya.
tutt...tutt....tutt....
^^^☎️ Halo....^^^
"Halo... bisa bicara dengan Dina?"
^^^☎️ Dina sedang mandi, ini dari siapa?^^^
"Ini Dendy, saya bicara dengan siapa kalau boleh tahu?"
^^^☎️ saya mamanya Dina^^^
"oh...maaf tante saya tidak tahu kalau tante yang mengangkat telepon"
^^^☎️iya...tidak apa-apa, ada perlu apa Den?^^^
__ADS_1
"saya mau bicara sama Dina bisa tante?"
^^^☎️sebentar tante cek dulu ya, Dina sudah selesai apa belum. Teleponnya mau ditunggu atau ditutup dulu?^^^
"saya tunggu saja tante"
^^^☎️iya baiklah...^^^
Mama Vera berjalan ke arah kamar Dina, dan mengetuk kamarnya memastikan apakah Dina sudah selesai mandi apa belum. Dan ternyata Dina malah belum mandi. Mama Vera memberitahu Dina kalau Dendy telepon. Dina heran kenapa sepagi ino Dendy sudah menelponnya.
^^^☎️ halo...^^^
"halo..pagi Dina..."
^^^☎️iya Den ada apa?^^^
"hanya ingin mengucapkan selamat pagi saja "
^^^☎️oh...ya sudah kalau begitu aku mandi dulu^^^
"kamu belum mandi? aku ganggu ya Din?"
^^^☎️sudah tahu malah tanya, ada apa Den, cepat katakan keburu siang^^^
"nanti saja pulang sekolah aku ke sekolahmu saja, pulang jam berapa?"
"ya sudah sebelum les saja aku ke sekolahmu"
^^^☎️iya sudah ya aku tutup^^^
tutt...tutt...tutt....
"yah...ditutup...padahal masih mau ngomong " gerutu Dendy
"siapa suruh jam segini telepon" ucap Gilang sambil melenggang ke arah kamar mandi.
Akhir-akhir ini Dina sering datang ke sekolah mepet-mepet bel tanda masuk. Biasa dia sampai sekolah paling tidak empat puluh sampai tiga puluh menit sebelum bel. Akhir-akhir ini Dina lebih sering datang lima sampai sepuluh menit sebelum bel. Tidak ada yang meperhatikannya bahkan Yuni yang sebangku dengan Dina juga acuh.
Yuni akan bingung mencari-cari Dina ketika ada PR yang dia belum bisa mengerjakannya. Atau kalau ada ulangan harian Yuni baru mendekati Dina agar diberi contekan sewaktu ulangan. Untuk hal yang lainnya dia acuh bahkan Dina sakit 'pun Yuni biasa-biasa saja.
Dina baru saja memarkirkan motornya di tempat parkir belum juga helmnya dia lepas tapi Toni sudah menghampirinya
"Din..." Toni memegang setang motor Dina dari samping. Dina reflek menoleh ke arah Toni
"bisa kita bicara sebentar?" ucap Toni
__ADS_1
Dina melepaskan helmnya, sebenarnya dia enggan berbicara lagi dengan Toni, tetapi kalau Dina tidak menurutinya Toni tidak akan berhenti mengejarnya.
"Din..aku minta maaf atas ucapan teman-temanku kemarin, sungguh semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap Toni mengiba
"memangnya aku memikirkan apa Ton?" Dina mengerutkan dahinya
"aku sudah memaafkan semuanya tetapi aku butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiranku" Dina menarik nafasnya dalam-dalam
Sebenarnya Dina sudah mulai melupakan peristiwa di toilet kemarin tetapi karena Toni membahasnya lagi dadanya terasa sesak, mendengar dia menjadi bahan taruhan teman-teman Toni.
"baiklah...aku akan menjauh sementara dari kamu, tapi beri aku kesempatan untuk memperbaik semuanya, aku masih sayang kamu Din" terang Toni tanpa mendengr jawaban Dina Toni pergi meninggalkan Dina yang masih duduk di atas motornya.
Ada perasaan bersalah melihat Toni yang selalu dilihatnya ceria dan kadang keceriannya bisa menular kepadanya. Tapi Dina juga kecewa karena jadi bahan taruhan teman-tenan Toni.
Dina turun dari atas motornya dan berjalan menuju kelasnya. Baru sampai dekat pos satpam dia sudah dikejutakan oleh kejahilan adik kelasnya
"Hai..!!" Krisna sengaja mengagetkan Dina yang berjalan seperti orang melamun.
"aduh... " Dina tersentak kaget
"pagi-pagi sudah melamun saja" ucap Krisna berjalan mensejajari langkah Dina "habis berantem sama mantan ya kak..." Krisna cengengesan Dina hanya melihatnya dari sudut matanya kemudian pandangannya kembali lurus ke depan
"cari yang baru saja... masih banyak yang lainnya Din...tinggal pilih...ada aku..Gilang...Dendy...ada ..." ucap Krisna cengengesan tapi terdiam ketika melihat Dina sedang menatapnya dengan mata yang membulat penuh
"ups...aku salah ya..." ucap Krisna lirih
"sebenarnya kalian ini ada apa sih? aku dijadikan bahan taruhan juga?" ucap Dina dengan nada emosi
"eh...enggak...enggak...begitu Din "Krisna gelagapan baru kali itu dia melihat Dina marah "serius...enggak ada yang jadikan kamu bahan taruhan, tanya saja Dendy" ucap Krisna ketakutan sambil melipat jarinya membentuk huruf V
Dina tidak menanggapi ucapan Krisna, dia berjalan masuk ke kelasnya yang semakin hari semakin membuatnya tidak nyaman. Serasa tidak dianggap kehadirannya di kelas itu. Mungkin hanya teman-temannya yang cowok yang masih mau berteman dengannya.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
yuk bestie...jempolnya digoyang ya..
like dan komen satu aja cukup koq
__ADS_1
jangan lupa vote ya ...
terima kasih sekebon bestie