
Dina tak menjawab ataupun menanggapi perkataan Toni. Dina terpaksa hanya karena ingin menyenangkan hati Ani saja. Dina juga ingat sekarang dirinya sudah punya pacar. Dia berusaha menjaga apa yang sudah dia putuskan.
Akhirnya semua pesanan mereka telah datang, para pelayan membawa pesanan mereka.
"eh...hujan ya..." tiba-tiba Ani menyeletuk karena mendengar suara kuah steak yang mendidih di hotplate
Dina reflek langsung menengok ke arah jendela memastikan ucapan Ani.
"panas ah...An" ucap Dina
"ooaalaaa...suara dari steak nya An" Dina tergelak waktu pelayan mendekat menaruh pesanan mereka di meja
"Ani... Ani...suara kuah mendidih kok dibilang hujan" ucap Toni tergelak
Semua yang ada di meja itu kompak tertawa melihat tingkah konyol Ani
"ya...maaf...aku baru pertama makan beginian" ucap Ani menahan malu
"enggak apa-apa An, aku juga baru pertama kok" ucap Dina menepuk-nepuk bahu Ani
"kamu baru pertama ke sini Din?" tanya Toni yang duduk di sebelahnya
"iya" jawab Dina singkat tanpa menatap Toni
"lain kali aku ajak makan di sini berdua Din" ucap Toni lembut.
Toni masih berusaha mendapatkan maaf dari Dina, meskipun dari tadi hanya memberikan jawaban seperlunya saja tapi Toni masih berusaha sabar karena dia sadar dia telah bersalah kepada Dina.
Mereka semua makan pesanan mereka, diiringi dengan obrolan ringan dan canda tawa. Dina hanya tersenyum menanggapi candaan mereka semua. Sebenarnya dia ingin segera pulang saja karena malas jika harus lama-lama berdekatan dengan Toni
Tak terasa mereka sudah dua jam menghabiskan waktu di restoran 'S' Ani bangkit berdiri untuk membayar tagihan makanan yang mereka pesan tadi. Dina juga ikut bangkit menyusul Ani ke kasir.
Setelah selesai melakukan pembayaran mereka semua pulang. Ada beberapa yang langsung pulang. Sedangkan Dina harus ke rumah Ani dulu karena Roy yang mengantar Ani memakai motor milik Toni. Sedangkan Toni naik motor dengan Dina.
Sewaktu di tempat parkir Toni sedikit memperlambat jalannya, sengaja ingin berdua dengan Dina.
"Din, kamu mau 'kan memaafkan aku?" Toni meraih tangan Dina yang berjalan di depannya
"aku sudah memafkan kamu Ton" ucap Dina melepaskan genggaman Toni
__ADS_1
"tolong beri aku kesempatam kedua Din, untuk memperbaiki hubungan kita" ucap Toni dengan nada sendu
"maksud kamu Ton?" Dina bingung maksud Toni itu apa
"maksud aku bisakah kita bersama-sama lagi seperti dulu?" ucap Toni dengan nada serius
"maaf Ton aku enggak bisa"
"kenapa Din? Apa karena apa yang kamu dengar tempo hari?" ucap Toni mulai tidak bisa menahan perasaannya
"aku sudah punya pacar Ton" ucap Dina berterus terang
"dengan siapa Din?" suara Toni mulai meninggi membuat Ani dan Roy yang berada tak jauh dari tempat Dina dan Toni berdiri menoleh ke arah mereka
"kamu tidak perlu tahu dengan siapa aku berpacaran" ucap Dina datar
"apa jangan-jangan itu hanya alasanmu saja? " tanya Toni mulai melembut
"seiring berjalannya waktu kamu pasti akan tahu" ucap Dina sambil memakai helmnya
"aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali Din" ucap Toni menahan emosinya. Andai di depannya ada samsak pasti sudah habis Toni pukul.
"itu mereka kenapa Roy, sepertinya mereka sedang bertengkar" ucap Ani ke Roy penuh tanda tanya
"entah" Roy mengedikkan bahunya
"itu bukan urusan kita An, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka kita tidak perlu ikut campur" lanjutnya
"tapi aku merasa tidak enak Roy, aku yang mengajak Dina dan membuat Dina harus berboncengan dengan Toni" ucap Ani dengan nada penyesalan
"sudah tidak apa-apa An, mereka memang butuh bicara, aku hanya ingin melihat Toni dan Dina bisa rukun kembali" ucap Roy
"Tapi nyatanya, sepertinya bukan rukun malah mereka ribut-ribut begitu" Ani mencebik
"sudah...sudah...ayo aku antar" Roy menyalakan motor milik Toni dan menyurub Ani naik ke boncengannya. Mereka meninggalkan Dina dan Toni.
Melihat Ani dan Roy yang sudah pulang terlebih dahulu akhirnya Toni juga melajukan motor Dina. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Dina hanya diam karena merasa kesal dengan Toni.
Toni menahan rasa sesak di dadanya karena menerima kenyataan kalau Dina sudah punya pacar entah itu benar atau hanya alasan Dina semata yang jelas itu cukup melukai perasaannya. Tak terasa air mata menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
Toni merasa usahanya selama ini sia-sia. Andaikan dia bisa mengulang kembali waktu kebersamaannya dengan Dina pasti dia akan lakukan sayangnya semua tidak mungkin terjadi.
Dina yang tidak pernah menuntut macam-macam. Yang selalu sabar ketika Toni lebih sering menghabiskan waktunya bersama teman-temannya yang tidak pernah menghiraukan kebahagiaan Toni. Teman-teman yang hanya menjadi benalu bagi Toni dan celakanya dia menyadarinya setelah Dina perlahan menjauh dari hidupnya.
.
.
Tak terasa mereka berdua sudah sampai di rumah Ani. Di sana Ani dan Roy sudah menunggu mereka. Setelah menurunkan Toni dan mengucapkan terima kasih ke Ani, Dina bergegas pulang karena sudah sore dan dia juga sudah lelah.
Hari sabtu yang seharusnya dia lalui dengan keceriaan, terpaksa dia lalui dengan kekesalan. Sepanjang perjalanan pulang dia masih terngiang-ngiang akan ucapan Toni.
'Toni, bukan aku tidak mau memberikan kamu kesempatan kedua, hanya saja aku butuh waktu menyembuhkan luka ini. Kalau memang Tuhan mengijinkan suatu saat kita akan bisa bersama-sama lagi' batin Dina
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, semua kembali seperti biasa. Dina dengan kesibukannya belajar untuk persiapan ujian akhir dan juga sedang harap-harap cemas menanti kabar penerimaan program siswa unggulan di kampus 'B'.
Toni juga sedikit menjauh dari Dina, dia tidak lagi terlihat mengejar-ngejar Dina. Tapi Dina kehilangan sosok pacarnya yang selalu muncul setiap istirahat pergantian jam sore ataupun saat pulang sekolah. Bahkan menelpon Dina 'pun juga tidak.
Sudah hampir satu minggu Dendy tidak menampakkan dirinya. Dina pernah mencoba menelpon rumahnya tapi yang mengangkat papanya dan bilang Dendy sedang tidak ada. Dina dibuat heran sejak terakhir kali bertemu sebelum dia pergi sama Ani hubungan mereka baik-baik saja meskipun ada raut kecewa di wajahnya.
Dina hanya takut dia ditinggalkan seperti sebelum-sebelumnya. Dua kali pacaran sebelum dengan Dendy dia selalu dikecewakan. Dia merasa apakah ini memang sudah saatnya berpisah lagi dengan pacarnya.
.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
Tolong boom likenya ya bestie...
Jangan lupa Komen, vote atau kirim-kirim bungan dan kopi ya
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie 😘😘