Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 112 Kepanikan Mama Tari


__ADS_3

Setelah memastikan Dina duduk di brankar dengan nyaman, Dendy menarik kursi mendekat ke arah brankar Dina. Ia membelai tangan Dina yang bebas dari selang infus.


"kamu belum minum obatmu Din" ucap Toni mendekat sambil membawa obat yang harus diminum Dina dan segelas air


Dina menerima obat itu, kemudian meminumnya. Dendy tertegun melihat perlakuan Toni terhadap Dina yang begitu telaten merawat Dina.


"sekarang kamu isirahat, aku mau ke kantin dulu" ucap Toni dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Dina.


Sebenarnya Toni enggan meninggalkan Dina berdua dengan Dendy, tapi melihat Dendy duduk di sebelah brankar Dina membuat dadanya sesak.


Ia butuh udara untuk bernafas, agar sesak di dadanya hilang. Toni keluar ruangan dengan langkah yang terasa berat. Berat meninggalkan orang yang ia sayangi bersama cowok lain.


"kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit Din?" tanya Dendy mencoba meredam emosinya


"kalau aku bilang aku sakit apa kamu percaya?" tanya Dina sinis


"kenapa kamu bilang seperti itu Din?"


"nyatanya...kamu tidak pernah mempercayaiku" ucap Dina ketus


"bagaimana aku bisa percaya padamu, kalau aku melihat kamu berduaan dengan mantanmu?" ucap Dendy dengan nada meninggi


"intinya kamu tidak mempercayaiku, apapun yang akan aku katakan kamu tetap tidak akan percaya, kamu selalu berpikiran kalau yang kamu lihat adalah kebenaran" ucap Dina menahan sakit karena terlalu banyak berbicara


"sudahlah Den...lakukan apa yang menurut kamu benar ! aku lelah..." Dina membaringkaan tubuhnya dan memunggungi Dendy. Air mata yang dari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, tapi Dendy tidak tahu itu.


Dendy menghela nafasnya, pandangannya menerawang ke langit-langit ruang rawat Dina. Berpikir...apakah ia sudah keterlaluan menuduh Dina seperti itu. Apakah yang ia lihat kemarin dan hari ini itu seperti dugaannya? Ataukah ia yang terlalu terbakar cemburu dan emosi?


Di depan pintu ruang rawat Dina, dari tadi Toni mendengarkan percakapan antara Dina dan Dendy. Toni hanya beralasan ke kantin padahal ia hanya keluar untuk menghilangkan sesak di dadanya.


Tapi kini ia bisa tersenyum, mendengar perdebatan Dendy dan Dina. Hubungan mereka sedang renggang, ia bisa dengan leluasa memanfaatkan situasi untuk merebut Dina kembali.


Setelah tidak terdengar suara dari dalam ruang rawat Dina, Toni memutuskan untuk masuk. Dan yang ia lihat membuat ia semakin bahagia, Dina memunggungi Dendy. Hatinya bersorak gembira, kesempatan emas ada di depan mata.


"sebaiknya kamu pulang dulu, biarkan Dina istirahat" ucap Toni datar mendekati brankar Dina


"ck...infus Dina mau habis kenapa diam saja!" lanjutnya dengan nada kesal kemudian ia memanggil perawat untuk mengganti infusnya.


Dendy berpikir sejenak, kemudian bangkit berdiri berjalan keluar ruang rawat Dina. Tidak ada gunanya dia di situ, Dina tidak ingin berbicara dengannya. Toni melihat Dendy pergi dengan tatapan sinis.


Dendy sampai di rumah, dengan langkah gontai ia masuk ke dalam rumah.


"dari mana saja kamu?!" ucap papanya Dendy sambil membaca koran


"dari rumah sakit" ucap Dendy datar

__ADS_1


"kamu sakit?" tanya mamanya Dendy


"bukan aku" jawab Dendy


"lantas...ada apa kamu ke rumah sakit?" tanya papanya Dendy melipat koran yang ia baca


"Dina sakit" ucap Dendy singkat


"sakit? Sakit apa?" mamanya Dendy panik


"entah tidak tahu" ucap Dendy sambil berlalu meninggalkan mama papanya


"eh...ayo temani mama jenguk Dina!" mamanya Dendy berteriak


"iya nanti!" jawab Dendy


Mamanya Dendy bergegas mandi dan bersiap-siap ke rumah sakit. Papanya Dendy hanya geleng-geleng kepala melihat mamanya Dendy yang sepertinya panik mendengar Dina sakit. Padahal Dina hanya teman anaknya bukan saudara atau kerabat.


Dendy sebenarnya enggan kembali ke rumah sakit, tapi ia pergi dengan mamanya, berharap Dina mau berbicara dengannya. Dendy turun sudah dengan pakaian rapi. Kemudian ia bersama mamanya pergi ke rumah sakit tempat Dina dirawat.


Dendy dan mamanya sudah sampai di rumah sakit tempat Dina dirawat.


"lhoh...Dina dirawat di sini? Kenapa kemarin kamu tidak bilang? Kan mama bisa sekalian jenguk" ucap mamanya Dendy


"aku juga baru tahu hari ini ma" jawab Dendy


"Dina kamu sakit apa?" tanya mamanya Dendy menghampiri brankar Dina


"tante...." Dina berusaha duduk


"sudah...sudah...kamu tidur saja" ucap mama Tari


"sakit lambung tante" jawab Dina


"tante baru tahu kalau kamu di rawat di sini, tahu begitu kemarin tante sekalian ke sini jenguk kamu" ucap mamanya Dendy


"tidak apa-apa tante" Dina tersenyum


"eh..ini siapa? Kakak kamu?" tanya mama Tari menatap Toni


"bukan tante...itu teman Dina" ucap Dina merasa situasi yang benar-benar membingungkan


Dendy hanya diam di belakang mamanya, ia tidak berani mendekat. Ia takut Dina akan lebih marah padanya. Apalagi ada Toni yang menatapnya datar.


"kamu kenapa bisa masuk rumah sakit sih...Din, padahal beberapa hari yang lalu kamu masih baik-baik saja" tanya mama Tari dengan raut wajah sedih

__ADS_1


"tanya saja pada anak tante" Toni yang dari tadi diam akhirnya mambuka suaranya. Dina hanya menghela nafasnya, terkejut Toni bisa seberani itu


"sebaiknya kamu pulang saja Ton, paling sebentar lagi papaku datang" ucap Dina datar


"baiklah...jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu banyak pikiran" ucap Toni sambil melirik Dendy dengan sinis. Toni tidak mau Dina marah padanya, terlalu berharga jika ia harus mengorbankan usahanya yang mulai menuai hasil.


"ini sebenarnya ada apa?" tante Tari bingung


"anak tante yang sudah menyebabkan Dina seperti ini....permisi" Toni berjalan keluar dari ruang rawat Dina


"kamu bisa jelaskan apa maksud perkataan teman Dina tadi?" tanya mama Tari dengan wajah kebingungan


Dendy hanya diam, menunduk tidak berani berbicara ataupun menatap Dina.


"sudah tante....Dina tidak apa-apa" ucap Dina sedikit meringis menahan sakit


"jawab mama... Dendy!" mama Tari mulai marah


Dendy terdiam, terperangah Dina masih membelanya di depan mamanya. Dengan kesalahan yang begitu sering ia lakukan Dina masih membelanya.


"sudah tante, sebenarnya Dina dan Dendy sudah tidak ada hubungan apa-apa" ucap Dina masih berusaha berbicara sopan terhadap mamanya Dendy meskipun sebenarnya ia jengah melihat Dendy hanya diam saja.


"tidak Din....aku tidak mau kita putus..." akhirnya Dendy membuka suaranya.


"sebuah hubungan harus didasari dengan kepercayaan Den" ucap Dina menahan sakitnya


"tante jadi bingung, maksudnya ini bagaimana?" mama Tari bingung, anak muda jaman sekarang sulit untuk dimengerti


"kalau kalian ada masalah selesaikan mama akan ke tempat tantemu, nanti mama bisa pulang naik angkutan umum" mama Tari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruang rawat Dina.


Hanya ada Dina dan Dendy di ruangan itu. Meteka berdua diam dengan pikirannya masing-masing.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


jangan lupa ritualnya ya bestie


Please like komen dan votenya ya...

__ADS_1


Terimakasih 😘


__ADS_2