
"aku bukan peramal kak...tapi keseringan kalau aku punya firasat tentang sesuatu akan terjadi, sering menjadi kenyataan" terang Dina
"semoga firasatmu itu tidak benar-benar terjadi" Tere mencoba membuat Dina lebih tenang.
"entahlah kak, aku tak berani berharap, makanya setiap aku mendapat firasat lebih sering diam agar tak terjadi" tangis Dina mulai mereda
"sekarang beristirahatlah, agar kamu segera pulih kembali" Tere beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Dina.
Dina terus memikirkan firasatnya, entah mengapa ia merasa seperti itu. Apakah memang sebuah pertanda jika hubungan mereka tak akan berlanjut. Dina semakin stres, ia merasakan sakit kembali, ia pun memutuskan untuk tidur dan berharap ketika ia bangun esok pagi semua akan baik-baik saja.
.
Dendy tiba di kosnya, lebih tepatnya rumah kontrakan bersama. Dendy tinggal di kontrakan itu bersama dengan teman-teman yang berasal dari kota K. Meski mereka dari berbagai sekolah, namun Dendy mengenal mereka karena mereka adalah teman-teman sepermainan.
Di kamarnya Dodi telah menunggunya "bagaimana kondisi Dina?"
"ternyata lebih parah dari yang kuduga" ucap Dendy meletakkan kunci motor serta melepas jaketnya
"maksudnya?" Dodi bingung
"tadi pagi, waktu Dina mengirim pesan, aku kira Dina hanya sakit biasa, dan aku berpikir itu cara dia agar aku mendatanginya" Dendy merebahkan dirinya di kasur
"Dina tak seperti itu Den..."
"aku berpikir seperti itu, karena aku sudah terlalu lama mengabaikannya, dan tak memeperjelas status kami" ucap Dendy menatap langit-langit kamarnya
"terus...bagaimana kondisinya sekarang?"
"Dina harus diopnam, tapi di depanku ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja"
"itulah Dina, bahkan ketika ia dipermalukan di kampus ia tak ingin kamu tahu, ia tak ingin membebani kamu dengan hal-hal yang tak seharusnya kamu pikirkan" Dodi tak bisa lagi menyimpan cerita ketika dipermalukan
"maksud kamu?" Dendy menatap Dodi dengan tatapan penasaran
"Dina pernah dipermalukan di kampus, dia dituduh merebut pacar cewek itu, padahal dari yang aku lihat cowok itulah yang selalu mendekati Dina" terang Dodi
__ADS_1
"cowok? siapa?!"
"mantan pacar Dina, ia berkuliah di jurusan yang sama dengan Dina tapi dia satu tingkat di atas Dina"
"kenapa Dina tak pernah bercerita padaku?!" Dendy mulai tersulut emosi
"menurut Dina, itu tak perlu diceritakan padamu, ia melarangku menceritakan apa yang terjadi padanya setahun terakhir"
"selama ini dia telah membohongiku?"
"bukan membohongimu, dia hanya tak ingin kamu kawatir, lagi pula bukannya ia pernah cerita kalau ada yang mendekatinya?"
"iya...pernah..." jawab Dendy lirih
"Den....aku mengenal teman kosnya, dia kuliah di menejemen, dari dia aku tahu, yang Dina sebut pacarnya itu kamu bukan mantan pacarnya, setiap hari yang Dina nanti itu telepon dari kamu, bahkan ketika akhir minggu ia sudah sibuk bersiap untuk pulang dan itu demi kamu, jadi jangan menganggap jika Dina menduakan kamu" Dodi sedikit kesal
"tapi entah mengapa, hari ini aku merasa biasa saja saat bertemu dengannya, tidak seperti dulu..." tatapan Dendy kembali menerawang ke langit-langit kamarnya.
"entahlah Den...sekarang keputusan ada di tangan kamu, kamu mau melanjutkan hubungan kalian, atau menuruti keinginan orang tuamu" Dodi beranjak dari duduknya meninggalkan Dendy
Apakah memang perasaannya pada Dina mulai luntur. Dendy memikirkan semua perkataan Dodi. Ia tak tahu Dina mengalami saat-saat yang begitu berat di kampusnya.
Saat mereka berdua bertemu, Dina tak pernah menceritakan hal-hal yang menyedihkan atau menyakitkan. Dina hanya menceritakan hal-hal baik yang terjadi pada dirinya.
.
Keesokan paginya, Dina masih belum pulih, ia masih merasakan sakit bahkan jauh lebih sakit dari semalam. Dina mengirim pesan singkat kepada Ratna jika hari ini ia tidak masuk kuliah. Hari ini ia kuliah sekelas dengan Ratna dan Vito teman satu kos Bimo.
Dina juga berpesan agar tak menceritakan kondisinya pada siapapun kecuali pada Berta dan Caca. Dina meletakkan kembali ponselnya, ia kembali merebahkan dirinya.
Sejak semalam tak.ada pesan atau telepon dari Dendy. Itu membuat Dina yakin bahwa firasatnya akan benar-benar terjadi. Perasaan Dina masih tetap sama terhadap Dendy, tapi ia merasa Dendy tidak memiliki perasaan yang sama padanya.
Dina mencoba memejamkan matanya, ketika pintu kamarnya diketuk.
"Din..."
__ADS_1
Dina mengenali suara itu, bukan orang yang ia harapkan datang
"iya...buka saja mas, enggak aku kunci" ucap Dina
"kamu kenapa lagi?" Bimo berjalan masuk ke kamar Dina membawa bungkusan yang terlihat banyak isinya
"kok bisa masuk? Siapa yang bukain pintu?" Dina berusaha bangun dan duduk di atas tempat tidurnya
"itu tidak penting, kamu kenapa lagi belum lama kamu pingsan sekarang terbaring begini" Bimo mulai mengeluarkan kotak-kotak makanan dari tas yang ia bawa
"aku tidak apa-apa mas..." Dina memaksakan senyumnya
"kalau tidak apa-apa kenapa kamu semalam ke dokter, bersama pacarmu yang enggak tahu diri itu"
"dari mana mas tahu?"
"aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Din...jadi kamu jangan berbohong!"
"biasa mas....penyakit lama kambuh lagi" Dina menghela nafasnya
"sekarang kamu makan buburnya, setelah itu minum obat, aku akan minta vito mengabari apa tugas kuliah kamu hari ini" seperti biasa Bimo tak ingin dibantah
Dengan terpaksa Dina menuruti perintah Bimo. Ia ingin segera pulih agar bisa masuk kuliah dan tak tertinggal materi kuliah. Setelah menghabiskan bubur dan meminum obatnya Dina tak langsung tidur.
Ia melihat ponselnya masih sama terakhir kali ia melihatnya. Masih tak ada pesan dari Dendy. Dina menghela nafasnya kemudian meletakkan ponselnya kembali dan merebahkan tubuhnya.
Bimo iba melihat Dina, tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dalam masalah ini ia juga punya andil. Jika saja dulu ia tak memutuskan Dina tanpa alasan, pasti Dina tak akan disakiti oleh pacarnya yang sekarang.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1