Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 72


__ADS_3

Selesai bernyanyi Dendy berdiri, berpindah tempat duduknya. Sekarang Dendy kembali duduk di sebelah kanan Dina.


"lagu tadi buat kamu Din" ucap Dendy dengan tatapan mendamba


"hah..." Dina terkejut kemudian dia tersenyum merasa tersanjung dengan ucapan Dendy.


"jadi pacar kamu itu rasanya seperti mimpi Din..." ucap Dendy menatap Dina dengan binar matanya


"mimpi bagaimana?" Dina mengerutkan dahinya


"iya...rasanya seperti cerita si cebol merindukan bulan" Dendy menarik satu sudut bibirnya


Merasa benar-benar seperti mimpi, bisa berpacaran dengan Dina. Tiga orang yang mendekati Dina salah satunya dia, dua cowok lainnya menjadi saingan beratnya. Mereka mempunyai kelebihan bahkan mereka lebih lama kenal dan dekat dengan Dina.


"kenapa berpikir seperti itu Den?" Dina menatap Dendy dengan penuh tanda tanya


"kamu itu cantik, pintar, menarik, pasti banyak yang mendekati kamu, yang kutahu ada dua, mungkin masih ada lagi yang aku tidak tahu" Dendy tertunduk merasa tidak percaya diri


"hah...?" Dina makin dibuat bingung oleh Dendy


"yang aku tahu yang mendekati kamu itu dari segi fisik dan yang lainnya lebih dari aku" ucap Dendy masih tertunduk menyadari segala kekurangannya


"kamu itu bicara apa sih Den...aku tidak mengerti " Dina menggelengkan kepalanya


"aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasa selama ini Din" ucap Dendy


Dina menghela nafasnya, memang susah membangun kepercayaan diri seseorang.


"jadi selama ini kamu masih merasa tidak percaya diri?" Dina menatap Dendy yang belum mau menatapnya


"sekarang kamu lihat aku Den" ucap Dina lembut. Dendy mengangkat kepalanya menatap Dina


"kamu masih ingat, aku pernah bilang kriteria cowok yang aku suka?" tanya Dina lembut memegang kedua tangan Dendy


Dendy mengangguk menatap Dina yang tersenyum kepadanya.


"kalau masih ingat kenapa kamu masih berpikiran seperti itu?" tanya Dina lembut "aku pernah bilang asal membuatku nyaman ya aku jalani" Dina mengusap tangan Dendy mencoba memberinya kenyamanan


"tetap saja Din, kadang-kadang rasa itu muncul begitu saja, apalagi kadang melihatmu dekat dengan teman-temanmu" ucal Dendy lirih


"Den...dengarkan aku... Aku merasa nyaman dengan kamu, perlahan aku juga mulai sayang dan cinta sama kamu, kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak perlu kamu kawatirkan, kamu cukup jadi diri kamu sendiri, dan jaga kepercayaanku padamu tentunya" ucap Dina dengan sorot mata tegas masih menggenggam tangan Dendy


"iya Din...maafkan aku " ucap Dendy menatap Dina, dia melihat tidak ada keraguan di mata Dina


"sudah ya... aku tidak ingin masalah-masalah seperti ini membuat kita jadi bertengkar" ucap Dina lembut

__ADS_1


"iya Din...aku sayang...sayang banget sama kamu" ucap Dendy dengan tatapan bahagianya


"iya aku percaya Den" ucap Dina


"aku pulang dulu ya Den, sudah sore, takut kemalaman pulangnya " Dina pamit kepada Dendy


"baru jam empat Din, tunggu sebentar ya, nunggu papa atau mas Gilang pulang dulu biar aku bisa antar kamu"


"aku pulang sendiri saja Den, lain kali saja ya" ucap Dina lembut dengan sorot mata teduh


"baiklah... Kamu hati-hati di jalan ya" Dendy bangkit berdiri mengambil tas Dina yang diletakkan di sebelah kursi tempat ia duduk


"iya...salam buat mama papa ya" Dina berdiri memakai jaketnya dan mengambil tasnya yang dipegang oleh Dendy


Dina berjalan ke arah motornya yang terparkir dekat pintu pagar rumah Dendy. Dengan sigap Dendy membukakan pintu pagar untuk Dina.


.


.


Beberapa hari kemudian, langkah kaki Dina terasa lebih ringan. Dina tidak lagi mempedulikan Yuni yang masih belum mau berbicara dengannya. Sekarang di kelas dia tidak lagi merasa bosan karena ada Putra yang selalu bisa membuat dia tidak berhenti tertawa.


"Din, sudah lama kamu enggak ke studio" ucap Anto menghampiri meja Dina


"memangnya sudah berapa abad To?" tanya Dina datar


"baru juga dua minggu kan?" ucap Dina


"hehehe...iya Din" Anto terkekeh menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"nanti ya kalau aku ada waktu aku mampir ke studio"


"yang punya pacar baru...sibuknya melebihi presiden" ledek Anto


"ya...kalian kumpulnya jam pulang sekolah, mana bisa aku ikut kumpul-kumpul, rumahku jauh kalau pulang kemalaman bisa-bisa aku tidur di teras" ucap Dina kesal


"widi rumahnya lebih jauh lagi Din, tapi dia di sini sampai malam"


"beda To.... Widi cowok aku cewek... Belum lagi papaku itu disiplin, kalau jam enam belum sampai rumah, aku tidur di teras To" ucap Dina makin kesal dibanding-bandingkan dengan Widi


"aduh...jangan marah-marah Din... Nanti cantiknya luntur" Anto tergelak


"habisnya kamu yang mulai membanding-bandingkan aku sama Widi" Dina mencebik


"kita itu kangen sama kamu Din, biasanya jumat atau sabtu sebelum kamu les pasti bantu-bantu di studio, sekarang menghilang entah kemana" terang Anto

__ADS_1


"iya...iya... Nanti jam istirahat sore aku ke sana, sebagai ganti hari jumat dan sabtu " Dina mengerucutkan bibirnya


Sebenarnya dia tahu maksud Anto hanya bercanda. Dia akui kalau akhir-akhir ini sudah jarang sekali ke studio. Pasti ada kerinduan di antara teman-temannya yang hampir dua tahun belakangan selalu bertemu karena terlibat dalam proyek pemancar radio sekolah


Sesuai janjinya, istirahat pergantian jam sore Dina ke studio. Di dalam studio ternyata ada anak-anak baru yang Dina tidak tahu.


"mbak Dina ada apa ke sini?" tanya salah satu anak baru


"kamu sendiri di sini mau apa?" Dina balik bertanya


"kita kru di sini mbak"


"oh... Anak baru" Dina berjalan menuju meja siaran, ada Anto dan Alex di situ


"itu anak-anak baru di sini disuruh apa? Memangnya ada penerimaan kru baru? Kok aku tidak tahu" tanya Dina ke Alex


"mereka yang tiba-tiba datang mau bantu-bantu katanya" ucap Alex mengedikkan bahu


"ya jelas kamu tidak tahu, kamu saja tidak pernah ke sini" sela Anto


"baru dua minggu aku tidak ke sini ya To... Lagipula dua minggu itu juga enggak genap dua minggu, minggu kemarin aku juga masih ke sini walau sebentar" ucap Dina kesal


"iya Dina itu ke sini To walau lima menit, dia selalu ke sini untuk lihat-lihat studio" Alex membela Dina, karena dia tahu persis Dina masih ke studio walau hanya menengok terus keluar lagi.


"masak sih.... Kok aku tidak tahu?" Anto bingung karena yang dia tahu Dina tidak pernah ke studio


"sudahlah aku malas berdebat, aku keluar lagi saja, lagipula aku sudah tidak dianggap di sini" Dina berbalik berjalan keluar studio


Dina berjalan keluar studio bertepatan dengan Widi yang masuk ke studio.


"kamu mau kemana Din?" tanya Widi heran


"keluar... " jawab Dina ketus


"eh... Jangan Din... Sudah lama kamu tidak siaran ayo temani Alex" Widi menarik tangan Dina kembali masuk ke dalam studio


Widi heran, Dina yang selalu baik jarang bicara ketus mendadak bicara seperti itu. Selama Widi mengenal Dina kalau tidak ada yang mengganggunya Dina jarang bicara seketus itu terhadap orang.


.


.


.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


.


.


__ADS_2