Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 100


__ADS_3

Hani dan Bimo masih di kawasan supermarket, setelah Hani merengek ingin makan dulu.


"Mau makan apa, Honey?" Tanya Bimo, gadis itu masih celingukan seperti mencari sesuatu.


"Seingatku disini ada yang stand yang jual ayam bumbu korea, tapi sekarang kok gak ada ya?"


"Pindah ke luar mungkin."


"Padahal lagi pengen banget makan ayam goreng Korea." Keluh Hani, membuat Bimo tak tega.


"Makan yang lain aja ya?"


"Nggak deh, pulang aja. Pengen nya ayam goreng korea." Jawab Hani lesu.


"Kita cari ke restoran korea, mau?"


"Mau banget, makasih sayang." Pekik Hani kegirangan, bahkan tak sadar kalau dia sudah membuat Bimo mematung karena tanpa sadar dia mencium pipi Bimo saking senangnya.


"Ayoo ihh, kok malah bengong." Hani menarik tangan Bimo.


"Maaf sayang, ayo pergi." Bimo mendorong troli berisi kebutuhan rumah yang sudah dia bayar dengan menggunakan gold card.


"Yang, besok aku mau ke bar ya."


"Lho, buat apa? Aku gak ngizinin kamu kerja di tempat itu lagi, Honey!" Jawab Bimo tegas.


"Kenapa gak boleh kerja disana lagi Yang?"


Bimo menginjak rem mobil hingga mobil itu berhenti di sisi jalan yang lumayan sepi.


"Kok berhenti disini, mana sepi lagi.." Hani celingukan, dia takut sekali karena Bimo menghentikan mobil nya di tempat sepi.


"Kalau sepi memang nya kenapa? Bukan nya bagus?"


"Kalau ada zombie gimana? Lihat tuh, gelap banget!"


"Kamu terlalu banyak menonton drama, mana ada zombie di dunia nyata? Oke, balik lagi ke topik pembicaraan, aku gak akan pernah izinin kamu kerja disana lagi, titik."


"Iya kenapa? Kan harus ada alasan nya." Kekeuh Hani.


"Ya alasan nya karena kamu bakalan di lihat banyak pria, aku gak rela, kamu hanya miliku bukan yang lain. Jadi aku lebih suka mengurung mu di rumah dan melayani ku, kau hanya harus menunjukan wajah cantik mu di depan ku saja!" Tegas Bimo.


"Ta-pi..."


"Simpel saja Honey, kamu hanya perlu di rumah, melayani kebutuhan ku, memasak jika kamu mau, biar aku yang bekerja untuk mu. Aku bekerja di perusahaan yang menjamin, jadi tak perlu khawatir, aku bisa memberikan apapun keinginan mu."


"Iya iya, aku gak kerja disana lagi. Aku kesana cuma buat mengajukan surat pengunduran diri, ya sambil perpisahan sama temen-temen. Boleh?"


"Jangan pulang lebih dari jam 10 malam." Tegas Bimo.


"Baik, terimakasih sayang."


"Jadi nyari ayam goreng nya, Honey?"


"Jadi dong." Bimo hanya tersenyum lalu mengacak rambut Gadis nya dengan gemas. Bimo kembali melajukan mobil nya menuju restoran yang menyajikan menu seperti yang di inginkan gadis nya.

__ADS_1


Hanya butuh waktu 20 menit, karena jarak dari supermarket ke restoran cukup dekat.


"Duduk dulu, aku pesan dulu."


"Mau di bawa pulang aja, makan nya di rumah."


"Iya." Jawab Bimo, lalu pergi dari kursi yang di duduki Hani.


"Ternyata pria itu sangat baik dan menggemaskan." Gumam Hani sambil tersenyum manis.


....


Setelah Azwar pulang, Zen benar-benar bermanja pada gadis nya, dia seperti mengabaikan kalau Ica baru saja terluka.


"Ayolah By, pengen boleh ya?"


"Ini di rumah sakit Dad, gimana kalau ada dokter masuk tiba-tiba? Jangan macam-macam."


Zen mengeluarkan ponsel nya dari saku celana, menelpon seseorang entah siapa, tapi yang pasti itu adalah salah satu anak buah nya.


"Berjaga dengan baik, jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan, tanpa seizinku!" Tegas Zen.


Zen kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku, dan mengerling nakal ke arah sang gadis.


"Gimana sayang?"


"Terserah Daddy saja lah." Jawab Ica pasrah, menolak pun percuma.


Zen membuka satu persatu kancing pakaian gadis nya dengan perlahan, menimbulkan sensasi berdenyut bagi Ica saat mulut pria itu mengulumm puncak buah kenyal nya dengan nikmat.


"Eengghh, ja-ngan terlalu kuat Dad, sakit." Keluh Ica.


Zen tak menghiraukan keluhan gadis nya, tetap saja dia menyesap buah ranum itu dengan kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan.


"Celana Daddy sesak, By."


"Mau main di sini Dad?" Tanya Ica, dia berharap pria itu mengatakan iya atau tentu saja.


"Tidak By, hanya ini saja. Kamu masih belum sembuh, jadi sebaiknya jangan bermain kuda-kudaan dulu."


"Terus? Apa Ica tak punya nafsuu? Setelah Daddy buat Ica berdenyut tapi gak di masukin, semua nya selesai Dad? Jahat!"


"Kamu kan masih sakit sayang, kalau kamu sehat Daddy pasti udah masukin kamu."


"Yang sakit kan cuma tangan sama kepala, bukan ini aku." Jawab Ica ketus. Enak saja, setelah membuat inti nya berkedut di landa banjir, pria itu malah dengan enteng nya bilang gak bakal masukin lubang nya.


"Yaudah kalo gitu, ayo main."


"Bukain, susah." Pinta Ica manja.


Zen menurunkan segitiga gadis nya, lalu merangkak menaiki tubuh gadis nya, dia sengaja hanya menyibak dress yang di pakai gadis nya, agar nanti tak repot setelah selesai.


Zen menggesekan terong ungu nya di bibir daging yang di hiasi bulu-bulu manja, membuat Ica refleks memejamkan mata nya.


Zen mendorong senjata nya perlahan, seperti biasa dia merasa sesak di awal permainan.

__ADS_1


"Daddyhh.."


"Apa sayangku? Enak?"


"Bergerak cepat Dad, lebih enak." Jawab Ica, mata nya masih tertutup.


Zen menuruti keinginan gadis nya, bergerak cepat memacu tubuh nya di atas Ica, hingga membuat brankar rumah sakit itu berderit menandakan orang di atas nya sedang mengejar pelepasan.


Ica terus mendesahh sepanjang permainan, membuat bodyguard yang berjaga di luar kompak memakai headset untuk menghindari suara-suara gaib yang berasal dari dalam ruangan yang sedang mereka jaga.


"Dad.."


"Sebentar lagi sayang, sebentar lagi." Ucap Zen terus bergerak cepat keluar masuk di inti sang gadis yang terasa semakin basah karena gadis itu sudah pelepasan dua kali.


"Aarrghhhh.." Zen mendongakkan kepala nya, melepaskan banyak kecebong di dalam inti gadis nya.


"Sayang, kamu selalu bisa membuat aku gila." Puji Zen, tentu saja dia memuji Ica, inti nya selalu terasa sempit meski sudah sering dia masuki.


"Sudah Dad? Lap pake tissu basah ya, Ica males ke kamar mandi."


Zen mengangguk dan membersihkan bekas cairan nya dengan teliti dan kembali memakaikan segitiga nya, sebelum dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.


....


"Hai Mei, apa kabar?" Tanya seorang pria yang baru saja datang, menyapa Meisya yang terlihat lemas, tubuh nya semakin kurus, luka di wajah nya infeksi dan menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat karena tak di obati tepat waktu.


"Kau bisa melepaskan aku? Siapa pun aku tak peduli, aku hanya ingin hidup tenang."


"Kalau begitu tinggalkan Elang dan mulai hidup mu ke jalan yang benar, berhenti menggoda suami orang."


"Tapi bagaimana aku hidup jika tanpa uang?"


"Itu masalah mu, bukan masalah ku. Terserah, pilihan ada padamu. Bebas tapi tinggalkan Elang, atau tetap bersama Elang tapi kau selamanya disini."


"Aku tak mau jadi gelandangan."


"Berarti kau memilih opsi pertama kalau begitu, jadi nikmati saja hidup mu di ruangan gelap nan pengap ini, dan kau akan mati perlahan." Bisik pria itu, bahkan hembusan nafas berbau mint nya terasa hangat menerpa wajah nya.


"Tapi aku tak mau disini terus, tolong. Aku merindukan ibu ku."


"Ibu mu baik-baik saja, adik mu juga baik, bahkan kakak mu juga baik-baik saja!"


"Aku tak punya adik."


"Gadis yang bernama Wenthrisca Liu adalah adik tiri yang kau manfaatkan, benar?"


"Darimana kau tau nama anak itu?"


"Aku punya apapun, aku bisa menyuruh detektif untuk menyelidiki latar belakang mu Meii, tapi ternyata kelakuan mu pada adik tiri mu sangat jahat! Jadi, anggap saja aku membalaskan semua perbuatan mu untuk gadis itu."


....


🌷🌷🌷


Meisya Meisya, udah di kasih pilihan kekeh aja pengen duit+laki orang🙄😪

__ADS_1


__ADS_2