Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 41


__ADS_3

"Pak ke mall ya.."


"Baik Nona, mari.." Anak buah Zen segera membuka pintu mobil. Ica menganggukan kepala nya dan segera memasuki mobil, hari sudah cukup sore, dia harus buru-buru takut nya toko di dalam mall tutup.


Tak lupa, dia juga mengirim pesan chat ke pada Hani untuk menemui nya di mall.


Ica sedang bertukar pesan dengan Zen, pria itu tengah mengerjakan berbagai macam pekerjaan.


My Handsome Daddy❤️


"Daddy masih kerja sayang, kamu jadi ke mall?" Isi pesan dari Zen membuat Ica tersenyum, bahkan saat bekerja pun pria itu sempat-sempatnya membalas pesan nya dengan cepat.


"Jadi Dad, ini lagi di perjalanan. Nanti di mall Ica mau ketemuan sama Hani, boleh ya Dad?"


"Boleh sayang, asal jangan temen cowok ya. Hati-hati di jalan, Daddy kerja dulu."


"Okay Dad, cepat pulang Ica rindu." Balas Ica, tapi hingga setengah jam menunggu, tak kunjung ada balasan dari Zen, mungkin pria itu sibuk kali ini.


...


"Sudah sampai Non.."


"Baik pak, terimakasih. Tunggu disini saja ya?"


"Saya di perintah tuan muda untuk mengikuti anda kemana pun." Tegas pria berbadan tegap itu.


"Begitu ya? Tapi nanti Ica mau ngobrol-ngobrol sama temen Ica, agak jauhan ya? Bisa kan?"


"Baik Nona, saya hanya memastikan tak ada yang membahayakan Nona, sesuai perintah tuan muda Zen." Jelas pria itu, membuat Ica mengerti. Meski pria itu tak ada, tapi dia benar-benar menjaga nya dengan ketat.


Ica berjalan memasuki mall, gadis itu celingukan mencari sahabat nya yang mengatakan dia sudah sampai.


"Ica.." Pekik Hani dari salah satu kedai kopi, dengan melambaikan tangan nya.


Ica pun menghampiri Hani dan duduk di berhadapan.


"Kusut amat Lu, nape?" Tanya Hani saat melihat ekspresi murung Ica.


"Daddy pergi keluar negeri, gue kesepian Han."


"Gitu doang? Lebay Lu, nanti juga dia balek kali." Celetuk Hani membuat Ica mendelik sebal.


"Gue kesepian Han, gue kangen pelukan hangat Daddy."


"Pergi nya kapan sih Ca?" Tanya Hani.


"Tadi pagi.." Jawab nya pelan.


"Aduhh, lu bucin amat sih bestie.." Ledek Hani sambil tertawa.

__ADS_1


"Lu kan jomblo, mana tau rasa nya nyaman sama laki-laki, apalagi laki nya setampan Daddy gue."


"Gue belom pernah lihat Daddy Lu Ca, lihat dong.." Pinta Hani.


"Gak ahh, nanti Lu naksir lagi."


"Elahh, kagak bakal. Ya kali gue ngerebut laki orang."


"Yaudah nih," Ica memberikan ponsel nya yang menampilkan poto Zen yang Ica ambil diam-diam.



"I-ini Daddy Lu Ca? Beneran?" Tanya Hani.


"Ya beneran lah anjirr, Lu kira gue tukang kibul apa?" Ketus Ica sambil merebut ponsel nya dari tangan sahabat nya.


"Gilaa, itu mah hot daddy Ca. Gilaa ganteng banget.."


"Lah kan udah gue bilang, Daddy gue ganteng masih muda. Baru 29 tahun.."


"Waww, dimana sih Lu ketemu cowok ganteng model ginian? Gue juga pengen njir kalo Daddy nya gitu mah." Celoteh Hani.


"Kan udah gue bilang Hani, ketemu nya gak sengaja."


"Gue masih gak percaya dia Daddy Lu Ca, ganteng banget.." Puji Hani.


"Jangan jadi pelakor, awas aja Lu."


"Baguslah, ehh btw bantu gue nyari tas yuk? Besok gue mulai kuliah."


"Gas kuy, tapi gue laper nanti traktir makan." Pinta Hani sambil cengengesan.


"Beres.."


"Gue becanda kali, kita emang makan tapi bayar masing-masing ya, atau giliran gue yang traktir Lu? Gue gajian kemaren."


"Widih, boleh lah.." Jawab Ica.


"Okey, sekarang kita nyari tas dulu buat Lu terus kita makan." Ajak Hani, dia menggandeng tangan Ica dan mereka pun berjalan bersisian menuju toko tas yang menjual berbagai macam tas sekolah.


Tapi, baru saja kedua nya akan masuk ke dalam store itu, tangan Ica di cekal oleh seseorang dari belakang.


"Hehh.."


Ica menatap orang itu dengan jengah, siapa lagi kalau bukan Meisya, kakak tiri yang tukang bikin masalah.


"Apa sih?" Tanya Ica tanpa ekspresi apapun alias datar.


"Minta duit sini.." Celetuk Meisya sambil menengadahkan tangan nya.

__ADS_1


"Emang nya Lu siapa sih? Kok minta duit sama temen gue?" Kali ini Hani yang menjawab, membuat Meisya mendelik tak suka.


"Gak usah ikut campur, gue kakak nya Ica."


"Ohh kakak tiri kan maksud Lo?" Tanya Hani, dia tau dengan jelas bagaimana cara Meisya memperlakukan Ica dulu.


"Gue gak ada urusan sama Lo ya, gue cuma mau minta uang sama adik tiri gak tau diri ini."


"Uang buat apa sih? Gue gak punya duit, adanya duit Daddy." Jawab Ica santai.


"Yaudah gapapa yang penting cuan, cepetan sini.."


"Nih..." Hani memberikan uang receh 2 ribuan ke tangan Meisya, membuat gadis itu mengamuk, dia melemparkan uang receh itu ke lantai.


"Gue gak level megang duit receh kayak gitu, gue mau yang merah!" Teriak nya, hingga memancing perhatian pengunjung lain.


"Itu juga uang say, kalau gak mau yaudah." Hani menarik tangan Ica, tapi Meisya belum menyerah. Dia menyusul Ica dan menarik rambut Ica dari belakang, hingga membuat gadis itu mendongak.


"Lepasin sakitt.."


"Sombong ya Lu, mentang-mentang punya laki orang kaya, lupa kalau orang tua Lu hidup susah."


"Orang tua ku sudah meninggal, itu ibu mu, bukan tanggung jawabku. Lagian aku tak punya hutang budi, selama ini perlakuan kalian sudah cukup untuk membalas budi karena menampung ku." Jawab Ica. Hani menepis tangan Meisya dengan keras, hingga membuat tangan gadis itu memerah dan terpaksa melepas tarikan rambut nya.


Meisya melayangkan tangan nya, bermaksud ingin menampar Ica, tapi tangan itu berhenti di udara.


"Jangan berani-berani menyakiti Nona muda, atau terima akibat nya." Anak buah Zen berdatangan, dengan tubuh tegap mereka dan seragam serba hitam membuat mereka terlihat menakutkan.


Mereka langsung berbaris melindungi Ica, menyembunyikan gadis itu di belakang punggung mereka.


"Tangan ini menarik rambut Nona muda tadi, jadi jangan salahkan kami jika kau akan menjerit kesakitan." Salah satu anak buah Zen memelintir tangan Meisya hingga terdengar suara tulang patah.


"Ahhh sakitt..." Jerit Meisya, hingga mengundang perhatian pengunjung mall. Tapi tak ada yang berani menghentikan aksi mereka, bahkan petugas keamanan pun hanya melihat dari kejauhan, tak berani mendekat, karena mereka tau siapa yang berani melakukan semua ini, siapa lagi kalau bukan Azzendra Grew Nicholas!


"Sekali lagi anda menyakiti atau menemui Nona muda, saya pastikan anda tinggal nama." Pria itu menghempaskan tangan Meisya dan wanita itu segera berlari menjauhi anak buah Zen.


"Nona tidak apa-apa?"


"Saya baik pak, terimakasih." Jawab Ica.


"Lanjutkan kegiatan Nona, kami berjaga disini."


Ica menganggukan kepala nya dan segera menarik tangan Hani yang masih bengong melihat betapa banyak nya pengawal yang mengawal Ica.


"Gilaa, pengawal yang jagain Lu selusin gini. Kayak lagi ngawal orang penting sekelas presiden."


"Diam lah, gue mana tau Daddy ngerahin anak buah nya sebanyak itu cuman buat jagain gue." Jawab Ica, dia pun segera memilih tas yang dia suka, tentu dengan berbagai saran dari Hani.


....

__ADS_1


🌷🌷🌷


Hihh si Meisya, gak ada kapok-kapok nya. Udah gagal goda Daddy Zen, sekarang ganggu Neng Ica, hadeuhh😪😪


__ADS_2