
Setelah pembicaraan dengan Zen kemarin sore, Arian semakin mantap untuk segera menikahi Meisya, meski tanpa mengantongi restu dari ibunya, namun tak masalah.
Arian pulang dengan wajah ceria nya, namun berbeda dengan situasi di paviliun. Meisya menangis dalam diam, tubuh nya menggigil dengan wajah yang dia sembunyikan di balik lutut.
Ketika pintu terbuka, dia bangkit dan langsung berlari memeluk Arian yang baru saja pulang bekerja shift malam.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Arian keheranan, tak biasa nya Meisya menyambut nya dengan cara ini. Biasanya perempuan itu menyambut kepulangan nya dengan senyuman manis yang membuat Arian bersemangat, namun kali ini malah sebaliknya.
"Yang, kenapa?" Tanya Arian lagi, namun Meisya masih belum menjawab, dia terus menangis di pelukan Arian.
Arian membiarkan saja perempuan nya itu menangis, setelah tangis nya mereda baru dia akan bertanya lagi, yang bisa dia lakukan saat ini hanya memberikan ketenangan, mengusap punggung perempuan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Mas.."
"Iya sayang, kamu kenapa? Mas datang langsung nangis."
"Ibu Mas.." Ucap Meisya ambigu, dia masih sesenggukan sisa tangis.
"Iya, ibu kenapa Sayang?" tanya Arian lagi.
"Ibu meninggal Mas."
Arian melotot, dengan raut wajah tak percaya. Dua hari lalu dia berkunjung bersama Meisya untuk melihat keadaan nya dan dia terlihat baik-baik saja, namun kabar yang saat ini di katakan oleh sang kekasih membuat nya terkejut.
"Meninggal? Tapi kita baru saja menjenguk nya kan? Dan dia terlihat baik-baik saja saat itu Sayang."
"A-aku juga gak tau kenapa Mas, kita harus kesana ya? Plis, aku pengen lihat Ibu untuk yang terakhir kali nya." Mohon Meisya, Arian tak tega, dia kembali meraih Meisya ke dalam pelukan nya.
"Tentu saja, tentu kita akan pergi Sayang. Ganti pakaian mu, biar Mas mengabari Tuan Zen dulu."
"Iya Mas." Jawab Meisya, perempuan itu berjalan pelan ke kamar dan mengganti pakaian nya, sedangkan Arian merogoh ponsel nya dan menghubungi nomor Zen.
__ADS_1
Zen juga sama terkejut nya dengan Arian, tadi malam dia mendapat kabar kalau wanita itu baik-baik saja, tapi pagi ini dia sudah terkapar tak bernyawa dengan darah yang menggenang, bisa di pastikan kematian nya bukan hal wajar.
Ica histeris, begitu juga Azwar putra sulung Ibu Sinta, mereka tak menyangka bahwa wanita itu kini sudah tiada. Apalagi bagi Azwar, niat nya menghukum ibunya karena kesalahan nya malah membuat dia cukup menyesal karena tak bisa melihat ibunya di saat-saat terakhir.
Semua nya pun berangkat, Arian bersama Meisya menaiki motor milik Arian, sedangkan Ica dan Zen naik mobil sendiri, begitu juga dengan Azwar dan Sintia yang memilih menyewa jasa taksi online.
Mereka datang di waktu yang hampir bersamaan, meski tetap saja Arian dan Meisya sampai lebih dulu karena memakai motor, lebih cepat dan bisa menyalip disaat macet, berbeda dengan mobil.
"Permisi Pak, apa benar tahanan atas nama Sinta telah meninggal?" Tanya Meisya.
"Sebentar Kak, saya cek dulu data-data nya."
"Betul, tahanan nomor 491 atas nama Sinta Medina telah meninggal tadi pagi jam tujuh, karena bunuh diri."
Jederr..
Bunuh diri? Benar tebakan Zen, kematian Sinta tak wajar.
"T-tapi kenapa Pak?"
Ica yang ada disana jelas terkejut saat namanya disebut.
"A-aku sudah memaafkan Ibu, pergilah dengan tenang." Gumam nya pelan, air mata nya luruh seketika.
"Keluarga tahanan 491 silahkan masuk." Semua orang pun masuk ke ruang gelap yang di yakini adalah ruang jenazah di penjara. Karena ini bukanlah satu-satunya kasus tahanan yang bunuh diri karena depresi atau putus asa.
Di depan mereka, sebuah kain putih terbentang. Darah masih mengucur dari luka sayatan di pergelangan tangan Sinta, sontak saja tangis mereka pecah seketika. Ruangan itu di penuhi dengan Isak tangis pertanda duka.
"Ibu.." Panggil Meisya, dia berlari mendekat dan membuka kain penutup wajah ibunya, dia melihat wajah Sinta yang sudah memucat.
"Maafin Mei, Bu. Selama Ibu hidup, mungkin Mei belum bisa bahagiain Ibu."
__ADS_1
Sedangkan Azwar hanya berdiri kaku di sisi kanan mayat ibu nya, tak bergerak atau bicara apapun, hanya air mata yang masih luruh. Beberapa kali dia menyeka air mata nya.
"Sayang, ayo kita urus pemakaman Ibu mu, agar dia tenang."
"Iya Mas." Jawab Meisya, dia berdiri meski dengan lutut bergetar nya, namun selalu ada Arian yang memberi nya kekuatan.
Mereka semua menyaksikan saat mayat Sinta di mandikan hingga di makamkan dengan layak, meski di iringi air mata yang terus mengalir dari ketiga putra putri nya.
'Ibu, Meisya ikhlas. Meisya berharap ibu bahagia di alam Ibu yang baru, beristirahat lah dengan tenang.' Batin Meisya.
......
🌷🌷🌷🌷
Mengandung bawang🤧
.....
TAWANAN CINTA PLAYBOY
(Thatya0316)
Thalia Rafika Azhari mencintai sahabatnya sendiri dalam diam. Meskipun dia tahu kalau sahabatnya itu merupakan seorang playboy. Namun, kedekatannya dengan Sandiaga Lancanter membuat Thalia tidak bisa berpaling dari rasa cintanya.
Hingga pada saat orang tuanya menjodohkan dia pada seorang lelaki pilihan keluarganya, Sandiaga merasa sangat terpukul sehingga dia mencari cara agar menggagalkan perjodohan itu.
Mungkinkah pernikahan Thalia berjalan sesuai rencana? Atau dia kembali bersama Sandiaga meskipun hanya sebagai sahabat? Ataukah keduanya sama-sama menyadari kalau memiliki cinta yang tersimpan rapi di hati untuk sahabatnya?
__ADS_1
jangan lupa mampir di karya temen author☺️🌷