
Setelah mengobrol dengan Zen, Bimo memutuskan untuk mengajak gadis nya pulang, karena belanja juga sudah selesai, tinggal makan dan di makan.
"Yang.."
"Iya Honey, ada apa?" Tanya Bimo sambil mengemudikan mobil nya menjauhi kawasan supermarket menuju warung bakso, karena Hani merengek ingin makan bakso katanya.
"Tadi sama tuan Zen ngomongin apa?"
"Cuma sedikit proyek, kenapa sayang?" Tanya Bimo lagi.
"Proyek apa yang harus di kerjakan secara rapi?" Bimo menegang, tapi sebisa mungkin dia harus tenang.
"Kamu menguping?"
"Hanya sedikit."
"Tak baik menguping pembicaraan orang lain Honey, ini hanya proyek yang cukup besar dan rahasia."
"Rahasia? Tapi apa? Apa tuan Zen akan membangun danau dengan bentuk hati?" Bimo tergelak mendengar celotehan gadis nya, bagaimana bisa menebak danau bentuk hati?
"Nanti semua orang akan tau setelah di resmikan sendiri oleh Tuan Zen, jadi tunggu saja waktu nya. Tinggal 2 hari lagi, karena proyek ini akan di resmikan tepat di hari ulang tahun Tuan Zen yang ke 30." Jelas Bimo. Hani menganggukan kepala nya, meski kurang yakin dengan jawaban Bimo, tapi dia tak mau tanya lebih dalam, karena dalam waktu dekat dia akan tau sendiri.
"Warung yang mana?"
"Yang itu, banner nya warna merah yang." Jawab Hani sambil menunjuk kedai bakso langganan nya bersama Ica dulu.
Kedua nya turun dengan saling berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih pada umum nya, mereka masuk ke kedai dan di sambut teriakan para pengunjung saat melihat wajah Bimo yang tampan bak aktor korea.
Hani langsung bad mood, dia memutar mata nya jengah, selalu saja begini jika bepergian dengan Bimo. Mereka juga teriak gak jelas, seakan belum pernah bertemu dengan manusia tampan saja.
"Kyakkk, ganteng banget gilaa.."
"Iya, kayak aktor korea di drama yang lagi viral itu lho, sekretaris nya Kang Tae Moo itu, lupa nama nya siapa."
"Ha Sunghoon." Celetuk gadis lain, membuat suasana hati Hani semakin memburuk.
"Kalian bisa diam? Berisik," Ucap Bimo datar membuat gadis-gadis itu diam seketika dan kembali fokus pada makanan mereka.
"Kita duduk dimana sayang?" Tanya Bimo pada Hani yang menunjukan ekspresi kesal nya.
"Terserah."
"Jadi makan disini sayang? Atau kita pindah ke warung lain?"
"Disini aja." Jawab Hani lalu ngeloyor meninggalkan Bimo yang masih heran dengan perubahan sikap gadis nya.
"Bang, bakso 3 porsi." Ucap Hani datar.
"3 porsi? Buat siapa aja?"
"Aku dua, kamu satu aja."
"Ohh oke sayang." Bimo duduk di samping Hani, meski di kedai sisi jalan raya tapi tempat nya nyaman dan rapih, pembeli nya juga ramai.
"Puas kamu di puja puji sama gadis-gadis itu hmm?"
"Ciee cemburu nih cerita nya?"
"Nggak kok siapa yang cemburu, cuma kesel aja."
"Kesel sama cemburu itu beda tipis sayangku." Bimo mencubit pelan kedua pipi Hani.
"Iya aku cemburu, selalu aja gini kalo jalan sama cowok ganteng."
"Aku memang ganteng sih." Bimo mengusap rambut klimis nya dengan bangga, membuat Hani makin kesal.
"Tapi, kamu kan perempuan yang beruntung dapetin cowok tampan ini sayang, harus nya kamu juga bangga."
"Aku lupa kalau kamu bucin sama aku, Sayang."
"Iya, aku memang bucin sama kamu, apalagi lubang sempit yang terjepit di antara paha mu itu sayang."
"Issshhh jangan mesoom, tau tempat dong." Kesal Hani sambil mencubit pelan perut kotak-kotak Bimo.
"Sayangg, sakiittt.."
"Rasain, siapa suruh mesoom terus." Ketus Hani. Tak lama bakso pesanan Hani pun datang, mereka langsung makan dengan lahap. Meski beberapa kali Hani menggerutu karena Bimo melarang nya memakai cabe pada bakso nya.
__ADS_1
.....
Di mansion Ica sedang menangis karena menyesal sudah marah pada Zen. Tadi mereka sempat berdebat setelah pulang dari kantor, berawal dari pembahasan random Ica yang berujung pada tidak kesamaan pendapat yang membuat kedua nya kesal, akhirnya terjadi lah pertengkaran.
"Daddyy.." Gumam Ica sambil tergugu karena tangisan nya.
"Dia pasti marah sama aku kan? Aku nyesel Dad."
Pintu terbuka, Zen datang dengan menenteng kresek di tangan nya. Dia mendekat ke arah ranjang setelah meletakan kresek itu di meja nakas.
"Baby.."
"Daddy sudah pulang? Aaaa maafin Ica Dad." Ica menghambur ke pelukan Zen, begitu pun pria itu yang langsung menyambut pelukan sang gadis.
"Ica minta maaf Dad."
"Daddy sudah maafin kamu kok," Ica mendongak, membuat Zen terkekeh karena mata Ica yang membengkak karena terlalu lama menangis.
"Kamu sudah lama menangis sayang? Sudah hentikan, Daddy paling tak suka melihat kamu menangis. Maafin Daddy juga ya, harus nya tadi Daddy gak ninggalin kamu sendirian."
"Daddy habis darimana? Gak ajakin Ica."
"Dari supermarket, ngopi terus pulang."
"Supermarket? Kalau tau gitu Ica nitip toppoki instan."
"Daddy udah beliin di restoran Korea,"
"Seriusan Dad?"
"Siapa yang bohong? Tuhh di meja, makan ya?"
"Makasih Daddy, Love you."
"Love you too sayang, cium dulu dong." Pinta Zen sambil menyodorkan pipi nya. Ica mengecup singkat pipi Zen dan juga bibir nya dengan lembut.
"Baby makan dulu, Daddy mau mandi dulu."
"Iya Dad, makasih ya." Zen hanya menganggukkan kepala nya dan berjalan pelan ke kamar mandi. Semudah itu membuat mood gadis nya kembali, hanya butuh makanan yang dia suka, gadis itu pasti akan langsung luluh, cara ini sangat efektif.
Ica memakan toppoki itu dengan lahap, meski beberapa kali mengipasi mulut nya karena panas, tapi itu tak menyurutkan nya untuk memakan makanan khas Korea itu.
.....
"Nih cowok napa sih? Bikin salting terus dari tadi." Batin Risya, tak di pungkiri kalau Brian nampak sangat tampan saat ini.
"Sya.."
"Apa? Lu gak pulang?"
"Ngusir? Tadi yang ngajakin gue mampir kan Elu, Sya."
"Mana gue tau kalo Lu bakal kurang ajar sama gue. Sebar-bar nya gue, gue tetep anak gadis Brian."
"Ya kan gue gak perkosaa Lu Sya, cuma nyipokk doang, itu pun bentaran." Jawab Brian membuat Risya kesal dan menepuk keras kening Brian.
"Sakiit Risya, maen kekerasan mulu dari tadi. Gak bisa gitu bersikap lembut sama gue?"
"Malesin banget lembutin Elu yang kurang ajar, berani banget cium gue."
"Iya gue minta maaf Risya, tapi bibir Lo enak sih, manis." Jawab Brian, lagi-lagi membuat Risya mendaratkan pukulan nya pada Brian.
"Sakitt Sya.."
"Siapa suruh mesoom terus, nyebelin Lu lama-lama."
"Gue pengen nyentuh itu, boleh gak sih?" Tanya Brian.
"Apaan?"
"Itu lho buah pepaya."
"Mana ada pepaya disini Bri, jangan ngaco. Lagian gue gak suka buah pepaya."
"Itu yang di dada Lu kan buah pepaya." Risya refleks menatap buah kenyal nya yang rupa nya sedang di tatap penuh minat oleh Brian.
"Mesoom banget ihh.." Risya menimpuk kepala Brian dengan bantal sofa.
__ADS_1
"Ya semua cowok pasti mesoom semua Sya, jangan nyalahin naluri nya, salahin tuh cara Lu pake baju, ketat bener."
"Gue di rumah emang kek gini, biasa nya Lu kan gak mesoom gini. Kalau tau gini, gue pake daster sekalian."
"Lebih bagus pake daster emang Sya, gampang tinggal di naikin doang."
"Astaga, cowok apaan yang udah gue ajak mampir, sialan banget." Gumam Risya.
"Boleh gak?"
"Apanya?"
"Nyentuh buah.."
"Kagak, ini buat suami gue nanti."
"Gue yang bakal jadi suami Lo, Sya."
"Jangan mimpi, sana balik. Keberadaan Lu udah gak di terima disini, empet gue lama-lama liat muka Lu."
"Gue pulang asal ciuman dulu."
"Gak." Jawab Risya singkat, mana ketus lagi.
Brian bangun dari rebahan nya dan merangkul pundak Risya, mengusap tengkuk gadis itu, lalu menekan nya dan perlahan mencium bibir nya lagi.
Risya membulatkan mata nya, dia ingin melepaskan ciuman Brian, tapi terlambat karena tengkuk nya di tekan oleh Brian.
Lama kelamaan, Risya mulai hanyut oleh ciuman hangat Brian, dia mulai menikmati sensasi lembut nya hingga memejamkan kedua mata nya.
Hingga Brian menggigit bibir nya cukup kuat, membuat nya memekik dan sensasi aneh pun terasa, lidah pria itu bergerak-gerak di dalam mulut nya, aneh tapi nikmat dan membuat ketagihan.
Beberapa menit kemudian, Brian melepaskan ciuman nya, dia mengusap bibir Risya yang basah karena ulah nya, dan mengecup singkat bibir itu sebagai akhir.
"Makasih, aku pulang dulu." Brian membingkai wajah Risya, bahkan pria itu tak segan melayangkan kecupan mesra di kening Risya.
"Eemm.. Hati-hati di jalan." Ucap Risya gugup, dia malu setengah mati saat Brian tau kalau dia juga menikmati ciuman itu.
"Jangan lupa makan ya Sya, kalo ada apa-apa langsung telepon gue." Risya hanya menjawab nya dengan anggukan kepala, dia tak sanggup bicara dengan pria itu sekarang.
Brian menaiki motor sport nya dan meninggalkan rumah Risya.
"Aduhhh, kenapa gue malah nikmatin ciuman Brian sihh? Kan tengsin." Rutuk Risya sambil menepuk-nepuk kepala nya, menyadari kebodohannya. Harus nya dia melawan tadi, bukan malah menikmati ciuman Brian.
....
Azwar sedang menikmati malam nya dengan berteman kan angin malam, dia menatap bintang yang terlihat menghiasi langit dengan cahaya terang nya.
Azwar melihat beberapa pasangan juga sedang menikmati waktu mereka dengan orang yang paling mereka sayang, hanya dia yang sendirian di tempat ini.
Dia kembali mengingat gadis yang dulu pernah mengisi hati nya, hati nya bertanya-tanya apakah gadis itu menepati janji nya untuk tetap sendiri sebelum dia selesai dengan kuliah nya? Tapi entahlah, hati manusia mudah berubah sesuai keinginan, jadi Azwar kurang yakin kalau gadis yang dia cintai masih sendiri.
"Permisi kak, ini kopi pesanan anda dan juga roti kayu manis." Azwar menoleh, seketika itu juga kedua mata nya membulat, begitu pun dengan gadis itu.
"Sintia?"
"A-azwar? Ini benaran kamu?"
"Iya, ini aku. Kamu kerja disini?"
"Haha, iya. Aku butuh uang buat biaya sehari-hari."
"Bisa kita bicara 4 mata saja?"
"Eemmm, mungkin setelah bekerja nanti. Aku karyawan baru disini, tak enak kalau harus izin."
"Baiklah, aku tunggu. Silahkan bekerja lagi." Gadis bernama Sintia itu mengangguk dan pergi menjauh dari depan Azwar.
Azwar tersenyum, dia di pertemukan dengan mantan kekasih nya oleh takdir. Dia tak menyangka akan bertemu Sintia di tempat ini, disaat dia sudah tak berharap banyak akan kehadiran gadis yang pernah mengisi kekosongan hati nya.
Gadis itu masih nampak cantik dan tak banyak berubah, hanya saja dulu rambut nya pendek, sekarang rambut nya panjang bergelombang.
....
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Visual Sintia (Bae Hee Woo)